Inspiration

HADIAH NATAL TERINDAH

Alkisah tersebutlah sebuah keluarga yang tinggal di sebuah perkampungan. Hidup keluarga itu pas-pasan. Kadang bahkan mengalami hidup yang berkekurangan. Sebagai sebuah keluarga Kristiani yang tekun, mereka taat beribadah. Suatu kali keluarga itu pergi ke gereja untuk merayakan Natal.

Namun ketika bapak, ibu dan anak itu akan berangkat, ada saja peristiwa yang menjadikan suasana Natal itu agak ‘ternoda’. Sang ibu marah-marah kepada sang bapak karena perkara sepele. Sang anak kebetulan juga ikut rewel melihat ayah dan ibunya bertengkar kecil. Anak itu kebetulan juga baru saja sembuh dari sakitnya beberapa hari sebelum malam Natal itu. Untungnya mereka tetap memutuskan pergi ke gereja bersama.

Perayaan malam Natal itu berlangsung khidmat. Namun keluarga yang duduk di bangku dalam gereja itu terdiam seribu bahasa. Tak ada bisik-bisik antara sang bapak dan sang istri. Sesekali anaknya yang masih kecil itu merengek untuk minta minum.       Dalam perayaan itu, sang bapak sibuk berkata dengan dirinya sendiri. Ia berusaha agar suasana hatinya tidak terpengaruh oleh ulah istrinya sebelum berangkat ke gereja. Ia berusaha keras masuk ke dalam suasana malam Natal itu.

Dalam hatinya ia berdoa, “Tuhan, aku bersyukur karena aku masih Kau undang pada perayaan Natal kali ini. Tapi aku minta maaf, Tuhan, karena malam ini aku pergi ke rumahMu tidak dengan hati tenang. Aku tadi bertengkar kecil dengan istriku. Sebenarnya masalahnya sepele dan tidak perlu diributkan. Tapi istriku tetap tidak mau mengalah dan mengerti. Sampai sekarang aku dan istriku masih saling belum menegur.

Ini sudah Natal ke 23 yang aku rayakan, dari semenjak aku masih bujangan sampai aku mempunyai anak. Selama itu pula, tidak pernah aku merayakan Natal yang indah dan mengesan. Jangankan hadiah, ucapan Natal dari istriku pun tidak kudapat. Selalu saja ada peristiwa yang membuat hatiku sedih dan gundah dan kadang jengkel pada saat menjelang perayaan Natal. Akibatnya suasana hatiku selalu rusak. Dan aku tidak dapat merayakan Natal dengan khusyuk karena beban batin dan suasana hati yang tidak mengenakkan itu. Aku heran, mengapa selalu begini yang kualami. Apa yang harus aku lakukan Tuhan agar Natal ini mengesan?”

Setelah melambungkan doanya itu, ia terdiam sejenak. Sampai menjelang akhir perayaan malam Natal di gereja, tiba-tiba ia agak terhenyak. Ada suara yang menggema di hatinya. Katanya, “Apa yang kamu rasakan beberapa hari menjelang Natal? Apa yang terjadi dengan anak yang kalian cintai itu? Ia sakit dan rewel. Ia menangis terus. Sampai larut malam anakmu menangis dan kamu tidak tahu sakit apa yang dirasakan anakmu. Kau dan istrimu selalu terjaga karena tangisan anakmu yang memelas. Tidurmu tidak nyenyak. Makan pun tak enak rasanya. Kau tidak bisa berkarya, karena pikiranmu hanya tertuju pada anakmu yang sedang sakit.

Tapi siang menjelang perayaan Natal ini apa yang terjadi dengan anakmu? Dia sudah bisa tertawa ceria. Ia sudah mau tersenyum lagi pada orang tuanya. Ia sudah mau makan. Ia sudah mau bercanda seperti sediakala. Bahkan ia sudah semakin pintar melafalkan kata-kata. Apa yang kau rasakan saat itu? Kau merasa bahagia. Kau merasa damai dan tenang. Kau pun bisa tersenyum dan berkarya lagi. Bukankah itu hadiah menjelang Natal? Tidakkah kau sadar akan hal itu?” Suara dalam batin itu tiba-tiba menghilang.

Hadiah Natal, sebagaimana hadiah kehidupan itu tidak tersembunyi. Ia sederhana. Ia ada di sekitar kita. Ia begitu dekat, begitu nyata.  Bahkan ia menjadi bagian hidup kita. Tugas kita hanya mencari, melihatnya, mengalaminya dan kemudian mengucapkan syukur atas hadiah itu. *** (Leo Wahyudi S)

Photo credit: creativemarket.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: