Parenting

MENIUP BALON

Beberapa tahun lalu, saya berkesempatan untuk menjadi pembicara di salah satu sekolah swasta untuk berbagi pengalaman dalam pola asuh anak. Saya sempat agak grogi ketika panitia bertanya apakah saya seorang psikolog. Tentu saya jawab, “Bukan, saya bukan psikolog. Saya praktisi yang memraktikkan bagaimana mendidik anak.” Saya merasa pe-de dengan jawaban itu. Toh saya memang orang tua yang, meskipun tidak baik-baik amat, bisalah mendidik anak. 

Dalam sesi itu, saya membagi-bagikan balon kepada para hadirin, yang notabene adalah para orang tua yang anaknya bersekolah di tempat tersebut. Saya menyuruh mereka untuk meniup balon itu, dari keadaan lembek sampai menggelembung besar. Ada yang kesulitan. Ada yang bisa menggembung, tetapi lepas dari mulut ketika ukurannya baru setengah. Ada yang kebablasan meniupnya sampai balonnya pecah. 

Waktu masih bujang, saya tidak punya anak, tetapi punya banyak teori. Ketika sudah menikah, saya tidak punya teori, tetapi punya banyak anak. Untunglah, ketika anak sudah besar, teori itu muncul. Hasil dari praktik saya mengasuh dan mendidik anak. 

Ternyata mendidik anak itu saya ibaratkan orang yang meniup balon. Ketika balon masih lembek, kita harus memegangnya dengan hati-hati agar dapat ditiup dengan baik. Kita tiupkan angin sehingga balon itu berkembang. Semakin besar balon itu, tangan kita pun ikut mengembang seiring besarnya balon. Kedua tangan kita tetap memegang sambil mengikuti perkembangan balon agar tidak terlepas. Semakin besar balon, semakin longgar pegangan kita. Kita hanya menjagai agar balon tidak lepas dari mulut. Sampai ketika tiupan sudah cukup, maka balon kita lepas dari mulut agar bisa diikat dan dilepaskan. 

Ketika anak-anak masih kecil, saya sangat menjagai mereka dengan hati-hati. Mereka masih lembek. Semakin anak-anak berkembang dan bertumbuh dewasa, maka tangan saya pun semakin longgar mengikuti perkembangan mereka. Ketika anak sudah tumbuh remaja dan dewasa, tangan saya tidak bisa menggenggam mereka terlalu erat. Kalau terlalu erat memegang, mereka bisa ‘pecah’. Sia-sia kita meniup balon itu. Sia-sia pula kita membesarkan mereka. 

Ketika anak sudah beranjak remaja atau menjelang dewasa, kita tidak bisa seenaknya memegang mereka seolah mereka masih menjadi balon kecil. Semakin kita menekan dan mendidik mereka dengan keras, maka risikonya adalah ‘pecah balon’. Mereka akan memberontak dan memberikan perlawanan. 

Betapa banyak orang tua yang tanpa sadar masih menjagai anak-anaknya yang sudah tumbuh dewasa dengan perlakuan seperti anak kecil. Mereka terlalu ketat menerapkan aturan dan tekanan kepada anaknya. Mereka seolah sudah merasa menjadi orang tua paling benar dalam mendidik anak. Padahal mereka sedang menghadapi risiko ‘pecah balon’ kalau pola asuh semacam itu diterapkan terus menerus. 

Ada pepatah dari Bruno Bettleheim yang mengatakan, “Mendidik anak-anak itu merupakan upaya kreatif, sebuah seni, bukan ilmu pasti.” Membesarkan dan mendidik anak-anak itu itu seperti meniup balon. Tangan harus mengikuti pertumbuhan mereka sampai mereka layak dilepaskan. Untung para orang tua dalam seminar sehari itu mengangguk-angguk seolah mengerti apa yang saya sampaikan. Saya merasa lega, meski bukan seorang psikolog. *** (Leo Wahyudi S) 

Photo credit: dreamstime.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: