Saya pernah mengamati kodok darat yang punya mekanisme pertahanan dengan menggembungkan tubuhnya saat terancam bahaya. Saya, meskipun takut setengah mati dengan kodok, sering ketawa melihat tingkahnya yang sok, seolah-olah merasa hebat dengan mengangkat tubuhnya yang gembung. Saya tambah geli ketika suatu hari saya melihat ada seekor kodok tanah yang iseng merangkak naik ke pohon kelapa. Saya amati kodok penuh gaya yang mau naik pohon itu. Meski tertatih, akhirnya kodok itu bisa sampai di sebuah lubang yang dibuat manusia untuk pijakan kaki saat orang memanjat pohon kelapa. Rupanya dia ingin mencari tempat aman.
Meski saya tertawa, saya kagum juga dengan semangat kodok itu. Ia merangkak, memanjat pohon langkah demi langkah di siang hari bolong. Meski beberapa kali terpeleset turun, ia tetap ngotot naik lagi hingga akhirnya sampai di lubang cerukan batang pohon kelapa itu. Mungkin kalau ada teman-teman kodok sejenis, mereka ikut menertawakan ulah temannya yang iseng naik pohon kelapa. Kalau ini benar, berarti saya sedang tertawa bareng kodok-kodok lain yang menertawakan kodok iseng tapi hebat itu. Entahlah.
Dari sana saya sebagai manusia, bukan sebagai kodok, bisa belajar tentang hidup. Kadang kita suka iseng dengan melakukan hal yang bagi orang lain mustahil atau tak masuk akal. Entah itu soal mimpi, ambisi, pekerjaan, hobi, atau inisiatif lain yang mungkin kurang lazim. Karena aneh, maka teman, keluarga, atau masyarakat akan menertawakan impian atau inisiatif kita yang tak lazim itu. Persis saat kodok-kodok darat menertawakan temannya yang iseng memanjat pohon kelapa.
Di momen langka seperti itu, keteguhan atas niat iseng kita diuji. Ketabahan dan ketahanan mental kita dites. Telinga dan mata kita juga ikut diuji. Hati dan pikiran kita pun diuji di tengah cemoohan, cibiran, tertawaan, ejekan, yang dilontarkan orang lain. Sudah banyak contoh orang yang gagal dan rontok di tengah jalan ketika mimpinya ditertawakan dan dicemooh orang lain. Mungkin orang-orang yang gagal itu tidak kuat menutup telinga dan mempertebal mentalnya. Mereka sudah jatuh dan gagal di tengah jalan bukan karena beratnya medan perang, tapi karena tak tahan mendengar cibiran orang lain.
Hanya orang-orang yang punya muka tebal, mental baja, kuping budeg, hati dan pikiran fokus yang akhirnya bisa berhasil mencapai puncak impiannya. Persis seperti kodok darat yang iseng memanjat pohon kelapa tadi. Saya punya banyak teman dan kenalan yang seperti kodok iseng ini. Mereka bisa sukses dan berhasil, salah satunya karena mereka gigih sambil menutup telinga terhadap cemoohan orang.
Tertawaan, sindiran, cemoohan dari orang lain adalah hal negatif yang bisa meracuni pikiran kita. Kalau dibiarkan, suara-suara negatif itu akan menjalar seperti racun ular berbisa dalam tubuh kita. Semua tergantung kita, peduli dengan kata orang, atau fokus pada impian dan tujuan kita. Semua tergantung kita. Kalau kita mau membuat telinga kita tuli sejenak, maka cemoohan itu tidak akan pernah meracuni mental kita. Kata orang bijak, tutuplah dan tulikan telingamu karena cemoohan itu membuatmu terhambat untuk maju dan berkembang. Paling gampang, jadilah tuli seperti kodok darat dalam cerita saya tadi.
Saya belajar juga dari apa yang dikatakan seorang mantan presiden India, APJ Abdul Kalam. “Biarkan mereka menghakimi Anda. Biarkan mereka salah memahami Anda. Biarkan mereka bergunjing tentang Anda. Apa yang mereka pikirkan bukan masalah Anda. Tetaplah berbuat baik, tetaplah mencintai apa yang Anda lakukan, dan tetaplah bersikap otentik seperti apa adanya. Jangan pedulikan apa yang mereka lakukan atau yang mereka katakan tentang Anda. Anda tidak boleh meragukan diri sendiri bahwa Anda layak terhadap kebenaran Anda. Buatlah Anda terus bersinar dengan apa yang Anda lakukan.”
Saya akan ingat peristiwa kodok iseng tadi. Bahwa menolak hal negatif itu bukan berarti mengabaikan realitas. Menolak suara sumbang dari luar adalah tentang bagaimana kita tetap fokus pada energi kita untuk tetap tumbuh dan menjadi lebih baik saat mengejar impian. Kita tak perlu malu belajar dari kodok yang memanjat pohon kelapa. Kita bisa belajar seperti kodok yang menulikan diri demi mengejar impian kita. ***

Leave a comment