Literature

MEJA MAKAN

Pertemuan di sebuah cafe di bilangan Jogja barat itu begitu mengesan. Setidaknya bisa membawaku kembali menyusuri lorong waktu yang sudah hampir lepas dari chip memori yang kian menua. “Namamu bagus banget, Dik. Aku tak pernah bosan mengucapkan nama panjangmu meski aku tak tahu makna di balik nama itu,” kata lelaki di depan kursiku.
“Ah, biasalah, Mas. Itu nama yang ngasih almarhum Bapak. Karena konon Ibuku nggak mau mencarikan nama buatku,” kataku kubuat sejujur mungkin.

Pujian itu laksana pemantik yang memercikkan bunga-bunga api. Berkeriapan liar menyusur lorong waktu. Entah kenapa, kini aku sering meninggalkan kekinianku, untuk sejenak melongok kesilamanku. Baperkah? Ah, mungkin ya. Kondisi dan status kekinianku yang selalu menggiringku ke masa lalu. Meski aku tak mau berlama-lama di sana.

Aku teringat sebuah meja makan kayu berwarna gelap di rumah masa kecilku. Di meja itulah keluargaku selalu merayakan berkah kehidupan dari Sang Pemilik Hidup. Makan bersama bapak, ibu, kakak laki-laki dan kakak perempuanku. Aku selalu ceria di saat-saat seperti itu. Menyantap hidangan keluarga, meski dalam kesederhanaan. Semua berjalan wajar di mata anak gadis kecil seperti aku.

Namun kewajaran masa kecil itu menjadi sebuah puzzle terakhir yang harus kupasang agar aku bisa melihat kumpulan puzzle itu menjadi sebuah gambar yang pas. Rupanya aku kini sudah mendapatkan gambar utuh dari potongan puzzle terakhir itu. Ternyata puzzle itu menjadi gambaran diriku kini. Empat dasawarsa aku menyusun keping demi keping sampai aku tahu gambarku.

Aku bukan siapa-siapa di tengah keluarga yang membesarkan aku. Di depan ibuku, mungkin aku dilihat sebagai seorang unwanted daughter. Di depan kakak-kakakku, aku dipandang sebagai adik biologis. Tak lebih tak kurang. Aku bahkan tak sadar ketika aku menghabiskan masa kecilku di sebuah undakan dekat meja makan setiap kali kami makan bersama keluarga. Tak pernah kursi meja makan itu menjadi lima. Selalu hanya empat. Untuk dua kakakku dan dua orang tuaku. Aku cukup gembira duduk di bawah, di dekat meja. Aku bahkan tak tahu ketika puluhan tahun kemudian aku mengenal istilah ‘diskriminasi’. Dan itu pula yang kualami ketika aku menjadi gadis kecil, polos.

Aku baru tersadar ketika pada suatu masa, aku merasakan pusing luar biasa. Dan aku mengeluh pada ibuku agar aku diobati, atau setidaknya dielus kepalaku dengan cinta ibu. Harapannya biar sakitku reda. Alih-alih cari perhatian, ibu mendampratku agar aku jangan menjadi gadis yang suka mengeluh. Aku terhenyak kaget. Pusingku pindah seketika ke lubuk hati. Ibuku tak menyisakan sedikit ruang untuk berbagi kasih dengan gadis bungsunya. Sejak itulah aku memutuskan untuk sendiri. I am nobody’s child.

Tapi aku merasa berharga, dan kini kurasakan sungguh, justru karena kehadiran bapak. Dialah yang memberiku nama. Menyekolahlan aku hingga sarjana. Dia pula yang selalu membelaku. Aku merasa masih punya keluarga hanya saat teringat bapakku. Sayang, bapakku kini telah pergi dalam keabadian. Aku benar-benar sendiri.

Kesendirian itu makin menancap saat aku harus kehilangan teman hidupku. Aku kehilangan, meski selama hidup dia jarang memeluk sang kesetiaan yang selalu kusodorkan. Yah, kehilangan secara fisik, dan mungkin secara perasaan meski didera memar dan luka. Wajarlah rasa itu muncul dari  seorang perempuan seperti aku.


Aku tiba-tiba diingatkan dan dikukuhkan sebuah ayat dari Kitab Kehidupan yang terpaksa kutinggalkan. “Di saat aku lemah, aku kuat di dalam Dia yang selalu membimbing aku.” Kurang lebih itu yang kuingat. Di titik nadirku, bahkan tak kudapatkan setetes embun di oase keluargaku dulu. Tak juga di keluarga orangtuaku. Aku seolah berjalan sendiri di tengah terik dan dingin gurun Sahara. Tak ada yang memegangku saat limbung. Apalagi sapaan. Bahkan hanya bertanya kabarku kini pun bisa menjadi embun yang membasahi kehausan kasih yang kualami. Kutunggu menit, jam, hari, minggu di rumah ibuku. Nihil semua. Lengkaplah kesendirianku yang kian mencekam. I am nobody’s.

“Dik, aku pernah menulis, ketika kita terlalu mengharapkan sesuatu, maka kita takkan mendapatkan apapun yang kita harapkan. Kita hanya mendapatkan kekecewaan. Tapi, ketika kita tak berharap apapun, maka kita akan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga, sekecil apapun itu.”

Suara lelaki di depanku membuatku terhenyak. Ternyata aku tidak berada di gurun Sahara. Aku tak sendiri. Masih ada setetes embun yang membasahi sebuah titik di hamparan pasir kering di hati seorang perempuan sendirian seperti aku. Kuyakinkan diriku sambil merasakan tegukan Capuccino terakhir di pojok cafe. *** (Leo Wahyudi S)

Photo credit: jeparaheritage.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: