Parenting

ME TIME, QUALITY OR QUANTITY?

Istilah ‘Me Time’ tampak makin populer terutama bagi kaum urban, orang yang tinggal di kota-kota besar dengan gaya hidup dan kehidupan yang selalu berputar cepat. Saking cepatnya, kompetisi hidup menjadi melelahkan dan tak jarang membuat orang merasakan stres. Hidup rasanya tersita oleh kehidupan modern yang serba cepat. Karena itu, orang rindu untuk merasakan kesendirian untuk beraktifitas (atau bahkan tanpa melakukan apapun), tanpa orang lain, atau hanya dengan orang-orang terdekat, demi merasakan hidup yang lebih membahagiakan untuk dirinya. 

Dalam konteks hidup berkeluarga, sahabat saya pernah berbagi cerita, bahwa waktu untuk bersenang-senang sebagai orang tua sudah selesai. Sekarang saatnya untuk menyenangkan anak agar tidak terlalu tertekan dengan beban sekolah. Keluarga adalah tempat untuk refreshing. Ia bersama suaminya ingin memberikan rasa bahagia dan nyaman pada anaknya dengan cinta dan waktu yang penuh. 

Itulah ‘Me Time’ bagi keluarganya. Konsekuensinya, tidak ada ponsel saat mereka bersama. Ponsel harus dijauhkan dari jangkauan. Karena saat semacam itu, mereka menganggap ponsel sebagai barang haram yang merusak kualitas kebersamaan dan cinta mereka. Cara ini juga mendidik anak menghargai momen, selain mencegah ketagihan terhadap ponsel (seperti yang terjadi pada kebanyakan anak millenial dan bahkan orang tua jaman sekarang). 

Saya sendiri mengalami “Me Time’ bersama anak-anak dengan cara sederhana. Makan bersama di warung tenda sambil ngobrol ngalor ngidul, dari kisah pertemanan di sekolah sampai bergosip soal guru. Kadang isi obrolan tidak bermutu atau ber-quality. Tapi intensitas, canda dan tawa menjadi kuantitas atau quantity yang justru bermakna. Kami bisa menertawakan anak kami yang pulang liburan dari China yang kalap memakan pecel lele dengan 15 sate usus, 2 sate ampela dan 11 tahu goreng. Alasannya karena ia sudah ngidam masakan cita rasa Indonesia yang ia tahan selama lebih dari setahun selama dia kuliah di negeri Tirai Bambu. Istri saya hanya mengatakan bahwa ternyata bahagia itu sederhana, tidak harus pergi ke restoran mahal untuk makan bersama keluarga. Saya pun mengamini hal itu. 

Saya teringat tulisan Harjanto Halim yang saya dapat dari media sosial, yang mengisahkan ‘Parenting Rak Mutu’. Pola asuh yang tidak mutu. Pasalnya, orang cenderung terjebak istilah bahwa ‘Me Time’ haruslah berkualitas. Padahal justru dari hal-hal yang secara kuantitas tidak bermutu, di sanalah muncul kualitas sebuah momen yang penuh makna. Betapa sering kita orang tua yang sibuk bekerja merasa seolah tidak ada waktu untuk sekedar duduk bersama sambil ngobrol santai. Padahal, menurut psikolog yang ditulis Harjanto itu, waktu yang berkualitas itu tidak bisa diburu-buru, dipaksakan. Masak anak harus dipaksa untuk curhat, agar ada waktu yang berkualitas. Masak pasangan harus dipaksa agar menceritakan gosip tetangga. Biarkan saja sesuatu mengalir spontan. Dengan pasangan pun demikian. Biarkan pasangan kita curhat, atau ngobrol, atau menggosip sesuatu yang tidak bermutu. Biarkan semua mengalir alami, tanpa dibuat-buat. 

Itulah sejatinya ‘Me Time’. Bukan soal kualitas yang dipaksakan, tetapi kuantitas dari hal-hal sepele yang akhirnya malah berkualitas. Obrolan dan curhatan anak atau pasangan menjadi penuh makna. Disanalah muncul pribadi yang seutuhnya, kata psikolog yang dituliskan Harjanto tadi. Saya pun sepakat. Karena kebetulan saya sudah sering mengalaminya. Di saat saya sedang dikejar tenggat waktu pekerjaan, anak saya tiba-tiba nyelonong plus nyerocos tentang keusilannya dengan teman kelasnya. Atau, saat saya harus mendengarkan pasangan saya tiba-tiba ngomel soal ibu-ibu lain yang menyebalkan karena sikapnya yang nyinyir.  Ternyata itulah saat ‘Me Time’ saya.*** (Leo Wahyudi S) 

Photo credit: avoskinbeauty.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: