Inspiration

LANGIT AKAN RUNTUH

Seorang teman mengeluh tidak memiliki apapun di rumahnya. Ia tinggal di sebuah bilangan kompleks perumahan yang dihuni oleh kalangan menengah ke bawah. Pemukiman itu dapat dikatakan cukup tinggi untuk ukuran seorang teman yang bekerja sebagai karyawan biasa di sebuah perusahaan kecil.

Tingkat kehidupan di lingkungan kompleks itu memang beragam. Ada yang kelihatan pas-pasan. Ada yang berkecukupan. Ada pula yang terlalu mewah untuk ukuran lingkungan tersebut. Pekerjaan warga penghuni perumahan itu pun bermacam-macam. Ada karyawan biasa, pedagang eceran, pegawai negeri, pembesar yayasan, akuntan, bidan, pengawas, kepala sekolah dan bahkan wiraswastawan. Status sosialnya beraneka tingkat.

Sayangnya ada budaya tak tertulis di lingkungan itu. Ketika ada satu orang yang membeli mobil, maka serta merta pada minggu atau bulan berikutnya akan ada tetangga dalam satu blok itu juga membeli mobil. Ketika ada satu orang yang merenovasi rumah, maka kali berikutnya ada tetangga lain yang juga ikut-ikutan merenovasi. Ketika ada yang membeli handphone seri terbaru, maka dapat dipastikan akan ada yang lagi tetangga yang membeli jenis yang sama.

Perabotan baru, peralatan rumah tangga, sepeda motor, televisi sampai kartu kredit pun sudah cukup menjadi alasan bagi warga kompleks itu untuk saling berkompetisi. Peserta kompetisi itu akhirnya tidak terbatas pada golongan ekonomi kuat dan mapan saja. Bahkan keluarga yang hidupnya pas-pasan pun ikut terseret dalam arus kompetisi itu. Tak terkecuali teman tadi pun ikut dalam perlombaan itu.

Ujung-ujungnya dia hanya mengeluh. Pengeluarannya sudah tidak sebanding dengan pendapatannya. Utangnya pun makin menggelembung. Setiap bulan ia selalu panik, takut dikejar-kejar penagih utang. Belum lagi tagihan di koperasi kantornya. Ekonomi keluarganya pun goyah.

Dalam kekalutan yang selalu menghantuinya setiap akhir bulan, ia berujar, “Aku selama ini selalu memandang ke atas. Selalu melihat orang lain di atas, dan aku ingin menyamainya.”

Ketika kita berjalan di jalan raya atau gang sempit yang kotor, mata kita tertuju pada arah di depan kita. Pandangan beberapa meter ke depan sudah menjaga arah perjalanan kita. Kalau terlalu jauh kita memandang, kemungkinan kita tidak melihat batu yang ada satu atau dua meter di depan kita.

Tidak mungkin orang berjalan dengan melihat ke atas. Seolah khawatir langit akan runtuh. Dengan mendongak, jalan satu langkah di depan kita pun tak akan terlihat. Apalagi lubang yang menganga. Tanpa menengadah ke langit, toh langit tak akan menimpa kita. Dengan selalu mendongak, kita akan gampang terperosok kubangan. Dengan berkiblat langit, kita takkan pernah tahu apakah jalan kita sudah lurus ataukah sedang berbelok ke arah lain.

Persaingan tak sehat, iri hati, dengki, kesombongan adalah daya tarik yang membuat kita mendongak. Tetapi, sekalipun mendongak setiap saat toh takkan membuat kita mampu menyamai langit. Melihat ke atas, mengagumi yang di atas tanpa melihat jalan di depannya justru akan membuat kita tersungkur.

Mantan presiden India, Abdul Kalam, pernah berkata, “Ketika banjir datang, ikan makan semut. Ketika air mengering, semut makan ikan. Inilah teori kehidupan. Hidup memberi kesempatan ke semua orang. Kita tinggal menunggu saat giliran kita tiba.”

Foto diambil dari nytimes.com

2 thoughts on “Inspiration

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: