Inspiration

MENGHARGAI MILIK SENDIRI

Saya kenal dengan orang yang bawaannya selalu merasa kurang. Padahal faktanya punya anak tiga yang berbakti, pasangan, usaha, dagangan, rumah, tanah, dua mobil. Matanya lupa melihat semua yang dipunyai. Mulutnya selalu lupa melafalkan syukur. Yang muncul akhirnya hidupnya selalu merasa kurang dan makin kurang, karena selalu merasa tidak punya uang. Bawaannya selalu seperti korban kehidupan dan merasa jadi orang paling miskin, tak pernah beruntung. Saya yakin ada banyak orang yang semacam ini di sekitar kita. Hidupnya penuh keluhan, kekurangan, kemalangan dan semua diamini oleh Sang Maha Kaya. 

​Ada sebuah kisah dari Oprah Winfrey, aktris, pembawa acara talk show kondang di Amerika, yang menarik untuk kita renungkan. Sebelum menjadi salah satu perempuan paling berpengaruh di dunia, ia memulai kebiasaan sederhana yang mengubah jalan hidupnya. Oprah punya kebiasaan menuliskan lima hal yang ia syukuri setiap hari dalam sebuah jurnal. Di masa-masa sulitnya, yang ia tulis bukanlah pencapaian besar, melainkan hal-hal kecil seperti “berjalan di bawah rindangnya pohon” atau “makan melon yang manis”. Oprah membuktikan sebuah hukum semesta yang luar biasa.  Ketika kita berfokus pada apa yang kita miliki, ruang di dalam hati kita meluas, dan entah bagaimana, hidup justru mendatangkan lebih banyak kelimpahan dan hal baik yang patut untuk disyukuri.

​Sebaliknya, saat mata kita selalu tertuju pada apa yang belum ada, kita seperti orang yang mencoba mengisi ember bocor. Orang yang lupa bersyukur dan menghargai apa yang sudah dimiliki itu ibarat ember bocor yang selalu gagal menampung air. Tak peduli seberapa banyak yang berhasil kita raih, kita akan selalu merasa kekurangan. Kita lupa bahwa kebahagiaan tidak datang dari seberapa banyak yang kita genggam, melainkan dari seberapa dalam kita mampu mensyukuri apa yang sudah ada di tangan. 

Menghargai apa yang kita memiliki akan membuka mata dan hati sehingga merasa memiliki lebih banyak. Kelebihan, kelimpahan, kecukupan pun akan selalu menghampiri dan menambah apa yang sudah dimiliki. Hidup ini adalah seni bersyukur dengan melihat apa yang sudah kita punya.  Kalau melihat dan meratapi yang tidak ada, maka hidup hanyalah seperti ember bocor. Apalagi kalau kita sudah mulai membandingkan kita dengan orang lain, hidup akan makin tak bermakna. Membandingkan itu adalah pencuri kebahagiaan hidup. Yang kita temukan hanya lautan kekurangan yang tak ada batasnya. Seberapa pun kekayaan, kelimpahan, berkah, akan lewat begitu saja sehingga hidup serasa penuh penderitaan, miskin, sengsara, nelangsa. 

​Merayakan hidup tidak butuh kemewahan. Kita bisa mulai dari sebuah tindakan kecil yang nyata dan dekat dengan keseharian kita. Cobalah saat Anda makan siang nanti, letakkan gawai Anda selama lima menit pertama. Pandangi makanan di piring Anda, sadari teksturnya, nikmati setiap kunyahannya, dan berterimakasihlah dalam hati atas rezeki yang menghidupi tubuh Anda hari ini. Berterimakasihlah pada sel-sel tubuh kita yang luar biasa dalam mengolah dan memproses makanan menjadi energi yang menyehatkan tubuh. Berterimakasihlah pada Sang Pemilik Rejeki.

Atau saat minum kopi, sempatkan untuk benar-benar menikmati kopi itu. ​Cobalah perhatikan bagaimana air panas bertemu dengan bubuk kopi di dalam cangkir Anda. Ada letup kecil, aroma yang menyeruak, dan perlahan warna airnya berubah pekat. Seringkali, kita terburu-buru meneguknya demi mengejar kantuk, tanpa sempat menyadari bahwa di dalam cangkir kecil itu ada kerja keras petani di lereng gunung, peluh pemetik biji kopi yang sudah merah, hingga ketepatan orang yang menyangrai. Ketika kita berhenti sejenak untuk menghirup aromanya dan mengucap syukur atas kehangatan kopi, secangkir kopi itu tiba-tiba terasa jauh lebih berharga. 

​Rasa syukur yang kita tebar sekecil apa pun pada hal-hal sederhana adalah magnet bagi kelimpahan yang lebih besar. Kita akan merasa memiliki lebih banyak lagi. Ketika kita belajar merasa cukup dengan apa yang ada, alam semesta dengan senang hati akan menambahkan keindahan-keindahan lain dalam perjalanan kita. Karena orang yang kaya sejatinya adalah orang yang berani mengatakan cukup, sesedikit apa pun yang dimiliki. Dan, orang yang paling miskin adalah orang yang tidak bisa mengatakan cukup, sebanyak apa pun yang dimiliki.  Mari kita mulai menghargai apa yang sudah kita punyai agar kita memiliki lebih banyak lagi sambil melangkah dengan hati yang penuh rasa syukur. ***

One thought on “Inspiration

Add yours

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑