Inspiration

BLAME GAME

Suatu ketika anak saya tak sengaja menyenggol sebuah blender kesayangan ibunya. Entah bagaimana kejadiannya, blender yang awalnya berada di rak dapur itu jatuh. Pecah berantakan. Padahal blender itu merupakan senjata penting ibunya untuk mengolah bahan masakan. 

Hebatnya, anak saya tidak pernah merasa bersalah sampai detik ini. Apalagi meminta maaf pada ibunya. Dia berkeyakinan dan selalu membuat alasan bahwa blender itu jatuh sendiri. Sebuah alasan yang tak masuk akal yang selalu dijadikannya argumen. Saya sebenarnya kecewa bukan karena blender yang pecah, tetapi sikapnya yang sama sekali tidak dewasa meskipun umurnya sudah menjelang dewasa. 

Betapa sering kita pun tidak bersikap dewasa ketika kita melakukan kesalahan. Kita tidak mau mengakui kesalahan. Karena memang lebih mudah mengangkat jari telunjuk dan menuding orang atau pihak lain yang layak dipersalahkan. Itulah blame game, kecenderungan untuk mempersalahkan pihak lain. Ada banyak contoh semacam ini. Apalagi di dalam suatu persidangan. Seorang terdakwa kebanyakan akan berkilah dengan ribuan dalih sambil mempersalahkan pihak lain, tanpa mengakui bahwa dia salah. Baru setelah kalah telak dengan bukti-bukti meyakinkan, maka seorang terdakwa akan mengaku bersalah. 

Pada dasarnya tak banyak orang yang mau berjiwa besar yang dengan rendah hati mengakui kesalahannya. Tak ada orang yang mau berbuat salah. Yang banyak justru orang yang melemparkan kesalahan. Butuh keberanian untuk mengakui bahwa kita salah. Dengan demikian kita mengajarkan orang lain bahwa kita tidak bisa selamanya benar. 

Mateo Tabatabai dalam bukunya “Mind-made Prison” mengatakan bahwa orang yang selalu menyalahkan orang lain sesungguhnya adalah orang yang selalu merasa tak berdaya. Mereka merasa bahwa mereka tak punya tanggung jawab apapun terhadap sesuatu yang terjadi di luar dirinya. Maka orang yang selalu menyalahkan orang lain sebenarnya adalah orang yang belum memiliki kebebasan dan rasa tanggung jawab sejati.

Memang betapa mudah mempersalahkan orang lain. Padahal segala hal yang kita pikirkan, kita lakukan itu menuntut pertanggungjawaban kita. Kalau kita selalu menuduh orang lain berarti kita harus siap membayar mahal atas apa yang kita lakukan dalam permainan dengan mempersalahkan orang lain. 

Harga yang harus kita bayar ketika kita menyalahkan orang lain adalah bahwa kita telah menyerahkan semua kekuatan pribadi kita. Kita berpura-pura seolah kita menjadi korban yang tak mampu melakukan apapun. Apakah memang ini niat kita?

Yang jelas sikap selalu menyalahkan orang lain itu sejatinya akan merendahkan kualitas hidup kita sendiri. Tak hanya itu, kualitas kehidupan sosial kita pun akan turun nilainya. Kita akan kehilangan respek. Kita pun akan selalu dipandang sebagai pengecut yang tidak berani mengakui kesalahan. 

Mengakui kesalahan dapat menunjukkan kualitas pribadi seseorang. Di sana ada rasa tanggung jawab, bukan hanya pada dirinya, tetapi pada hal-hal yang di luar dirinya. Maka layaklah kita renungkan kata-kata Lynn Johnston, seorang kartunis Kanada, “An apology is the superglue of life. It can repair just about anything.” Sebuah permohonan maaf adalah lem kehidupan yang super kuat, karena akan dapat memperbaiki hampir semua hal. ***(Leo Wahyudi S)

Foto diambil dari dreamstime.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: