Politics

APAKAH BERSYUKUR MASIH MANJUR? 

Entah diakui atau tidak, negeri kita terasa makin hancur tatanannya. Tatanan negara makin ngawur karena kebijakan tak terukur. Tatanan norma dan moral juga semakin ambyar. Apalagi tatanan ekonomi, hancur gegara janji-janji politik. Entah rakyat mau menyadari atau tidak, fakta itu sedang terjadi. Kelaliman sedang berlangsung. Rakyat selalu dijadikan korban dan objek penderita. 

Ketika saya berada di Labuan Bajo, sebuah destinasi wisata yang mulai mendunia, saya menemui pemandangan yang ironis. Saya merasa miris melihat antrean kendaraan yang panjang hanya untuk mengisi bahan bakar kendaraan. Antrean itu tidak hanya hitungan jam, tapi bisa berhari-hari. Solar dan bensin habis. Kendaraan roda empat dan roda dua mengular panjang untuk menguji kesabaran agar tetap bisa bergerak. Pasokan dan kebutuhan selalu tak berimbang, dan selalu terulang tanpa pernah membuat masyarakat tenang. Berapa lama waktu produktif terbuang hanya demi mendapatkan bahan bakar? Berapa  potensi kerugian ekonomi akibat kelangkaan baham bakar yang tak pernah ada perbaikan itu? Anehnya rakyat disuruh diam. Kalau berteriak bahkan dibungkam, meski masa depan makin kusam. 

Saya miris melihat pemandangan di Labuan Bajo itu. Saya tak sendiri. Sahabat saya yang bekerja di Singapura juga merasa geram melihat bangsanya kini harus berjuang agar tetap hidup. Sementara bangsa lain sudah semakin maju agar bisa bersaing di abad teknologi kecerdasan buatan. Saya mencoba mengutip kekesalannya di pesan tertulis:

“Kata ‘Bersyukur’ di Konoha tuh udah berubah fungsi jadi dogma pembungkaman. Penguasa bebas bertindak sewenang-wenang, lalu rakyat dibungkam pakai narasi ‘masih mending dibanding negara lain’. Rakyat dipaksa me-romantisasi penderitaan di titik nol biar para elite bisa tetap nyaman dijunjung tinggi. Tiap kali ada kebijakan ngawur, harga beras naik, pajak diroketkan, atau fasilitas publik hancur-hancuran, mantra sakti yang disuntikkan ke rakyat selalu sama: ‘Ayo bersyukur, yang penting masih bisa bernapas dan makan tiwul!’ Selalu seperti itu, setiap kali rakyat udah kepepet dan teriak karena hidup makin susah, senjata andalan para penguasa adalah mendadak jadi penceramah dan nyuruh rakyatnya ‘banyak-banyak bersyukur’ .

Dogma bersyukur dijadikan ‘obat bius’ biar rakyat punya toleransi rasa sakit yang tinggi. Jadi mau diperas kayak gimana pun, mau digusur, atau ditumpuki utang negara, rakyatnya cuma bisa mengelus dada sambil senyum pasrah: ‘Gapapa, ini ujian, yang penting bersyukur.’ Lama-lama sadar, doktrin ‘bersyukur’ ini tuh udah di-rebrand jadi narkoba spiritual paling ampuh biar rakyat tetap pasrah, nurut, dan nerima nasib pas lagi dikuras habis-habisan. Rakyat dipaksa betah dan romantis di titik nol, sementara para penguasa pesta pora di titik triliunan.

Penjajahan paling efektif itu emang bukan pake rudal atau roket lagi, tapi pake doktrin kepasrahan. Peras rakyatnya sampai ke titik nol, lalu puji mereka sebagai ‘rakyat paling ramah dan penyabar’. Parahnya lagi korban yang dijajah dibikin merasa berdosa kalau mereka protes atas penderitaannya sendiri . Ternyata di negara ini, ‘bersyukur’ bukan cuma bentuk ibadah, tapi strategi pertahanan paling genius dari penguasa biar penjajahan gaya baru berjalan tanpa ada perlawanan.”


Saya mengamini ungkapan kekesalan dan kekritisan sahabat saya lewat tulisan pesan itu. Kita hidup di negeri penuh agama dengan atribut negara paling religius. Ajaran agama dan dogma bukan lagi menjadi tuntunan moral, tapi dijadikan alat efektif untuk meracuni orang-orang yang mengaku beragama tapi hanya pasrah, tidak kritis lagi logikanya. Para pengikutnya dicekoki dengan doktrin kepasrahan, rasa takut dosa dan neraka, di tengah neraka buatan yang diciptakan oleh negara dan penguasa. Ajaran agama dijadikan narkoba spiritual agar rakyat diam, fly, mabuk kepayang, meski sedang berada di tengah penderitaan. Kasarnya, lapar tidak masalah, asalkan tetap saleh dan religius. Sementara para penjahat dan perampok hak rakyat tetap leluasa memuaskan syahwat jahatnya. 

Bersyukur saja tidak cukup manjur untuk tetap hidup di tengah situasi negara saat ini. Menjadi religius juga tidak akan menambah kenyang perut-perut yang lapar, atau melunasi hutang sewa kontrakan. Kita semua diciptakan dengan otak reptil. Prinsipnya fight or flight. Bertarung atau lari. Kalau mau tetap hidup hanya ada dua kemungkinan itu, bertarung atau lari. Berjuang mencari penghidupan, atau lari dari kenyataan. Itulah opsinya. 

Saya masih menaruh hormat pada orang-orang Indonesia yang meski sudah merantau dan hidup enak di negeri orang, mereka masih peduli dan bahkan emosi dengan keadaan negeri saat ini. Mereka ibaratnya menjadi penonton sirkus sadis seperti jaman Romawi kuno. Mereka duduk di tribun. Sementara tim Indonesia sedang berlaga sebagai gladiator yang harus bertempur hidup dan mati melawan penguasa lalim dan singa-singa haus darah rakyat. Tapi mereka tidak berteriak kegirangan. Mereka, termasuk sahabat saya, sedang menangis dan menghujat penyelenggara pertandingan yang korup dan haus harta, tahta. Itulah Indonesia saat ini, ketika masyarakatnya tetap disuruh bersyukur, meski sedang dipaksa untuk menjadi gladiator yang harus bertarung antara hidup dan mati.***

One thought on “Politics

Add yours

  1. well-said, ini adalah titik nadir rasa cinta pada tanah air.. Kalau ada yang comment, “Ask not what your country do for you – ask what you can do for your country” pengen napuk ae, bayar pajak terus kiy yo iso anyel nek pemerintah e nggragas 🙂

    Like

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑