Parenting

ANAK PANAH

Suatu malam anak saya berbincang santai tentang kegiatan sekolahnya, kegiatan pribadinya, teman-temannya. Ceritanya beragam. Ada yang lucu, yang menyebalkan, yang menyenangkan. Namun curahan hatinya yang terakhir adalah tentang perasaan dirinya yang seolah tertekan. Ia merasa kebebasan dirinya seolah terenggut. Anak gadis millennial ini seolah tidak bisa menentukan siapa dan apa yang bisa dilakukan untuk dirinya. Semua serba didikte oleh perintah guru dan ambisi orang tua. Semua menyiksa dirinya karena ia tak bebas lagi.

Kami belajar bahwa Generasi Millenial harus mendapat perlakuan khusus. Ada kesenjangan generasi yang nyata kita alami dan rasakan. Kami sebagai orang tua sadar, anak-anak millenial sekarang tidak seulet dan setangguh generasi sebelumnya. Mereka cenderung easy going dan santuy dalam banyak hal. Mereka tidak bisa dicekoki dengan norma dan nilai begitu saja. Kalau tidak tepat caranya, mereka akan muntah dan bahkan antinorma, antikemapanan. Maka perlu kehati-hatian dalam berkomunikasi dan cara menangani kelakuan mereka.

Saya teringat beberapa tahun lalu ada tulisan yang sempat viral via jaringan BBM. Ceritanya tentang seorang pemanah. Untuk membidik sasaran, seorang pemanah akan berhati-hati memasang anak panah di tali busurnya. Tali dan anak panah kemudian ditarik jauh-jauh ke belakang. Daya lentur tali busur itulah yang akan melontarkan anak panah terbang menuju ke sasaran yang dikehendaki.

Dalam kehidupan, banyak sekali peristiwa yang membuat kita merasa ditarik ke belakang. Kita mengalami kemunduran. Dan, tidak jarang kemunduran dan peristiwa ditarik ke belakang itu menjadi pengalaman yang menyakitkan. Orang yang dulu penuh semangat, dengan kehidupan mapan, bergelimang harta, tiba-tiba ditarik mundur, jatuh dan terpuruk. Orang yang vokal dengan gagasan dan inovasi tiba-tiba ditarik mundur oleh atasan karena dianggap pembangkang. Kita sendiri yang terlalu berambisi untuk meraih sesuatu dalam hidup atau karir, tiba-tiba terhempas dalam kehampaan tanpa pengharapan.

Ada banyak contoh dan kisah hidup yang membuat kita terasa mundur atau bahkan merasa jatuh terpuruk. Benarkan demikian? Kalau kita mencoba menganalogikan kita dengan tarikan tali busur, barangkali ada sesuatu yang bisa menginspirasi kita di saat hidup kita seolah sedang mengalami kemunduran atau kejatuhan.

Dalam konteks pemaknaan yang merujuk pada Tuhan, mungkin bisa dianalogikan Sang Pemanah itu adalah Tuhan. Kitalah anak panahnya. Kita kadang ditarik mundur, karena Tuhan sedang membidik sesuatu. Membidik sasaran harus penuh perhitungan dan kehati-hatian. Bukan proses spontan. Ada proses menunggu sebelum tali busur dan anak panah itu dilepaskan.

Sayangnya, dalam proses pelepasan anak panah itu, kita seolah merasa sedang diazab, dicobai, disengsarakan, dijatuhkan, direndahkan, diberi cobaan, dan sebagainya menurut versi kita yang gampang mengeluh ini. Tapi dalam konteks iman, mungkin saat kita ditarik mundur ini sebagai sebuah ancang-ancang yang dibuat Tuhan sebelum kita dilepaskan seperti anak panah. Kita sebenarnya sedang dibantu Tuhan untuk membidik sasaran yang tepat. Begitu anak panah melesat, maka akan langsung menghunjam sasaran dengan akurasi tinggi dalam versi Tuhan.

“Kamulah anak panah yang sedang ditarik mundur dengan pengalaman-pengalaman yang tidak mengenakkan itu, Nak. Kamulah anak panah yang sedang dibidikkan Tuhan agar nanti bisa melesat menuju sasaran dengan tepat,” demikian yang saya katakan kepada anak saya. *** (Leo Wahyudi S)

Photo credit: worldarchery.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: