Feature

“Sekolah Penting untuk Menjaga Hutan dan Adat”

Rintisan perjuangan almarhum Yusak Adrean Hutapea dari KKI Warsi, sebuah lembaga swadaya masyarakat bidang konservasi lingkungan dan pengembangan masyarakat, 16 tahun silam rupanya tidak sia-sia. Mendidik Orang Rimba untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung (Baca, Tulis, Hitung/BTH) bukan perkara mudah pada sekitar 1998. Bahkan pendidikan bukan suatu hal yang mudah diterima Orang Rimba hingga saat ini.

Namun dengan keteguhan para aktifis Warsi seperti Yusak, akhirnya Orang Rimba yang tinggal di Makekal Hulu, Taman Nasional Bukit Duabelas di Kabupaten Tebo, Jambi, pun ada yang termotivasi untuk belajar. Besudut adalah Orang Rimba pertama yang mau mengenyam pendidikan formal di luar hutan. Orang Rimba harus diyakinkan bahwa pendidikan tidak melanggar norma adat mereka. Justru lewat pendidikan, adat dan hutan mereka dapat dipertahankan.

Kini, jejak Besudut pun sudah diikuti oleh generasi muda Orang Rimba yang tinggal di Kedundung Muda, Taman Nasional Bukit Duabelas bagian selatan, di Kabupaten Batanghari, Jambi. Ada empat remaja, Beteguh, Budi, Besiar, dan Beteduh, yang mau mengikuti pendidikan formal di luar rimba. Mereka masuk di SMP Satu Atap 12, Sarolangun sejak dua tahun lalu.

Bagi Beteguh, sekolah akan dijadikan sebagai senjata untuk menjaga rimba ke depannya. “Sekolah itu penting untuk menjaga Orang Rimba sekaligus menjaga budaya dan adat serta nyawa kami yang selalu terancam,” kata Beteguh. Ia dengan bangga mengakui telah menjadi kader untuk pendidikan Orang Rimba bersama tiga temannya sejak 2012.

Beteguh dan teman-temannya harus bersekolah selama dua minggu di sekolah formal. Ia diangkat sebagai anak asuh dan tinggal bersama Kepala Sekolah SMP Satu Atap 12, Sarolangun. Hal ini dilakukan karena ia juga tetap harus kembali ke hutan untuk membantu keluarganya sambil tetap belajar di pondok belajar. “Sulit juga kalau harus masuk setiap hari,” kata Beteguh yang rumahnya harus ditempuh sekitar 4 jam berjalan kaki untuk keluar hutan.

Selain belajar secara formal di kelas, ia dan temannya juga ikut kelas jauh, dimana guru mendatangi mereka di Kantor Lapangan Warsi di SP I untuk memberikan pelajaran. “Di antara ketiga temanku, aku paling pintar ngomong. Kalau pelajaran aku tidak pintar,” katanya polos.

Ia mengakui kesulitannya untuk mengikuti pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika. Bahkan Bahasa Indonesia pun masih sulit bagi dikuasai oleh Orang Rimba. “Aku bukan merasa orang Indonesia. Aku adalah Orang Rimba. Kalau namanya (negara) Indonesia, harusnya mau membangun semua Orang Rimba. Nyatanya kami tidak dididik, kami tertinggal,” katanya sambil tersenyum.

Kini Beteguh dan teman-temannya yang berada di kelas 3 SMP ini sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti Ujian Nasional agar bisa lulus. Memang dibanding teman-temannya, Beteguh tampak menonjol. Seringkali ia diajak Warsi untuk pergi ke acara-acara resmi bersama pemerintah, masyarakat, dan media. “Aku paling senang menjadi orang terkenal, karena aku sering di-shooting  oleh media. Kalau aku terkenal, aku bisa sampaikan ke media tentang keadaan kita di sini sehingga suatu saat pemerintah bisa membantu,” katanya bangga dengan menyebutkan beberapa media elektronik ternama yang pernah meliputnya.

Beteguh tetap bersemangat meneruskan pendidikannya sekalipun ia sering dibuat kesal oleh teman-teman sekolahnya yang sering memandang rendah dan mengejeknya sebagai Orang Rimba. “Mereka menganggap Orang Rimba jorok, nakal. Padahal tidak semuanya jorok dan nakal. Orang-orang Rimba bisa lebih bersih dibanding orang-orang di luar,” sergah Beteguh.

Pondok Belajar di Hutan

Beteguh masih memegang janjinya untuk tetap kembali ke rimba. Justru pengalaman yang ia dapatkan akan ia gunakan untuk menjaga rimba. “Untuk apa aku hidup di luar, keluargaku ada di dalam. Walau kita maju dan pintar, jangan lupa untuk melestarikan adat budaya sendiri. Aku selalu ingat nasihat orangtuaku itu,” katanya dengan penuh keyakinan.

Beteguh bercita-cita menjadi peneliti adat Orang Rimba. Ia mengaku sudah mulai menulis, mengumpulkan pengalamannya, pengalaman orangtuanya. “Biar semua orang tahu adat Orang Rimba, sehingga hutan dipelihara untuk Orang Rimba,” kata Beteguh.

Beteguh juga bersemangat untuk mengajari anak-anak rimba agar tidak ketinggalan dari orang di luar. Tumenggung Nggrip Payung Alam, pemimpin kelompok Orang Rimba di Kedundung Muda, memberi dukungannya terhadap pendidikan anak-anak rimba. “Saya paling senang kalau anak-anak diajari di dalam hutan. Tapi kalau ada ujian, baru mereka ke luar. Di luar banyak anak rimba yang malas belajar,” kata Tumenggung.

Menurut Tumenggung, pendidikan itu penting sekalipun mereka Orang Rimba. “Kalau sudah pintar dan lulus, mereka tetap harus ingat hutan, tetap perhatian pada orang tua, adat, dan hutan,” katanya. Meskipun demikian, adat Orang Rimba masih melarang anak perempuan untuk belajar karena kepercayaan adat yang masih mereka pegang.

Di lain pihak, para aktifis di Warsi tetap berkomitmen untuk mengajari anak-anak Rimba di Kedundung Muda agar belajar baca tulis hitung setiap hari. Hal ini pula dilakukan oleh Jauharul Maknun dan beberapa temannya. Ia tinggal selama dua minggu di hutan untuk mengajari anak-anak di Kelompok Tumenggung Nggrip Payung Alam.

Di tengah gelapnya rimba TNBD, sekitar jam tujuh malam ia mulai memanggil anak-anak untuk belajar membaca di sensudungon (pondok yang dibangun seperti rumah panggung tanpa dinding) diterangi sebatang lilin. “Sebenarnya menyenangkan belajar bersama mereka. Sayangnya tidak semua anak di sini konsisten ikut belajar di pondok belajar,” kata Maknun.

Ia menyebutkan bahwa sekarang ia sedang menangani sekitar 10 anak yang datang silih berganti. “Hal ini bisa dimengerti, karena kadang mereka harus pulang untuk membantu orang tuanya di kebun atau di rumahnya,” katanya. Ia juga dibantu oleh anak-anak rimba yang sudah lebih pintar untuk mengajari anak-anak yang lebih kecil.*** (Leo Wahyudi S)

*Artikel ini pernah diterbitkan di website resmi Badan Pengelola Reduksi Emisi, Deforestasi dan Degradasi Hutan (BP REDD+) pada Februari 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: