Sebuah utas di medsos @hijrahroso menulis unggahan yang menarik.
“Suatu malam, aku shalat Tahajud. Mulutku membaca Al-Fatihah, tapi pikiranku mengutuk hari yang melelahkan. Aku rukuk, tapi yang kupikirkan adalah betapa inginnya aku marah. Aku sujud, tapi yang kurasakan adalah betapa lelahnya aku berpura-pura kuat. Itu doaku yang sebenarnya, berantakan gak jelas, jujur, dan tidak religius. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku merasa Tuhan mendengar aku, bukan ritualku. Tanda Doamu Sudah Autentik”
Doa adalah bagian penting dari kehidupan orang religius di negeri religius ini. Orang berlomba untuk memenuhi doa sebagai kewajiban saja, meski tak jarang kehilangan makna. Doa dengan pilihan kata dan rumusan yang presisi menjadi ajaran baku yang ditanamkan sejak belia. Sayangnya, dalam urusan mengetuk pintu langit lewat doa, kita sering kali mendadak menjadi seorang kurator kata yang kaku. Kita hanya sibuk menyusun kalimat agar terdengar anggun, runtut, suci dan tanpa cela. Kata-kata indah dirangkai untuk memuji, meskipun kata-kata itu tidak mewakili apa yang kita rasa dan kita pinta. Semua dirangkai bak teks pidato. Baku dan kaku.
Kadang orang lupa bahwa doa adalah soal bicara jujur. Soal kejujuran adalah tentang rasa yang muncul dari pikiran dan hati, bukan tentang kata-kata, dan bukan tentang ritual pemenuhan kewajiban. Doa yang jujur kadang terkesan ngawur dan hancur. Itu sebabnya orang mungkin takut berdoa dengan cara yang keluar dari pakem karena takut dosa dan dianggap durhaka sama Tuhannya. Kita takut dianggap melenceng dari ajaran jika kita berdoa keluar dari pakem yang sudah biasa dihafal. Kita memperlakukan pencipta kita seolah-olah Tuhan adalah pewawancara kerja yang kejam, dingin dan siap menggagalkan kita jika salah memilih kata-kata.
Urusan doa ini bisa kita ibaratkan dengan sungai mengalir. Ia tidak pernah berdiskusi dengan batu-batu di mana ia harus berbelok. Ia tidak menghafal rute sebelum berangkat menuju samudra. Ia hanya mengalir, membawa seluruh dirinya, termasuk jernihnya, lumpurnya, riak kecilnya, menuju ke muara. Semua mengalir begitu alami, begitu telanjang tanpa kepura-puraan. Pertanyaannya, apakah kita berani berhenti berpura-pura dalam doa? Beranikah kita mengalir apa adanya seperti air sungai mengalir?
Dalam keheningan doa yang paling autentik, kita sama sekali tidak perlu memilih kata-kata. Saat hati benar-benar remuk atau galau oleh rindu, air mata bisa mengalir begitu saja tanpa perlu dipaksa. Adakalanya kita hanya bisa diam dalam waktu yang lama, bukan karena sedang menghafal teks suci, melainkan karena kita memang telah kehabisan kata-kata. Di sanalah kejujuran doa sesungguhnya. Doa diam tanpa kata adalah bagian dari doa yang jujur, apa adanya. Tuhan tidak pernah kekurangan kosakata untuk memahami bahasa keheningan kita. Tuhan itu ahli membaca rasa yang kita bawa dalam doa.
Ketika kita berani menanggalkan topeng kesalehan yang dipaksakan dan mulai berbicara apa adanya, keajaiban kecil pun terjadi. Setelah selesai bersimpuh, kita akan merasa telah benar-benar berbicara, bukan sedang berpidato di hadapan podium. Doa yang jujur itu rasanya hangat, persis seperti momen mendalam saat kita sedang ngobrol dengan seorang sahabat lama di sudut kafe yang tenang. Tidak ada jarak, tidak ada ketakutan akan dihakimi.
Mari kita selaraskan kembali hati kita dengan Sang Pemilik Jiwa. Hari ini, saat kita mengambil momen hening untuk berdoa, cobalah untuk menyingkirkan semua hafalan teks sejenak, pejamkan mata, dan ucapkan satu kalimat yang paling jujur tentang apa yang paling melelahkan atau paling membahagiakan hati saat ini, meski kalimat itu terasa berantakan. Jujurlah dengan rasa dan ungkapkan dalam kata, sependek apa pun. Atau bahkan tanpa kata. Tapi rasa kita adalah kejujuran sebuah doa.
Pada akhirnya Tuhan tidak sedang menilai keindahan sastra dalam doa kita. Ia sedang memeluk kejujuran yang meluap dari dasar jiwa kita. Ia sedang menangkap rasa yang kita pancarkan. Lalu kita rasakan kedamaian lewat doa jujur meski kesannya ngawur. ***

Leave a comment