Inspiration

ANTUSIASME

Sahabat saya pernah berkisah tentang sejarah hidupnya. Masa mudanya dilakoni dengan penuh dinamika kenakalan. Dia pernah mengalami kehidupan keras di jalanan di bilangan Malioboro. Pendidikannya di sebuah sekolah menengah kejuruan makin membuatnya liar. Tawuran, bolos sekolah, semua dilakoni dengan gembira dan tanpa dosa.

Tapi, semua keliaran itu menemukan titik balik ketika ia berkenalan dengan dunia olah raga gulat. Keliaran itu tersalur. Entah apa motif awalnya, yang jelas sahabat saya mulai menjalani latihan gulat itu dengan penuh antusias. Ia pun tidak bermimpi menjadi pegulat profesional. Ia hanya menjalani latihan demi latihan sebagai olah raga.

Semua tidak ada yang sia-sia. Jerih payahnya pun akhirnya berbuah. Ia tampil dan memenangi banyak pertandingan gulat di tingkat daerah dan nasional. Ia telah dinobatkan menjadi atlit gulat. Hidupnya lebih banyak dihabiskan di pusat pelatihan dan arena kejuaraan. Di usia remaja ia berhasil mengoleksi banyak medali emas. Namanya pun makin berkibar mengharumkan nama sekolah dan pemerintah daerah, membanggakan keluarga dan teman.

Namun itu tinggal kenangan. Sejarah manusia selalu bergerak, mencari titik kebaruan dan keseimbangan. Begitupun dengan kisah sahabat yang mantan atlit gulat tadi. Sejarah bukan bergerak sendiri. Nasib dan pilihan hidupnya telah membelokkan alur kehidupannya. Ia menolak kesempatan dan tawaran jabatan di instansi pemerintah. Ia, meski dengan penyesalan, memilih untuk tidak mengambil kesempatan itu dan menjadi buruh di sebuah pabrik sepatu kondang.

Alur sejarah kemudian terbelokkan kembali ketika akhirnya ia memutuskan mundur dari pabrik itu. Ia memilih untuk membangun usaha sendiri. Ia menjadi tukang dondom atau tukang permak. Sebagaimana mengawali karir gulat, ia belajar dengan tekun agar bisa menjadi penjahit hebat.

Ia kini menikmati usahanya yang sudah mulai berjalan. Pelanggannya pun makin hari makin banyak. Dulu ia mengais-ngais dan mengejar rejeki. Kini ia sibuk mengelola datangnya rejeki agar tidak kekenyangan dan menjadi jumawa. Ia begitu menikmati usahanya. Ia mencintai proses ketika ia merajut kain, menyambungkan yang lepas, mengecilkan yang kebesaran, membesarkan yang kecil, menutup yang rombeng. Senyum dan ketekunannya beriring bersama gerakan jarum jahit yang dimainkannya. Ia menikmati kebahagiaannya bersama anak dan istrinya.

Saya lalu teringat seorang pakar spiritual pernah berujar, “Kemewahan dan kenyamanan bukan syarat untuk membuat kita bahagia. Tapi, untuk bahagia kita harus memiliki sesuatu yang bisa membuat kita antusias.” Untuk bisa antusias berarti kita harus mencintai apa yang kita lakukan dengan penuh cinta. Disanalah kita bisa menjahit kebahagiaan dengan jarum semangat dan benang antusiasme. ***(Leo Wahyudi S)

Photo credit: kumparan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: