Saya kadang berpikir naif ketika berurusan dengan sebuah sistem birokrasi. Saya pikir semua orang yang duduk di birokrasi itu menghayati pekerjaannya untuk melayani dan melancarkan urusan orang lain. Namun ternyata ada orang yang sengaja menghambat alur birokrasi sehingga mempersulit hajat hidup orang banyak. Dan akarnya adalah rasa iri, dengki, dan pamrih uang atas pelayanannya. Orang itu lupa kalau sudah digaji negara untuk melayani.
Apa yang dikatakan Aristoteles ribuan tahun lalu masih aktual dengan situasi di negeri ini. Ia mengatakan bahwa rasa iri itu menyakiti keberuntungan orang lain. Saya mau tak mau harus mengamini kata filsuf kuno itu, karena memang nyata hingga kini. Saya dan banyak lagi kolega termasuk orang yang seharusnya beruntung menjadi buntung karena terhambat oleh sang pelayan negeri yang dipenuhi rasa iri dengki itu. Banyak yang merasa rugi gegara rasa iri dan dengki.
Ketika kita berkaca pada kehidupan orang lain, sering kali kita tidak sedang melihat keindahan, melainkan sedang memelihara sebuah lubang kecil di dalam hati. Sifat iri, tanpa kita sadari, bekerja seperti rayap yang perlahan menggerogoti tiang-tiang fondasi rasa syukur kita. Bangunan hati dan pikiran menjadi rapuh. Ia membuat mata kita begitu jeli melihat kilau di halaman tetangga, sementara taman kita sendiri telantar kekeringan.
Benar apa yang pernah dikatakan bahwa iri hati adalah seni menghitung berkah orang lain alih-alih mensyukuri berkah kita sendiri. Saat kita mulai membandingkan, kita sedang menggunakan mikroskop untuk mencari-cari kekurangan diri dan membesarkan kelebihan orang lain. Jarak pandang kita menyempit. Kita menjadi abai bahwa setiap jiwa berjalan dengan ritme dan paket ujiannya masing-masing. Memaksa diri untuk meniru langkah orang lain demi terlihat setara adalah bentuk keputusasaan yang perlahan membunuh keunikan jati diri kita.
Mental korup boleh jadi berakar dari rasa iri, dengki, pamrih itu. Semakin menyebar virus mental itu semakin menjamur pula korupsi. Dari titik inilah, rasa iri hati itu bisa bermutasi menjadi gelombang yang merusak. Ketika rasa tidak puas itu tidak lagi bisa dibendung oleh rasa syukur, pikiran mulai mencari jalan pintas. Mentalitas koruptif lahir bukan karena seseorang kekurangan secara fisik, melainkan karena jiwanya kelaparan akibat selalu memandang dan mengejar apa yang bukan miliknya. Kita merasa berhak mendapatkan apa yang dimiliki orang lain, dengan cara apa pun, bahkan dengan mengorbankan integritas. Korupsi, dalam skala paling personal, dimulai saat kita membiarkan hati ini merasa kurang dan iri hati hanya karena melihat orang lain lebih kaya, lebih tinggi, lebih beruntung, lebih terhormat, lebih berkuasa, dan sebagainya.
Hidup ini bukan perlombaan lari, melainkan sebuah perjalanan pulang ke dalam diri. Menghargai apa yang ada di genggaman hari ini adalah bentuk penghormatan tertinggi pada hidup yang telah dititipkan kepada kita. Saat kita selaras dengan kecukupan diri, tidak akan ada ruang bagi rasa iri untuk menumbuhkan akar-akar keserakahan.
Mari kita sadari bahwa benih rasa iri dan dengki itu bisa muncul pada kita semua tanpa kecuali. Yang bisa membendung adalah kesadaran diri lewat rasa syukur dan cinta atas kehidupan. Dengan cinta dan syukur kita bagaikan melihat kehidupan orang lain lewat teleskop. Sedangkan rasa iri melihat hidup orang lain lewat mikroskop karena membesarkan hal yang seharusnya kecil. Hilangkan benih iri hati dengan menghitung berkah yang sudah kita miliki, bukan berkah orang lain. Tepislah tiap kali ada dorongan untuk membandingkan diri dengan orang lain. Maka benih iri hati akan pergi. ***

Leave a comment