Inspiration

SINDROM AIR LAUT

Menonton film USS Indianapolis: Men of Courage yang dirilis pada 2016 serasa tak bosan, sekalipun sangat menegangkan dan membuat miris. Film ini menggambarkan kisah heroik sekaligus tragedi Perang Dunia II yang menenggelamkan kapal induk Amerika, USS Indianapolis. Sekedar info, kapal induk ini juga yang mengirimkan bom atom ke Hiroshima. Namun berakhir tragis ketika ditenggelamkan oleh kapal selam Jepang 30 Juli 1945 di perairan Filipina. 

Kapal induk ini membawa 1.200 pelaut. Akibat serangan torpedo, 300 pelaut tewas tenggelam. Yang berhasil menyelamatkan diri ada 800 orang. Namun yang bisa selamat hanya 316 orang setelah lima hari terombang-ambing di tengah lautan di bawah kepungan ratusan ikan hiu ganas. Dalam salah satu adegan, Kapten McVay, yang diperankan aktor Nicolas Cage, memerintahkan anak buahnya yang sekarat di lautan agar tidak minum air laut. 

Namun, menurut kesaksian penyintas yang masih hidup, para pelaut itu ada yang tidak kuat menahan haus selama terkatung-katung lima hari di lautan lepas. Mereka terbakar oleh terik matahari siang. Ada yang mati mengambang setelah minum air laut. Banyak pula yang akhirnya menjadi santapan ikan hiu ganas. Sebagian lain berhalusinasi setelah minum laut untuk berenang menuju pulau fatamorgana. Mereka berakhir dengan kematian tragis. 

Perintah Kapten McVay agar tidak minum air laut mengingatkan saya pada kisah ayahnya Grace Natalie, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yang juga menginspirasi saya pada tulisan sebelumnya. Ia mengingatkan anaknya agar tidak terjangkit sindrom air laut. “Sindrom air laut adalah sindrom orang kaya. Semakin seseorang itu kaya maka dia akan haus kekuasaan dan jabatan. Namun seberapa banyak uangnya pun dia tidak akan merasa cukup. Coba kalau kamu haus kamu minum air laut, maka kamu akan tetap haus. Kau tidak akan pernah dapat memuaskan rasa hausmu sehingga kau ingin minum dan minum lagi. Itulah yang namanya sindrom air laut,” kata ayah Grace yang saya kutip. 

Sindrom air laut dapat menjangkiti siapapun dari kelas sosial manapun. Tapi yang saya temukan dan alami ada banyak orang yang kaya harta tetapi tetap pelit. Ironisnya, orang yang saya lihat ini selalu merasa kurang dan merasa tidak punya uang. Akibatnya ia semakin terobsesi dengan uang dan harta kekayaan. Ia semakin ngotot berupaya mengejar kekayaan itu dengan harapan bisa merasakan kepuasan dan kebahagiaan hidup. Keserakahan terhadap harta sampai membuatnya lupa untuk berbagi. Ia mengalami halusinasi sebagai orang terkaya. Yang terjadi justru sebaliknya, ia mati tanpa merasakan puas dan tanpa membawa hartanya ke liang kubur. Ia mati dengan tangan tetap mengepal bersama keserakahan. 

Erich Fromm, seorang filsuf dan pakar psikoanalisa berdarah Yahudi Jerman, pernah berujar “Greed is a bottomless pit which exhausts a person in an endless effort to satisfy the need without ever reaching satisfaction”.  Keserakahan tidak memiliki ujung. Keserakahan membuat orang berjuang setengah mati untuk memuaskan nafsu serakahnya. Padahal perjuangannya akan sia-sia, karena ia tidak akan pernah mencapai kepuasan yang dikejarnya.*** (Leo Wahyudi S)

Photo credit: trovacinema.repubblica.it

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: