Tidak semua orang suka dikritik. Tapi, banyak orang lebih suka mengritik, karena melontarkan kritikan lebih mudah daripada menerima kritikan. Kritik itu sebuah hal yang normal tapi kadang menjadi tidak normal karena kita bereaksi berlebihan sehingga menjadi emosi. Menerima kritik itu seperti kita bercermin di cermin tua yang retak. Saat kita berdiri di depannya, pantulan wajah kita mungkin tampak buram, miring, atau tidak sempurna. Kalau kita marah terhadap kritikan, kita seperti sedang memarahi cermin retak. Saat kita menerima kritik secara positif, kita menyadari ada bagian dari diri kita yang perlu dirapikan, atau mungkin sudah saatnya membersihkan sang cermin.
Sayangnya, dalam panggung kehidupan sehari-hari, kita sering kali bersikap sebaliknya ketika berhadapan dengan cermin berupa kritik. Di rumah, di tempat kerja, di ruang-ruang ibadah, hingga di puncak kursi pemerintahan, kita begitu mudah menemui jiwa-jiwa yang antikritik. Ketika seseorang menyodorkan sebuah catatan koreksi, meski disampaikan dengan cara paling santun dan niat paling positif, kita kerap langsung memasang perisai, bahkan berbalik menyerang. Serangan balik itu akan lebih kencang kalau sudah menjual posisi, jabatan, kuasa.
Kita menutup mata dan telinga erat-erat karena melihat kritik bukan sebagai alat bantu visual, melainkan sebagai senjata tajam yang siap menggores keangkuhan ego kita. Sebagus apa pun isi kritikannya, ia selalu didefinisikan sebagai ancaman bagi kenyamanan posisi kita. Padahal, ketika kita memperlakukan kritik sebagai ancaman, saat itulah kita sedang memproklamirkan diri sebagai pribadi yang kerdil, tertutup, dan enggan berkembang. Kita memoles bagian luar agar ego tetap kelihatan kokoh dan angkuh. Sementara di dalam, kita tahu ada sesuatu yang memang rapuh dan perlu dibenahi.
Sebaliknya, bagi jiwa-jiwa yang terbuka dan berlapang dada, kritik diterima dengan senyuman hangat. Itu adalah bentuk perhatian. Kritik menjadi sebuah kesempatan gratis untuk berkaca dan bertumbuh menjadi lebih baik. Seperti sebuah ungkapan bijak, “Orang-orang yang melontarkan kritik bagi kita pada hakikatnya adalah pengawal jiwa kita, yang bekerja tanpa bayaran.” Sehebat-hebatnya manusia, dia tak akan bisa melihat tengkuk dan punggungnya sendiri. Ia perlu orang lain untuk membantu melihatnya. Mereka menyediakan waktu dan energinya untuk menunjukkan sudut-sudut yang tak terlihat yang tidak bisa kita lihat sendiri.
Kalaupun kritik itu datang dari sudut pandang yang keliru atau niat yang kurang baik, kita tidak akan kehilangan nilai diri sedikit pun. Ingatlah sebuah kalimat penguat, “Your value does not decrease based on someone’s inability to see your worth.” Nilai sejati kita tidak ditentukan oleh seberapa mulus penilaian orang lain, melainkan oleh bagaimana kita menyikapi setiap kritikan itu sebagai sebuah kesempatan untuk makin lebih baik. Nilai dan kemampuan kita tidak akan turun hanya oleh kritik dari orang lain, atasan, kolega, dan sebagainya. Kadang kritikan itu juga pertanda bahwa orang lain tidak melihat kemampuan, kelebihan, dan nilai diri kita sesungguhnya.
Untuk menerima kritik, perlu jiwa besar dan kedewasaan emosi. Kita tidak perlu langsung memotong atau membantah saat seseorang memberikan masukan kepada kita entah dari pasangan, rekan kerja, atasan, atau anak. Kita bisa tersenyum sambil mengucapkan, terima kasih karena sudah memberi tahu dan perhatian pada diri kita. Dengan demikian, kita bisa memberi waktu bagi jiwa kita untuk mencerna, bukan sekadar bereaksi dan emosi. ***

Leave a comment