Inspiration

‘SEMOGA’ YANG MENJAUHKAN IMPIAN 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu punya impian dan harapan. Impian untuk hidup sukses dan kaya. Harapan untuk tetap sehat dan selamat. Harapan untuk sembuh dari sakit, bangkit dari keterpurukan, dan sebagainya. Lalu muncullah banyak perbendaharaan kata yang menyokong impian dan harapan itu agar lekas terwujud. Kata-kata itu misalnya, “Semoga, Harapannya, Mudah-mudahan, Akan, Saya berharap, Nanti, Besok, Kalau, Jika …,” dan kata-kata lain yang senada. Kata-kata itu kedengarannya santun, indah, saleh, agamis, dan rendah hati. Tapi, benarkah demikian maknanya? 

Saya tertarik dengan apa yang diajarkan Syaiful Karim, guru kehidupan, dalam sebuah kajian. Ketika ia mendengarkan doa jemaahnya yang selalu mengatakan dan mendoakan, “Mari kita doakan saudara kita, mudah-mudahan sakitnya segera diangkat.” Menurutnya, kata ‘mudah-mudahan’ itu mengandung makna negatif. Dua kata yang diulang dengan akhiran -an dalam Bahasa Indonesia biasanya berarti palsu atau bohong. Misalnya, mobil-mobilan. Artinya bukan mobil sungguhan. Kawin-kawinan, artinya tidak kawin betulan. Begitu pun dengan kata ‘mudah-mudahan’, artinya bukan mudah, tapi sulit. Ironisnya, kata tersebut selalu dipakai ketika orang berdoa, sekalipun harapannya baik. 

Dalam perjalanan batin kita, sering kali kita terjebak menjadi orang yang mengaku beriman, tapi selalu dipenuhi oleh rasa ragu.  Ini bukan soal dogma dan agama. Ini soal realita doa dari sudut pandang hukum manifestasi dengan keyakinan yang penuh.  Kita memenuhi doa dan niat kita dengan kata-kata seperti “semoga,” “mudah-mudahan,” atau “harapannya.” Sekilas, kata-kata ini terdengar santun dan rendah hati. Namun, jika kita menyelam lebih dalam ke palung kesadaran seperti yang diingatkan oleh Syaiful Karim, kata-kata tersebut sebenarnya adalah celah kecil di mana keraguan menyelinap masuk. Ketika kita mengatakan “semoga saya sukses”, “mudah-mudahan rejekinya lancar”, secara halus kita sedang menegaskan bahwa saat ini kita sedang tidak sukses, kita sedang seret rejekinya, dan kemungkinan ada kegagalan yang besar di depan mata.

Setiap kali kita berucap “mudah-mudahan, semoga, harapannya” kita sedang menempatkan kendali hidup kita di luar diri pada keberuntungan atau nasib yang tak menentu. Padahal, manifestasi sejati bukanlah tentang memohon sesuatu yang belum ada, melainkan tentang keyakinan bahwa apa yang kita impikan seolah-olah sudah menjadi milik kita sekarang. Iman bukan berarti menunggu fajar dengan cemas, melainkan beristirahat dengan tenang di tengah malam karena kita tahu pasti bahwa matahari akan terbit. Di semua ajaran agama ditekankan agar kita punya keyakinan dan iman yang kuat. Tapi tanpa sadar, kita sering menyalahartikan berserah dan percaya padaNya dengan kata-kata indah tapi sesungguhnya bermakna negatif dan melemahkan keyakinan.

Dalam hukum manifestasi, ketika kita menggunakan kata-kata tersebut kita sebenarnya mengatakan bahwa kita tidak yakin apakah keinginan kita akan terwujud atau tidak. Akibatnya, impian akan hidup sukses, jadi orang kaya, berkelimpahan, sehat, sembuh dari penyakit, bangkit dari penderitaan, menjadi terasa jauh. Energi keraguan lewat kata-kata tersebut semakin menjauhkan apa yang kita impikan dan harapkan. Karena yang bergetar dan ditangkap Tuhan dan Semesta adalah vibrasi keraguan. Kita hanya berharap atau menginginkan sesuatu, tapi tidak benar-benar percaya bahwa itu akan atau seolah sudah terjadi. Keraguan ini membuat kita merasa tidak berdaya dan tidak mampu untuk menciptakan realitas yang kita inginkan.

Ketidakpastian adalah beban yang melemahkan langkah kita. Maka, ada baiknya kita kembali pada iman yang utuh dengan menggunakan kata-kata positif. Kita mengganti kata tersebut, maka frekuensi batin kita berubah. Yesus pernah mengatakan, “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” 

Kita yakini kata-kata “percayalah bahwa kamu telah menerimanya” bahwa seolah-olah apa yang kita impikan, kita minta, kita harapkan sudah terkabul, maka semuanya akan diberikan. Dengan demikian, kita tidak lagi mengejar bayangan, tetapi mulai berjalan di dalam realitas yang baru. Ini bukan tentang kesombongan, melainkan tentang ketegasan spiritual. Kita berhenti menjadi peminta-minta di gerbang takdir dan mulai menjadi tuan rumah di dalam rumah kesadaran dan keyakinan kita.

Mari kita lepaskan kosa kata yang mengandung aroma keraguan. Mari kita bicara kepada semesta dengan bahasa kehadiran. Saat kita berhenti berharap dan mulai meyakini, maka seluruh semesta dan Tuhan tidak lagi memiliki pilihan selain menyelaraskan diri dengan keyakinan hati kita. Kita adalah arsitek dari perasaan kita sendiri. Bangunan kehidupan kita hanya akan kokoh jika kita punya keyakinan kuat yang kita letakkan pada fondasinya.

Jika sebelumnya Anda berkata, “Semoga saya bisa lebih tenang hari ini,” ubahlah menjadi, “Saya berterima kasih atas ketenangan yang saya rasakan saat ini.” Rasakan pergeseran energinya. Mari kita gunakan kata-kata yang kuat dan positif untuk menciptakan realitas yang kita inginkan. Inilah cara kita untuk meningkatkan iman dan keyakinan kita. Dengan begitu, keinginan dan harapan kita lebih mungkin untuk terwujud. Jadi, kita harus berhati-hati dengan kata-kata yang kita gunakan. Kalau kita yakin, jangan gunakan kata ‘semoga’ agar apa yang kita impikan benar-benar menjadi kenyataan. *** 

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑