SIAPA YANG BELUM KAMU MAAFKAN?
Saya pernah bekerja di lingkungan yang cukup toxic yang secara mental kurang sehat. Bagaimana tidak, atasan sering marah-marah tanpa alasan logis. Anak-anak muda yang seharusnya melayani, tapi gampang tersinggung dan ngambek, baper. Orang-orang yang sulit merasa cukup sehingga harus minta dikasihani. Semua berada di dalam satu lingkaran pekerjaan yang sesungguhnya mulia bagi kemaslahatan bersama, tapi suasana itu menyesakkan. Sayangnya saya belum punya keberanian untuk bertanya pada orang-orang itu, “Kira-kira siapa yang belum bisa Bapak maafkan ya?”
Pernahkah Anda merasa mudah tersinggung, gampang marah, baper, sering cemas tanpa alasan jelas, atau rasanya sulit sekali merasa cukup? Sebelum Anda menyalahkan beban kerja atau keadaan, coba luangkan waktu sejenak dan tanyakan pada diri sendiri, “Siapa yang belum saya maafkan?” Bagi saya ini pertanyaan reflektif yang menarik yang kesannya tidak ada hubungannya. Padahal secara sains ternyata ada korelasi kuat antara sikap memaafkan, struktur otak dan syaraf, dan kesehatan jiwa dan raga.
Tapi, saya menyadari, memaafkan itu bukan hal mudah, karena kita masih mengingat bekas lubang paku yang pernah tergores atau terbenam di hati kita. Menurut Johann Arnold dalam bukunya Why Forgive?, soal sakit hati itu yang disebabkan pikiran atau nyata, efeknya tetap sama. Ketika rasa sakit hati, apalagi rasa dendam dan benci itu tertanam, maka dia akan memakan tubuh kita dan merusak segala hal yang ada di sekitar kita. Hebatnya, orang-orang yang menyimpan dendam dan sakit hati punya ingatan yang sangat luar biasa. Setiap detail terkecil penyebabnya terekam kuat. Pikirannya jadi semacam katalog penyebab sakit hati yang setiap saat bisa dibuka untuk dipertontonkan kepada orang lain betapa sakitnya hati kita.
Banyak dari kita tumbuh dengan pemahaman bahwa memaafkan adalah tindakan moral atau kewajiban spiritual. Apalagi dalam banyak ajaran agama, kita diajari keutamaan tentang memaafkan dan minta maaf. Kita diajarkan untuk memaafkan demi kebaikan orang lain. Namun, jika kita menanggalkan kacamata agama dan melongoknya dari sudut pandang sains dan neurosains, realitasnya jauh lebih mengejutkan. Ternyata memaafkan sama sekali bukan hadiah untuk orang yang menyakiti kita. Memaafkan adalah hadiah bio-fisiologis terbaik untuk diri kita sendiri.
Logikanya menurut sains, saat kita menyimpan dendam atau membayangkan kesalahan seseorang berulang kali, otak kita tidak tahu bedanya antara ingatan dan kejadian nyata. Otak kita tidak bisa membedakan yang baik dan buruk, yang baik dan jahat. Rasa sakit hati dan dendam itu membuat bagian otak kita yang disebut amygdala menjadi histeris dan selalu siaga penuh. Amygdala adalah bagian otak yang menjadi pusat pemroses rasa takut dan ancaman yang akan terus-menerus aktif saat ada ancaman, termasuk rasa sakit hati dan dendam itu.
Rasa dendam dan sakit hati bukan sekadar tentang perasaan kesal. Memelihara dendam secara kronis merusak imunitas tubuh, mengacaukan pola tidur, memicu peradangan sistemik, bahkan mempercepat penuaan dini. Dendam adalah racun yang kita minum sendiri, tetapi kita berharap orang lain yang mati.
Akibatnya, sistem saraf simpatik kita akan terperangkap dalam mode melawan atau lari, (fight or flight). Hormon stres, kortisol dan adrenalin, terus meningkat. Dari sudut pandang ilmu saraf atau neurosains, sikap kita persis seperti seekor hewan di alam liar yang merasa sedang diincar oleh predator 24 jam sehari. Bawaan kita akan curiga, tidak aman, tidak nyaman, selalu merasa terancam, dan siaga penuh. Hal ini memunculkan badai kimia dalam tubuh karena tubuh dipenuhi hormon kortisol dan adrenalin secara terus-menerus.
Lalu, apa yang terjadi saat kita akhirnya berani memutuskan untuk memaafkan? Memaafkan itu tidak harus secara terbuka, tapi bisa saja ucapan dalam hati bahwa kita sudah memaafkan orang yang menyakiti kita. Memaafkan tidak hanya untuk orang lain, tapi juga untuk diri sendiri. Seketika, peta elektromagnetik otak kita berubah. Bagian otak depan, yang bahasa ilmiahnya disebut prefrontal cortex, yang bertanggung jawab atas logika, empati, dan pengambilan keputusan mulai menyala terang dan bekerja lebih seimbang. Ketegangan amygdala pun menurun, karena sinyal siaga terhadap ancaman palsu sudah padam. Tubuh akhirnya mendapatkan lampu hijau bahwa keadaan sudah aman.
Fase berikutnya, tubuh kita statusnya turun dari siaga 1 dan mode bertahan ke mode pemulihan. Hormon tubuh yang baik pun bermunculan. Penyembuhan diri dan sistem imun mulai bekerja merapikan kerusakan saraf dan sel-sel baru yang sempat terjadi. Maka, dalam pandangan sains, memaafkan ternyata menjadi tindakan untuk penyembuhan diri secara mandiri (self-healing). Ini sudah menghemat ongkos untuk hiling dengan halan-halan.
Ketika kita mampu dan berani memaafkan, ada perubahan yang terjadi dalam saraf otak, karena otak punya kemampuan untuk mengubah struktur fisiknya berdasarkan pengalaman dan pilihan pikiran kita. Setiap kali kita memilih untuk melepaskan sakit hati, baik itu luka masa lalu, ketegangan dengan rekan kerja, atau momen ketika kita berdamai dan memperbaiki hubungan dengan orang tua, anak, teman, otak kita merespons secara nyata. Saraf-saraf lama yang menyimpan pola kemarahan mulai melemah. Di otak lalu muncul koneksi saraf baru yang menciptakan ketenangan dan empati. Otak kita secara fisik membentuk sirkuit baru yang membuat kita lebih tangguh, lebih tenang, dan lebih bahagia di masa depan, karena sudah melepaskan rasa sakit hati dan dendam.
Memaafkan tidak berarti kita membenarkan perbuatan salah orang lain, atau bersenang-senang kembali dengan mereka yang melukai hati dan pikiran kita. Memaafkan diri sendiri bukan berarti kita lemah, tapi tanda kedewasaan mental kita. Memaafkan adalah keputusan sadar untuk merebut kembali kendali atas sistem saraf kita sendiri. Agar otak kita tidak rusak, tubuh tidak sakit, coba kita tanyakan, siapa yang belum kita maafkan. ***

Leave a comment