Mengamati orang-orang yang selalu menggunakan KRL sebagai angkutan umum menjadi pengalaman unik. Tiap hari orang yang memilih moda transportasi umum KRL ini makin banyak jumlahnya, lantaran murah dan relatif tepat waktu dibanding moda transportasi lainnya. Tak heran jika orang makin rela berjejal-jejal setiap hari demi perjalanan yang lancar, bebas dari kemacetan lalu lintas.
Tapi ada satu fenomena yang membuat saya makin sinis sekaligus prihatin. Setiap kali saya berada di tengah kereta yang penuh sesak, kata-kata “Permisi, ibu hamil” membuat saya makin muak dan sinis. Kata-kata itu menyusahkan orang banyak, karena harus memberi celah di tengah kesesakan dan merebut tempat duduk orang lain. Seolah semua harus mengasihani mereka. Bukan saya tidak respek dengan ibu hamil, tapi sikap irasional mereka yang membuat saya sinis. Sudah tahu kereta penuh sesak di luar batas wajar, sudah tahu sedang hamil dengan perut buncit dan rentan, tapi masih memaksakan diri naik.
Menurut data, ada hampir 1 juta orang penumpang KRL per hari di Jabodetabek dengan jumlah keberangkatan 1.054 per hari. Kapasitas maksimum tiap gerbong 250 penumpang baik yang duduk maupun berdiri. Kenyataannya, dalam rangkaian 10 gerbong di jam sibuk pagi dan sore, kapasitasnya diperkirakan bisa meningkat ekstrem antara 300 hingga 400 penumpang. Tak heran kalau dalam kondisi seperti cendol hidup seperti itu, para penumpang sangat mustahil bisa menggeser kakinya, sekalipun hanya sejengkal.
Dalam situasi gerbong yang penuh sesak semacam itu, masih banyak orang yang memaksakan diri untuk tetap masuk, termasuk perempuan hamil. Saat masuk, mereka langsung teriak, “Permisi, ibu hamil.” Ungkapan itu sangat intimidatif dan mengancam untuk menarik belas kasihan orang agar memberikan tempat duduk prioritas bagi ibu hamil. Jangankan beranjak, menggeserkan tapak kaki pun susah, kok masih memaksa minta duduk. Dan herannya, mereka seolah tidak peduli. Kata terima kasih pun jarang saya dengar ketika mereka diberi tempat duduk. Seolah mereka layak dikasihani meski situasinya ekstrem seperti itu. Mereka mengemis belas kasihan di tengah kesesakan. Malah kadang saya anggap seperti begal kursi.
Saya bukannya tidak menghormati perempuan hamil, tapi dalam kondisi seperti itu saya selalu pasang muka sinis. Harusnya kalau mereka punya akal sehat dan rasional, mereka tidak akan memaksakan diri naik kereta yang penuh sesak seperti cendol hidup. Mereka harusnya tahu diri, kalau kehadirannya dan tuntutan atas hak istimewa mereka akan menyusahkan banyak orang. Sungguh di luar nalar normal ketika melihat orang yang memaksakan diri dan memohon belas kasihan di tengah kesesakan.
Apa salahnya mereka menunggu 10 menit pada jadwal keberangkatan berikutnya? Toh setiap 10 menit ada jadwal kereta dan biasanya lebih lega. Mereka harusnya memakai akal warasnya agar tidak menyusahkan orang lain. Seolah kata ‘menunggu’ tidak ada dalam kamus hidupnya. Memang saya sadar, dalam hidup keseharian orang urban seperti di Jakarta, menunggu itu adalah kata yang diemohi. Di tengah kehidupan yang serba cepat dan terburu-buru, kata menunggu seolah jadi musuh yang harus dihindari. Semua menuntut cepat dan tepat waktu dengan terburu-buru.
Orang yang hidup di kota besar sudah lupa pepatah lama, “Biar lambat asal selamat” karena gaya hidup yang serba tergesa-gesa. Menunggu 10 menit jadwal kereta, jadwal rapat, jam pulang, jam makan, atau waktu lainnya dianggap sangat menyiksa. Menunggu pesanan menu 10 menit di restoran sudah cukup jadi alasan untuk marah dan komplain. Jangankan menunggu 10 menit, menunggu lampu hijau 2 menit di perempatan saja membuat orang hilang kesabaran. Mereka melanggar lampu lalu lintas, seolah ingin bersaing dengan mitos kucing yang punya 9 nyawa. Akal sehatnya sudah hilang saat tergesa.
Padahal kalau mau menunggu 10 menit saja, otak kita masih berfungsi lumayan normal. Akal jalan. Rasio jalan. Pikiran jalan. Emosi teredam sejenak. Sayangnya, kemampuan otak dan kesadaran manusia yang super hebat itu lebih sering diparkir di pojokan gelap. Yang dikedepankan rasa dan emosi impulsif sehingga kelakuannya lebih banyak di luar nalar dan akal sehat. Itulah potret kecil bangsa kita, terutama yang tinggal di kota besar.
Kesabaran semakin menjadi barang langka bagi kebanyakan orang yang hidup di jaman yang bergerak serbacepat ini. Orang yang sabar dikatakan lamban dan tidak mau maju. Tapi, orang-orang yang selalu tidak sabar dan terburu-buru malah dianggap orang yang selalu tepat waktu, progresif, visioner, bergerak maju dan adaptif terhadap kemajuan jaman. Padahal banyak juga ketergesaan yang berujung penyesalan dan kehancuran.
Ketidaksabaran adalah bentuk dari ketakutan karena takut kehilangan kendali, takut ketinggalah. Kata-kata filsuf dan negarawan Romawi kuno, Seneca, ini masih relevan sampai hari ini. Orang-orang yang tidak mau menunggu 10 menit adalah orang yang tidak sabar dan ingin buru-buru. Padahal orang terburu-buru itu bukan karena hebat, tapi karena takut. Takut terlambat, takut dimarahi atasan, pasangan, teman, rekan bisnis. Orang terburu-buru itu takut dianggap tidak relevan, takut tidak diakui.
Ada banyak contoh ketika orang mau bersabar, ujungnya akan berbuah manis. Orang yang sabar menjalani proses, bukan sekadar menunggu dan diam, akan mendapati hasil yang lebih memuaskan. Aristoteles 322 tahun Sebelum Masehi sudah mengatakan, “Kesabaran itu pahit, tapi buahnya manis.” Hidup itu bukan hal instan, tapi selalu ada proses. Sayangnya, orang tidak sabar menjalani proses dan mau merasakan pahit. Mereka kebanyakan protes saat berproses, dan tidak mau menunggu, sekalipun hanya 10 menit. ***

Leave a comment