Opinion

JARI TELUNJUK

Jakarta dan sekitarnya kebanjiran sebagai musibah dan penanda tahun yang baru saja berganti. Banyak orang terdampak yang menderita. Teman saya sampai absen kerja karena pakaiannya basah semua. Saudara teman saya katanya malah kehilangan dua mobil. Hanyut tak tahu ke mana. Banjir kali ini sungguh fenomenal. Air bah masuk ke klaster-klaster elit tanpa pandang bulu. Bahlan di daerah yang sama sekali bebas banjir sebelumnya.

Melihat kondisi ini, sosok pemimpin, misalnya Amis Baredan, dituding publik sebagai biang kerok banjir Jakarta awal 2020. Tuhan dan alam pun aman dari tuduhan. Karena semua kesalahan seolah ditimpakan ke sang pemimpin itu.

Saya tidak menyalahkan siapapun. Toh alam sedang unjuk gigi, kebetulan di daerah-daerah yang selama ini mustahil tersentuh banjir. Justru saya kagum dengan sosok pemimpin seperti Amis Baredan. Saya kagum dengan kepintarannya sebagai akademisi bergelar tinggi. Saya kagum dengan nyalinya untuk menjadi pejabat publik sekalipun wanprestasi. Tingkat kepercayaan dirinya sangat mengagumkan.

Hanya satu yang saya sayangkan, mengapa nyalinya digunakan untuk melacurkan kualitas intelektualitasnya yang summa cum laude itu. Penalaran ilmiah begitu gampang diputarbalikkan dengan retorika dan silat lidah. Kritik dan polemik dibalas dengan jari telunjuknya. Ia sangat piawai menggunakan jari telunjuk dan lidah retoris untuk mencari kambing hitam. Ia pandai mengumpankan bola liar ke lawan.

Banjir membawa berkah pansos (panjat sosial) karena ia langsung menjadi media darling, diekspos media manapun untuk memamerkan inovasi pencarian kambing hitam. Ada netizen yang berkomentar “Stok piaraan kambing item miliknya banyak banget, nggak habis-habis”. Secara satir warganet ini ingin mengatakan stok kambing hitam yang bisa jadi sasaran lemparan kesalahan banyak sekali. Hal ini dimaksud agar Si Amis aman dan bebas dari segala tuduhan.

Istilah kambing hitam ini lebih banyak digunakan sebagai metafora yang merujuk kepada seseorang yang dipersalahkan untuk suatu kemalangan. Ini biasanya menjadi cara untuk mengalihkan perhatian dari sebab-sebab yang sesungguhnya dari suatu persoalan. Istilah ini sebenarnya berakar dari budaya Yahudi yang merayakan ritual keagamaan Yom Kippur. Mereka memercayai bahwa dosa-dosa mereka akan dihapuskan ketika seorang imam atau pemimpin ibadah meletakkan tangannya di atas seekor kepala kambing hitam yang telah dipilih sebelumnya. Setelah itu, si kambing akan diusir pergi ke tanah gersang untuk membawa dosa-dosa para umat yang menjalani ibadah tadi.

Dalam perkembangannya, orang memang cenderung tidak mau disalahkan. Mereka lebih senang menuduh orang lain untuk menanggung kesalahan. Menurut Ronny R. Noor (2018) dalam sebuah artikel Kompasiana, ada beberapa sebab orang selalu menyalahkan orang lain termasuk lawan politiknya. Dalam ilmu psikologi, salah satu penyebabnya adalah sinisme kronis. “Orang yang memiliki karakter ini biasanya selalu berpikir dan mengkritisi serta tidak percaya pada orang lain. Orang ini menganggap orang lain sebagai ancaman karena  membahayakan dirinya. Biasanya orang yang memiliki kelainan ini seringkali memperlihatkan perilaku culas dan curang, selalu ingin mengambil keuntungan bagi diri sendiri serta menjatuhkan orang lain.”

Menyalahkan orang dengan satu jari telunjuk bagi sementara orang adalah simbol kemenangan. Namun biasanya orang semacam ini lupa bahwa tiga jarinya yang lain sedang mengarah kepada dirinya sendiri. Kalau dilihat dari banyaknya jari, berarti, siapa yang seharusnya dipersalahkan? Pemimpinnya atau kambing hitam? Tapi kasihan si kambing hitam selama berabad-abad harus selalu menanggung kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Ernest Bevin, seorang pegawai negeri di Inggris pada sekitar tahun 1950-an, mengatakan “Unintelligent people always look for a scapegoat”. Orang yang dungu selalu mencari kambing hitam. Biarlah Bevin yang bisa menilai Si Amis Baredan ini. *** (Leo Wahyudi S)

Photo credit: gettyimages.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: