Inspiration

RACUN PERUSAK KESEIMBANGAN 

Semua orang takut dengan racun. Konotasinya selalu zat yang mematikan. Tapi pada hakikatnya, racun itu adalah sesuatu yang berlebihan yang merusak keseimbangan. Orang bijak mengajarkan bahwa segala sesuatu yang melebihi apa yang kita perlukan akan menjadi racun. Contohnya banyak terjadi di negeri kita. Banyak orang gila kuasa, gila makan, gila harta, gila ambisi. Mereka mencari dan mengejar semua itu melebihi takaran. Akibatnya ada yang jadi korban keracunan masal akibat makan beracun yang dibagikan, korupsi masal, mati kekenyangan, mati kecapaian karena ambisi yang kelewat takaran.  

Ketika kita menengok ruang publik kita hari ini, riak ketidakseimbangan itu tampak begitu telanjang. Seringkali kita menyaksikan bagaimana kekuasaan, yang awalnya diniatkan sebagai alat untuk merajut kesejahteraan bersama, perlahan berubah menjadi zat yang mematikan nurani. Pemerintahan yang terjebak dalam lingkaran keserakahan dan korupsi sebenarnya sedang meminum racun dari cawan emas mereka sendiri. Ambisi yang melampaui takaran kebutuhan hidup mendistorsi harmoni. Saat rasa berkecukupan hilang, kekuasaan tidak lagi dimaknai sebagai amanah untuk melayani. Kekuasaan telah memperbudak mereka yang menggenggamnya. Kita melihat bagaimana ego dan ketakutan akan kehilangan jabatan membuat manusia menimbun harta melebihi yang dibutuhkan. Padahal harta dan kuasa tidak akan pernah bisa mereka bawa saat mati.

Namun, sebelum kita menunjuk telunjuk terlalu jauh ke luar, mari kita bawa perenungan ini pulang ke dalam rumah diri kita sendiri. Bukankah benih keserakahan yang sama juga kerap menyelinap dalam keseharian kita? Korupsi sistemik di atas sana seringkali hanyalah pantulan dari akumulasi ego-ego kecil kita yang tidak sabar menjalani proses kehidupan. Kita menimbun makanan secara berlebihan, memanjakan kemalasan, memelihara amarah, atau membiarkan ambisi pribadi. Kita tanpa sadar telah meracuni ketenangan orang-orang di sekitar kita. Kita lupa bahwa setiap kali kita mengambil sesuatu melebihi apa yang benar-benar kita butuhkan, kita sedang meneteskan racun ke dalam sumur kehidupan kita sendiri. Keseimbangan hidup kita pun retak. Racun yang kita ciptakan merusak harmoni kehidupan.

Menjaga keselarasan adalah sebuah seni berjalan di tali yang terentang. Hari ini, mari kita mulai memulihkan harmoni itu dari langkah yang paling sederhana. Saat kita duduk di meja makan atau di depan meja kerja hari ini, cobalah mengambil atau mengonsumsi sesuatu baik itu makanan, informasi, atau ambisi kerja secukupnya saja. Kita mengambil sebesar apa yang kita butuhkan, lalu sisakan ruang kosong bagi rasa syukur. Berhentilah sejenak sebelum sendok terakhir atau sebelum jam lembur yang dipaksakan hanya demi gengsi atau pujian dari atasan.

Kita harus mulai berani mengatakan cukup terhadap segala sesuatu. Jangan biarkan kesedihan, kekecewaan, kemarahan, kemalasan, ketakutan, kebencian, kegembiraan, kemenangan, melampaui yang kita perlukan. Kita boleh merasakannya, tapi jangan kebanyakan. Ketika kita membiarkan diri kita mengambil hal itu secara berlebihan, maka kita sedang meracuni hidup kita. Kita sedang merusak keseimbangan hidup, keseimbangan pikiran dan hati. Kita sedang keracunan. 

Jalan menuju kearifan selalu dimulai dengan mengenali mana yang benar-benar menghidupi kita dan mana yang perlahan mulai menjajah kita. Ketika kita berani berkata cukup, kita sedang melepaskan diri dari jerat racun kehidupan tersebut. Dengan demikian, kita akan kembali memeluk kedamaian yang sejati.***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑