Literature

Ayahku Zakeus

“Tuhan aku mencintai keluargaku, ibuku, kakak-kakaku. Terima kasih Tuhan karena Engkau memberikan orang-orang yang aku cintai itu. Aku juga berharap bahwa ayahku bisa memiliki hati seperti Zakeus yang rindu sama Tuhan dan rindu ibuku, dan juga rindu saya dan kakak Lisa dan kakak Lukas. Terimakasih Tuhan, aku mau bobok. Amin.” Mulut anak itu menggumam lembut, tapi jelas. Tangan-tangan mungilnya tertangkup mendekat di mulut. Suaranya khas anak seusia enam tahun. Seolah mengisi ruang-ruang hampa di kegelapan malam itu.

Lantunan doa Adam malam itu sungguh menghentak, menghunjam bebatuan beku yang sudah dibangun Sarah selama bertahun-tahun. Doa anaknya itu laksana peluru meriam yang ditembakkan ke sebuah padang tak bertepi. Sarah tercekat. Air matanya bobol. Bergulir pelan membasahi kedua sudut-sudut matanya. Mengalir menelusuri gurat-gurat kulit di pipinya yang sudah tak lagi muda.

“Ibu, kenapa menangis. Doaku jelek ya, Bu. Ibu sakit? Ayo minum obat. Bu, jangan menangis, nanti Adam sedih,” kata anak bungsunya sembari mengguncang-guncangkan bahu kirinya yang mulai renta. Ketulusan Adam telah menggetarkan ketegaran yang telah dirajutnya dari benang-benang merah kekecewaan.

Air matanya makin deras, tanpa kuasa berucap. Sarah mencoba menghitung bilur-bilur kepedihan yang telah diwariskan Bambang, orang yang pernah dan masih dicintainya. Doa-doa Sarah untuk Bambang yang didaraskan setiap malam ternyata belum seberapa dibanding doa anak bungsunya malam itu. Ia baru sadar bahwa doa-doanya hanyalah sekedar pemadam api dendam, bukan mengembalikan kerinduan yang pernah terenggut.

“Bu, nanti Tuhan pasti datang ke rumah kita, ya. Dia pasti akan mengajak ayah pulang untuk makan bersama kita kan, Bu? Seperti kisah Zakeus yang pernah Ibu ceritakan ke Adam itu, lho,” anak bungsunya berceloteh, seolah ingin menghibur ibunya agar tidak menangis lagi. Padahal, Sarah merasakan sembilu itu makin menyayat hati perempuannya. Genggaman tangan mungilnya makin erat di jemari Sarah. Seolah mengajaknya untuk terus berharap akan sebuah keajaiban cinta dari seorang Bambang agar berpulang dari wanita yang telah merenggutnya. Malam pun makin larut. Mata anak bungsunya sudah terpejam menghiasi seulas senyum yang masih tersisa dalam peraduannya. Air mata Sarah pun masih berkilau di kening anak yang baru saja dikecupnya penuh cinta.*** (terima kasih untuk Kelik atas kisahnya)

Oleh: Leo Wahyudi S

HA TIGA

Kurang apa lagi sih dengan segala kelebihan yang kau miliki? Bentuk badanmu bagus. Tinggi, rambut hitam lepas mengurai di punggungmu. Mata bening berpadu senyum yang selalu indah dipandang. Jendela hatimu selalu berkarib dengan sorot mata dan senyummu. Berjajar ketegaran dan ketulusan. Seolah menjadi benteng kokoh yang melindungi kerapuhan sosok perempuan yang kodrati. Ronamu pun bisa bersalin rupa, bermetamorfosa dari kecantikan alami. Saat dandan, saat biasa, saat bangun tidur, saat kuyu, saat ceria, kau sungguh pemain watak seribu muka. Semua cantik. Subyektif sih. Namun ketika subyektifitas menjadi perpektif kolektif, toh akhirnya akan memunculkan obyektifitas. Semua karena wajah cantik seribu muka yang sering mengecohku saat kulihat mukamu di media sosial.

“Masih kurang apa lagi? Tugasmu tinggal mensyukuri seabreg berkah dan anugrah. Masih kurang cantik lagi?” kataku memrotes. Semua gegara dia bilang bahwa sudah lama tak melakukan perawatan. Yah, semenjak prahara itu bermunculan. Dua puluh empat jam tambah sebelas jam pun belum cukup memberi ruang untuk setiap keping prahara.

Wajar juga sih, bagi seorang perempuan semacam dia. Merawat diri bagian dari mencintai diri. Wajar pula sih kalau ia seolah telah kehabisan waktu bahkan untuk memoles goresan di kuku jari, yang bagi laki-laki tak penting. Tapi toh tanpa perawatan tubuhnya masih selalu indah untuk dinikmati indera penglihat. Perkara persepsi soal kebutuhan antara laki dan perempuan inilah yang sering jadi biang ribut dalam sebuah relasi. Selalu ada dua dikotomi persepsi yang berbeda.

“Wah, semalem gua jadi malu ama suami gua. Gilak! Gua kayak kesetanan. Minta nambah melulu. Suami gua tepar, nggak kuat. Nih gara- gara suntik seminggu lalu,” kata seorang ibu paruh baya.Teman seperawatan yang rutin menyambangi ahli kecantikan langgananku. “Lu sendiri gimana, say? Bisa berapa ronde ama laki lu?”

Bagaikan petir di siang bolong menyambar kuping. “Aku harus jawab apa, Mas? Menyakitkan, tau. Boro-boro satu ronde. Tiga bulan sekali aja belum tentu,” kata Novin.

Gegara suntikan gerovital H3 bikin sakit hati. Gegara H3 pula jadi mengingatkan akan hari H untuk menunggu ketok palu hakim yang mensahkan bahwa aku akan sendiri lagi. Memisahkan sumber prahara agar hidupku tenang. Aku hanya ingin setting ulang. Restart agar komputer hidupku tidak hang, crashed.

Tak hanya antara laki dan perempuan, gagal paham pun kadang terjadi di kalangan perempuan. Padahal hanya soal perawatan. *** (Leo Wahyudi S)

Photo credit: eyanasalon.com

NOTASI

And I can’t fight this feeling anymore
I’ve forgotten what I started fighting for
It’s time to bring this ship into the shore
And throw away the oars, forever

Cause I can’t fight this feeling anymore
I’ve forgotten what I started fighting for
And if I have to crawl upon the floor
Come crashing through your door
Baby, I can’t fight this feeling anymore

Lagu REO Speedwagon yang ditulis Kevin Cronin itu serasa berdentam menemukan ritme yang pas dengan gemuruhnya hati. Meresapi lirik lagu di sepanjang tol Cipali serasa tidak cukup. Ratusan kilometer masih bel berujung saat lirik itu menghunjam tajam ke relung. Memori masih terseok berlari di belakang, teringat pertemuan terakhir.

Duniaku kini menjadi hiperbolis. Aku lebay. Harus berani kukatakan, kau bagaikan partitur lagu yang mendorongku untuk selalu melihat dan mendentingkan tuts- tuts piano. Harmoni nada itu selalu memanjakan indera pendengaranku yang memantrakan dentingan hati.

Kenapa ketulusan persahabatan tanpa pamrih itu menjadi berpamrih meski tanpa kata ‘pamrih’. Kata hati tak harap kembali. Kasih yang selalu terdoktrin selama ini menjadi teringkari saat mendengar lagu itu. Hati bagaikan angin yang bisa menelusup seenaknya kemanapun ia ingin. Gegara hati tak bermata inilah perkara bermula.

Kedekatanku denganmu tulus adanya. Awalannya pun bukan kebetulan. Karena tak ada kebetulan dalam terang iman. Tak ada yang memaksa kita mendekat. Vibrasi alam yang membuat frekuensi kita tune in. Bagaikan mendengar lagu dari frekuensi radio yang pas. Nyaman, aman, mengalun dalam nada bening.

Aku hanya ingin selalu ada ketika kau memerlukan. Akulah tempat sampah segala kegalauanmu yang membuncah. Akulah spons yang kau jadikan peredam jeritan kesakitanmu yang mendera. Akulah tangan yang kau bimbing untuk mengolesi luka-lukamu. Aku pula yang ingin selalu memberikan bahu dan dada ketika kau lelah menegakkan dagu keakuanmu. Tak lebih, tak kurang.

Kau ibarat vas keramik yang tak ternilai. Aku hanya ingin menjaga, menikmati keindahannya. Aku hanya tak rela kalau vas itu ada rekahan. Aku ingin selalu menikmati keutuhan vas keramik itu sepenuhnya. Kalau boleh jujur lagi, aku tak ingin kau pergi meninggalkan Dia yang selama ini telah kau peluk.

Sayang, aku kelewat protektif. Aku kelewat lancang. Sampai beberapa sidik jariku tertinggal di tubuh vasmu. Aku lancang. Atau, kurang ajar? Ya, mungkin… I’ve forgotten what I started fighting for
And if I have to crawl upon the floor
Come crashing through your door…
Terngiang lagi potongan lirik lagu itu.

Aku tercenung. Jatuh hati dan jatuh benci sama-sama kubenci, karena dua-duanya selalu menjerumuskanku dalam kedunguan. Terdengar kutukan, “kau tak lebih dari bajingan laki-laki yang selalu ingin menelanjangi perempuan sebaik dia. Pantas kalau kini dia merentang jarak.”

Kau kini jauh. Bahkan menjauh. Aku merasa itu. Menjauhkan frekuensi yang pernah kita nikmati bersama, agar suara itu tak kudengar lagi. Aku telah menyentuh buah sakral di Taman Eden milikmu. Kini aku hanya ingin merawat keranjang yang pernah kau penuhi dengan  sampah, sumpah dan segala serapahmu. Setidaknya aku masih beruntung, karena dari baunya pun aku masih terhidupi oleh energi positifmu.

What started out as friendship, has grown stronger … Suara lagu itu sayup-sayup terdengar mencemooh kedunguanku.*** (Leo Wahyudi S)

Photo credit: amazon.com

GORENGAN SORE

Raja siang mengangkangi belantara beton dengan ratusan bangunan jangkung. Aku menyelinap di antara bayangan-bayangan teduh demi menyembunyikan diri dari tatapan sang raja siang yang garang. Di sebuah ujung bayangan teduh aku tiba-tiba terhenti. Getar telepon genggamku yang mengajakku berhenti. Kulihat layar gawaiku. Rupanya sahabatku igin bersilaturahim karena sudah lama tak berkontak.

Dulu kami biasa  berkabar meski terpisah jarak ribuan kilometer. Dulu tulisan di kertas menjadi saksi ketulusan hati kami untuk saling berbagi cerita dan canda. Kini setelah semua maju, gawai canggih mampu menipiskan jarak noktah-noktah di bumi nyaris bukan dihitung lagi dengan kilometer, tapi satuan detik sebagai hitungan jarak. Ironisnya, kami malah masih merasa di ribuan kilometer jauhnya.

“Hahaha… sama aku juga kangen nih. Kapan ya kita bisa ketemu kayak dulu lagi…Martin baik, anak-anak juga sehat semua,” katanya di seberang telepon. Kami selalu saling berkabar tentang keluarga kami. Selalu kami hiasi dengan canda dan tawa seperti 25 tahun silam. Selalu pula kami saling memberi inspirasi tentang cinta dan kehidupan.

Suara Piya sembuat membuatku tercenung sejenak. “Iya bisnis yang baru dirintis Martin ternyata bangkrut. Ratusan juta melayang. Ya, Martin agak stres juga sekarang, haha….” kata Piya. Dia selalu khas dan unik di mataku. Kami selalu bisa berbagi canda dan tawa, sekalipun saat susah. Aku tak bisa membayangkan Martin, suami Piya yang sangat dermawan dan baik hati itu kini terpuruk. Padahal secara ekonomi sudah sangat mapan sebelumnya. Tak bisa kubayangkan pula kalau itu terjadi padaku.

“Tugasku sekarang simpel, kok. Tiap sore membuatkan dia minum, menghidangkan gorengan kesukaannya, lalu kami duduk berdua. Melihat dia tersenyum dan puas menikmati gorengan bikinanku sudah membuatku lega. Berarti Martin masih waras, tidak depresi. Itu saja yang kulakukan agar suamiku tidak merasa jatuh…hahaha…” lanjut Piya masih sambil terkekeh di ujung telepon. Aku sontak merasa sangat malu. Aku baru tahu bahwa ada cara untuk tetap bahagia dengan sederhana dalam keluarga. Aku belum berani tertawa seperti itu. Padahal sebenarnya akupun sedang terpuruk seperti Martin. “Halooow…halooo…kok malah diem, sih…haloo, Mas…” suara Piya membuyarkan kegalauan dan rasa maluku. *** (Leo Wahyudi S)

(Sudah diterbitkan dalam antologi 100 cerita pendek Komunitas Penulis Katolik, Deo Gratias, “Burger Terakhir yang Kubuang”, SatuKata Book@rt Publisher: Malang, 2017:120)

Photo credit: popbela.com

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: