Inspiration

“SAKITNYA TUH DI SINI …”

Ada seorang sahabat. Dedikasinya luar biasa, baik di keluarga, di kantor, di masyarakat, maupun di gereja. Ia mengabdikan total seluruh tenaga dan pikirannya tanpa berhitung-hitung untung dan rugi. Namun belakangan, sahabat saya ini tidak kelihatan di banyak kegiatan. Rupanya ia sedang sakit maag akut. Sakitnya kambuhan, dan kali ini agak parah.

Usut punya usut, ternyata dia jatuh sakit karena depresi akibat pekerjaan kantor. Selain pekerjaannya berat, ada hal-hal prinsip yang sekarang tidak bisa ia lawan. Banyak hal di kantor yang bertentangan dengan hati nuraninya ia pendam saja. Akibatnya, ia jatuh sakit baik fisik dan psikisnya. Penyakit maag biasanya berkorelasi dengan pikiran.

“Saya sudah ke dokter bolak balik. Hasilnya tidak ada. Tetap saja sakit saya belum sembuh,” katanya.

“Penyakitmu itu gampang obatnya. Semua dari pikiran. Hilangkan sumber stresmu. Kalau memang kau bekerja di kantor itu tidak membuat hepi, tapi malah epilepsi, lebih baik keluar. Cari pekerjaan lain. Ngapain juga kerja capek-capek, gaji hanya untuk berobat. Itupun belum tentu sembuh,” saya nyerocos. Niatannya memberikan solusi.

“Saya sudah kepikiran mau keluar dari pekerjaan. Saya sudah tidak tahan. Saya stres. Tapi, saya juga khawatir kalau saya keluar dari pekerjaan, bagaimana saya bisa menghidupi anak dan istri?”

Mendengar jawaban itu, sontak saya memberi kotbah dadakan kepada sahabat saya. “Sungguh penyakitmu parah. Lemah fisik, ditambah lemah iman. Lengkaplah penderitaanmu. Berapa tahun kau bekerja siang dan malam mempersembahkan diri untuk gereja, keluarga, dan masyarakat? Sudah berapa puluh tahun kau beribadah ke gereja? Sakitnya tuh di pikiran dan hatimu. Bukan di perutmu. Imanmu ternyata tipis!”

Betapa sering kita larut dalam permasalahan hidup kita. Kita merasa hanya kita satu-satunya orang malang yang penuh masalah di dunia ini. Seolah masalah kita besar sekali, tanpa pernah ada solusi. Di sisi lain, betapa kita lupa akan kebesaran Tuhan. Ketika kita membesarkan masalah kita, berarti kita sedang mengecilkan dan meremehkan kebesaran Tuhan. Padahal masalah ‘besar’ kita sejatinya hanya setitik noda hitam di tangan Tuhan yang maha segalanya. Sering kita tanpa sadar mengecilkan kekuatan Tuhan dengan permasalahan yang kita anggap besar.

Dalam konteks kehidupan kita yang katanya beriman, sudah selayaknya kalau kita mencoba membawa Tuhan dalam permasalahan kita. Anggaplah diri kita dan permasalahan kita hanya seujung jarum di tengah lapangan nan luas milik Tuhan yang Maha Mengatasi. Berilah Dia peranNya untuk mengambil alih permasalahan kita. Tugas kita hanya membersihkan virus-virus kekuatiran, pikiran negatif, ketidakpercayaan, ketakutan. Kita bayangkan kita menjalankan program antivirus di laptop alam bawah sadar kita. Biarkan program itu bekerja. Setelah virus tertangkap, lalu tugas kita hanya memencet tombol ‘delete’, lalu… hilanglah virus-virus yang selama ini menghalangi kekuasaan dan kebaikan Tuhan dalam hidup kita.

“Percayalah, Tuhan sedang menanti saat tepat untuk membalas semua waktu, tenaga, pikiran, dan kesehatan yang telah kau persembahkan untuk melayani Dia selama ini. Waktu pasrah dalam iman, itulah yang Dia nantikan darimu,” saya tegaskan sekali lagi. Sahabat saya hanya tercenung. Semoga imannya kembali utuh. ***(Leo Wahyudi S)

Foto diambil dari alodokter.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: