Inspiration

KASIH 100 PERSEN

Hukum kasih dalam keyakinan umat Nasrani memang kadang di luar nalar. Dan, yang jelas tidak mudah untuk dilaksanakan seutuhnya seperti yang diajarkan Yesus. Masih ada fragmen-fragmen ego manusiawi yang membuatnya tidak utuh. Kasih sejati itu melawan dalil-dalil hitungan matematis.

Suatu ketika sahabat saya seorang pastor menanyai seorang ibu tentang kasih. “Ibu, kalau diukur dalam persentase, berapa besar cinta Ibu kepada suami, anak, dan kepada Tuhan?”

Setelah berpikir keras ibu itu lalu menjawab, “Kasih untuk Tuhan 50 persen, untuk suami dan anak-anak 50 persen.”

“Baik, Bu. Lalu untuk tetangga, untuk orang yang membenci Ibu atau yang tidak Ibu sukai berapa persen?” tanya Pastor lagi.

Kembali ibu itu terperanjat dengan pertanyaan mudah tapi sulit dijawab itu. Beberapa saat kemudian ia menjawab, “Tidak ada sisanya lagi, Pastor.”

Dialog itu sebenarnya masih panjang dan penuh kelucuan. Pasalnya, kasih harus dipecah-pecah secara distributif untuk mewakili porsi persentase yang harus diberikan untuk Tuhan dan sesama. Padahal kasih adalah suatu konsep kualitatif yang abstrak. Ketika harus diperhitungkan secara matematis, kasih seolah bisa dikuantifikasi.

Hukum kasih dalam keyakinan kristiani ada dua yang utama. Hukum utama dan pertama adalah perintah kepada manusia untuk mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi. Hukum kedua yang sama dengan itu adalah perintah kepada manusia untuk mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri. Dua hukum utama inilah yang menjadi spirit yang menjiwai kehidupan orang kristiani. Kabar tentang kasih inilah yang menjiwai seluruh Kitab Perjanjian Baru dalam kristianitas.

Jadi, kalau terpaksa kita harus mencari jawaban sempurna atas pembagian persentase kasih seperti yang ditanyakan pastor tadi sebenarnya gampang. Jawab saja semua dengan angka 100 persen, baik itu untuk Tuhan, keluarga, sesama, tetangga, bahkan musuh yang membenci ataupun yang (terpaksa) kita benci.

Secara teori, itu mudah. Tapi, ketika dipraktikkan, apakah juga akan semudah teori dan angka itu? Benarkah kita bisa mencurahkan kasih pada Tuhan 100 persen? Apalagi saat doa kita perlu tahunan untuk dikabulkan? Saat kita dalam kemalangan dan ‘merasa’ Tuhan tidak berlaku adil, mungkin angka 10 persen masih bagus, seandainya kita mengakui.

Apakah kita masih sanggup mencintai 100 persen sekalipun kita tahu pasangan kita mengkhianati kepercayaan dan kesetiaannya pada kita? Dalam kasus tertentu, angka 2 persen masih untung. Biasanya malah minus.

Saat ada orang mencelakakan kita sampai kita kehilangan pekerjaan, misalnya, apakah kita masih mau menyisakan kasih 10 persen saja untuk orang itu? Jangankan 100 persen, 1 persen saja sulit. Biasanya 99 persen adalah kebencian dan sakit hati kita. Atau, paling bagus 50-50. Artinya, melupakan atau tidak menganggap orang itu ada.

Mematuhi dan menjalankan hukum kasih bukan perkara mudah. Tuntutannya adalah 100 persen. Tapi bersyukurlah kita yang masih berjuang dengan fluktuasi matematis kasih itu. Meskipun hakikatnya kasih bukan perkara hitung-hitungan, tetapi sebuah totalitas tanpa memperhitungkan syarat dan mood kita.*** (Leo Wahyudi S)

Photo credit: idisciple.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: