Inspiration

BERHALA DI BALIK CERMIN 

​Dahulu, manusia mengenal berhala dalam wujud yang nyata seperti bongkahan batu atau kayu yang dipahat, atau patung emas yang dibentuk sedemikian agungnya. Benda-benda itu dijadikan sesembahan sekaligus panutan yang akan menuntun penyembahnya menjadi orang suci, terberkati, saleh, dan merasa benar. 

Ketika peradaban makin maju, berhala yang disembah pun kian mengikuti perkembangan jaman. Ada tanah,  rumah, kekayaan, harta, uang, kekuasaan, jabatan, mobil, wanita, senjata, dan sebagainya. Semua benda itu menjelma menjadi sesembahan tiap orang yang mata hatinya makin dibutakan oleh kenikmatan duniawi. Semua dikejar dengan menghalalkan segala cara.

Namun hari ini, kita menghadapi fenomena yang jauh lebih sunyi sekaligus lebih berbahaya. Berhala itu tidak lagi berdiri di atas altar pemujaan di tengah kota, melainkan bertakhta di dalam ruang gelap bernama ego. Kita sedang hidup di masa ketika “keakuan” telah menjadi tuhan baru yang disembah dengan begitu khusyuk, bahkan melampaui Tuhan yang sering kali hanya kita sebut namanya di permukaan 0bibir tanpa pernah di penghayatan.

​Keinginan untuk selalu dilihat, rasa lapar akan pujian, haus validasi, pengakuan, dan hasrat untuk selalu keluar sebagai pemenang dalam setiap persaingan  adalah bentuk persembahan harian kita. Kita membangun narasi tentang diri yang hebat, seolah-olah dunia ini adalah panggung sandiwara di mana kita adalah satu-satunya pemeran utama. Hanya kita sendiri yang layak dipuja-puji karena harta, takhta, kuasa, muka. 

Menariknya, dan ini yang membuat saya merenung cukup lama, hampir tidak ada lagi yang melayangkan protes. Mengapa? Karena kita semua sedang sibuk melakukan hal yang sama, yaitu memoles cermin masing-masing agar terlihat paling bening. Paling layak diakui dan dipuji. Kita tidak lagi saling mendengar, karena kita hanya sibuk mendengarkan gema suara kita sendiri. Kita tidak mau lagi saling memuji karena pujian hanya milik kita. Tak ada orang lain kecuali aku, egoku. Semua jadi narsis, sibuk memuji dan mengagungkan diri seolah yang paling hebat di muka bumi. 

​Penyembahan ego ini lebih mengerikan karena ia tidak terasa seperti dosa. Ia terasa seperti aktualisasi diri atau harga diri. Padahal, ketika ego sudah menjadi sesembahan, kita kehilangan kemampuan untuk mencintai orang lain dengan tulus. Kita hanya mencintai pantulan diri kita tanpa peduli orang lain. Saat kita merasa paling benar, paling hebat, cantik, tampan, kaya, sukses, sebenarnya kita sedang menutup pintu langit. Kita lupa bahwa di atas sana ada kekuatan yang Maha Besar, yang tidak membutuhkan validasi atau jempol dari siapa pun.

Di cermin kita melihat diri kita, muka kita, kecantikan, kegantengan diri kita. Tapi balik cermin itu ada ego yang sudah kita pertuhan. Kita bahkan menjadikannya sesembahan yang bahkan melebihi Tuhan yang selalu disebut dan dibela atas nama agama. Tanpa sadar kita menyembah berhala berupa ego dan keakuan melebihi segalanya.

​Mari kita coba melangkah mundur sejenak dari hiruk-pikuk pemujaan diri ini. Mari kita temukan kembali kerendahan hati yang mulai terkikis. Sebab, hanya ketika kita berani memecahkan cermin ego tersebut, kita bisa melihat dunia, melihat orang kain, ciptaan lain, dan Sang Pencipta dengan mata yang jernih. Cermin hanya untuk mengingatkan siapa jati diri kita. Bukan untuk menyembah ego dan segala atribut yang menempel.

Mari kita perlakukan cermin itu seperti kaca spion. Bukan untuk berkaca diri, tapi untuk melihat posisi orang lain, memberi jalan pada orang lain untuk mendahului. Cobalah untuk memberikan apresiasi tulus kepada seseorang atas keberhasilannya, tanpa sedikit pun menghubungkannya dengan kehebatan atau prestasi diri kita. Mari kita belajar untuk menjadi penonton yang tulus terhadap keberhasilan orang lain, dan rasakan betapa ringannya hati saat ego tidak perlu menuntut panggung untuk disembah dan dibuat agung.***

One thought on “Inspiration

Add yours

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑