Inspiration

SEMUA AKAN EMBUH PADA WAKTUNYA

Selama ini banyak orang terjebak dalam adagium terkenal, “Semua akan indah pada waktunya.” Kata-kata ini dianggap sakti karena dipakai seperti obat penenang di kala orang sedang menghadapi kepahitan, kesedihan, kegagalan, kesakitan dan kesengsaraan. Seolah dengan berserah pada waktu dan keyakinan semuanya akan berlalu dan menjadi indah. Padahal belum tentu semua akan jadi indah dan sesuai yang diharapkan. 

Faktanya, kalimat itu tidak berdiri sendiri. Ada banyak persyaratan di balik kata-kata indah itu. Hidup hampir tidak selalu seindah yang kita bayangkan. Bahkan Sang Pemberi Kehidupan juga tak pernah mengatakan bahwa hidup manusia akan selalu indah dan mudah. Untuk bisa merasakan manis, pasti ada masa mencicipi kepahitan. Untuk bisa bahagia, pasti ada masa susah dan menderita.

Mengapa akhirnya harapan itu bisa berujung ratapan? Karena banyak orang hanya menunggu sang waktu untuk memberikan keindahannya. Orang hanya diam seperti batu yang lapuk oleh waktu demi menunggu datangnya masa indah. Karena orang hanya bermodalkan percaya, tapi tak melakukan apa-apa selain menunggu waktu yang indah itu datang. Orang lupa bahwa di balik kata-kata penghibur itu ada syaratnya. Perlu aksi di balik ekspektasi. Ada kondisi di balik janji.

Tak heran kalau ada orang patah hati karena ditinggal pacar akan minum pil penenang itu, semua akan indah pada waktunya. Orang yang terpuruk akan duduk diam sambil menguyah kata-kata itu. Orang gagal, yang sakit hati akan rebahan sambil membayangkan kata sakti itu. Apakah kemudian semua berubah  indah? Tidak. Semua persoalan akan embuh pada waktunya. Embuh dalam bahasa Jawa artinya tidak tahu, apakah akan jadi indah atau malah makin parah. Selama orang gamon, gagal move on, hidupnya tak akan berubah jadi indah. 

Waktu tidak mengubah apa pun. Hanya kita yang dapat mengubah diri kita sendiri seiring perjalanan waktu. Waktu terus berjalan, demikian pula hidup harus terus berubah. Ekspektasi tentang keindahan, keberhasilan, kebahagiaan akan jadi nyata selama ada aksi. Kita harus mengubah adagium itu menjadi “Segalanya akan indah pada waktunya asal aku berusaha membuatnya menjadi indah.” Kita harus menjalani proses dan kemauan untuk berubah agar semua jadi indah pada waktunya. Karena kadang keindahan justru terletak pada saat kita berani beraksi dan berproses. 

Saya suka sekali dengan pesilat dan aktor legendaris, Bruce Lee, karena kesempurnaan fisik dan falsafah hidupnya. Ia pernah berkata soal waktu dan kehidupan, “Kalau Anda mencintai hidup Anda, jangan sia-siakan waktu, karena dari sang waktulah hidup kita terbentuk.” Maknanya, kita harus membuatl setiap detik, setiap tarikan nafas kehidupan itu selalu berarti.  Hidup harus punya tujuan sehingga setiap detik punya makna. Melakukan aksi sekecil apa pun dengan penuh kesadaran akan membuat hidup kita indah pada waktunya. Tapi kalau kita hidup tanpa aksi sedikit pun dan tanpa kesadaran, maka segalanya akan embuh pada waktunya. 

Perkembangan, pertumbuhan hanya akan terjadi ketika kita sadar dan mau untuk berubah. Lepaskan segala hal yang tak ada guna di masa lalu. Lalu majulah sekalipun hanya selangkah agar hidup kita terus mengalir alami. Keindahan akan datang tepat pada waktunya ketika kita melangkah maju menuju keindahan itu. Berubah agar indah adalah esensi dari keberadaan kita sebagai manusia yang sadar dan mencintai hidupnya. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑