Seringkali, kita melihat fenomena “kesalehan” yang dipaksakan di sekitar kita. Entah dari pakaiannya, gayanya yang sok suci dan bersih, atau tuturnya yang halus tapi munafik. Banyak orang merasa sudah mendalami ajaran agamanya hingga mengklaim dirinya sudah memiliki iman seteguh batu karang. Mereka berlomba tampil saleh demi validasi dan pujian. Tapi, apakah semua itu sudah menjamin kualitas kemanusiaannya yang mengaku ber-Tuhan?
Ada sebuah kutipan sederhana yang belakangan ini sering mampir di ruang dengar kita: “Perilaku seseorang kepadamu, cerminan hubungannya dengan Tuhannya.” Kalimat ini sebenarnya tidak sedang membicarakan seberapa megah rumah ibadah yang kita kunjungi atau seberapa fasih kita melafalkan ayat-ayat suci. Ini adalah sebuah cermin bening. Jika ruang batin seseorang benar-benar terhubung dengan Yang Maha Pengasih, maka yang mengalir keluar dari ucapannya, hatinya, pikirannya adalah kesejukan, bukan duri yang menusuk hati sesama.
Logikanya sangat sederhana, namun seringkali kita rumitkan dengan atribut, ajaran, tafsir, hukum agama yang terkesan hebat. Agama dan ritus ibadah adalah jalan dan sarana untuk menghaluskan jiwa. Namun, buah nyata dari proses spiritual itu tidak terletak pada seberapa keras dahi kita menyentuh bumi, atau wanginya tubuh dari bau dupa. Keutamaan agama justru terletak pada bagaimana kita menyapa tukang parkir di pinggir jalan, bagaimana sikap kita pada yang miskin, bagaimana kita menyikapi perbedaan pendapat di media sosial, atau seberapa cepat kita menundukkan ego saat menyadari kita keliru. Karena dari sikap semacam itulah kualitas ke-Tuhan-an dan kemanusiaan hadir secara utuh.
Ketika seseorang menggunakan jubah agama namun jemarinya begitu ringan menebar kebencian, atau lisannya gemar merendahkan mereka yang dianggap “belum tercerahkan”, di sanalah kancing baju agamanya mulai lepas satu per satu. Ia sedang menyombongkan kainnya, sementara tubuh di dalamnya sebenarnya sedang menggigil kelaparan akan kasih sayang yang sejati. Kesalehan hakiki tidak pernah menuntut panggung untuk pamer kekuasaan. Kesalehan dan keutamaan itu muncul saat kita bisa menghargai sesama ciptaanNya. Dari sanalah kita memancarkan cinta dari Sang Maha Cinta. Kesalehan itu bekerja seperti akar pohon di dalam tanah, hening, tak terlihat, namun kekuatannya menghidupkan dan membuat buah-buah di ranting terasa manis bagi siapapun yang memetiknya.
Hari ini, mari kita menepi sejenak dari riuhnya dunia. Kita bisa memulainya dari satu tindakan kecil: sebelum mengetik komentar atau mengucapkan sepatah kata kepada orang di dekat kita. Kita diam sejenak, sembari mengambil napas dalam-dalam. Tanyakan pada diri sendiri, “Apakah kata-kata yang akan keluar dari mulutku ini mencerminkan keindahan Tuhan yang aku sembah?”
Jangan mudah terkecoh oleh penampilan agamis dan saleh yang palsu. Karena yang terlihat bukan pada berapa ribu ayat suci yang dihapalkan, berapa puluh malam berdoa, berapa puluh hari berpuasa, berapa juta bersedekah, atau berapa ribu umat yang dimiliki. Karena kualitas, kesalehan dan keimanan seseorang akan kelihatan pada saat dia dihadapkan dengan kemarahan, ego, dan kesempatan untuk berlaku adil pada sesama ciptaanNya.
Saya mengutip akun medsos @hijrahroso yang mengatakan, “Ketika kamu diperlakukan kasar, curang, atau dihakimi tanpa dasar, jangan buru-buru menyalahkan agama yang ia bawa. Itu bukan salah agama. Itu cermin hubungannya dengan Tuhannya yang sedang renggang atau bahkan retak.”
Pada akhirnya, kualitas kemanusiaan kita adalah khotbah terbaik yang pernah kita sampaikan kepada dunia. Ketika kita memilih untuk merendah dan merangkul sesama dengan kehangatan, saat itulah kita sedang menyelaraskan detak jantung kita dengan kualitas dan sifat ketuhananNya yang agung. Bersinarlah dari dalam, dan biarkan kebaikan itu mengalir tanpa perlu banyak penjelasan. Dari sanalah kualitas kita sebagai manusia diukur. ***

Leave a comment