Inspiration

MENGUBAH ORANG LAIN

Tersebutlah sebuah keluarga sederhana yang tinggal di sebuah kampung di pinggiran kota. Sang kepala keluarga hanyalah buruh serabutan. Kadang juga merangkap menjadi tukang becak. Sementara istrinya tinggal di rumah mengurusi dan membesarkan anak yang masih kecil-kecil.

Sudah bertahun-tahun suami istri itu membina hidup rumah tangga. Anak-anaknya pun makin bertumbuh dewasa. Selepas masa remaja, barulah anak-anak mereka menyadari bahwa kehidupan orang tua mereka sangat tidak harmonis. Mereka teringat bagaimana di masa kecil mereka harus melewati masa-masa sulit. Ekonomi keluarga yang sangat berkekurangan. Sementara pertengkaran orang tua menjadi makanan sehari-hari anak itu.

Salah seorang anaknya pun mengenang masa-masa pahit itu. “Aku menghormati kedua orang tuaku. Bagaimanapun mereka yang telah melahirkan dan membesarkan aku. Mereka telah bersusah payah membanting tulang dan memeras keringat siang dan malam hanya demi memberi makan dan pakaian anak-anaknya.

Namun yang tidak bisa aku terima sampai detik ini adalah sikap ayahku. Ayahku adalah seorang ayah yang amat egois. Ia seorang yang mudah naik darah tanpa alasan yang jelas. Sasaran kemarahannya pun selalu membabi buta. Ia bukan seorang ayah yang baik, yang mau menghormati istri dan keluarganya.

Ia bukan seorang ayah yang memiliki naluri kebapakan dan kedekatan pada anak-anaknya. Setiap hari selalu saja ada gara-gara yang memicu saraf marahnya. Untung ibuku seorang penyabar. Dalam setiap pertengkaran ia selalu berusaha mengalah. Bahkan tak jarang ia menyingkir dari rumah.

Dalam pertengkaran pernah ayahku berlaku kasar. Ia menganiaya ibuku. Tapi ibuku diam tak membalas. Air matanya bukan untuk kesakitan fisiknya, melainkan untuk anak-anaknya yang sedih melihat kelakuan ayahnya. Berkali-kali ibuku diusir keluar dari rumah, tapi ibuku tidak mau.

Ayahku egois dan selalu merasa paling benar. Masa depan anak-anaknya tidak pernah digubrisnya. Yang dipikir hanyalah orang lain dan saudara-saudara kandungnya. Ia tega membiarkan anak dan istrinya kelaparan demi membela adik-adiknya. Ia membiarkan anaknya tidak punya biaya untuk sekolah demi membiayai adiknya yang ingin sekolah.

Aku sampai kehilangan hormat dengan ayahku. Ia tidak layak dihormati. Ia juga mengusir pergi kakak-kakakku. Ia selalu mengekang kebebasan anak-anaknya, sementara ia sendiri seorang penjudi dan tukang main perempuan. Sekalipun demikian, ia masih merasa kelakuannya bukan kesalahan.

Sulit sekali mengubah kelakuan ayahku. Ibuku pun tak sanggup. Apalagi aku dan kakak-kakakku. Semua menyerah dan menyingkir dari ayahku. Pikirannya selalu negatif dan jahat pada anak dan istrinya. Aku selalu berdoa pada Sang Pencipta untuk mengubah kelakuan ayahku itu. Tapi doa istri dan anak-anaknya itu bertahun-tahun tak kunjung mendapat jawaban.”

Sudah berapa tahun anak itu berdoa melambungkan permohonan kepada Sang Pencipta demi mengubah sifat ayahnya yang kasar dan egois. Sudah tak terhitung air mata, kekecewaan, sakit hati tertoreh panjang di buku kehidupan keluarga itu.

Masa-masa indah yang seharusnya dialami pada masa remaja anak-anaknya pun hilang, terkuras habis untuk memikirkan sifat bapaknya. Tak terhitung kesempatan untuk menjadi orang baik dan berhati bersih terbuang percuma. Rasa jengkel dan benci terhadap ayahnya selalu hinggap di hati anggota keluarga itu. Tidak ada lagi rasa hormat dan  cinta di antara mereka.

Selalu dalam darasan doa adalah tuntutan agar Sang Pencipta mengubah dan menyadarkan ayahnya dari perilakunya. Namun, ada satu hal yang justru mereka lupakan dalam doa-doa yang mereka lambungkan selama bertahun-tahun. Mereka tidak pernah memohon agar Sang Pencipta mengubah diri mereka, sehingga bisa berdamai dan menerima sifat sang ayah apa adanya. Ayahnya memang telah diciptakan demikian adanya. Mungkin Sang Pencipta hanya berharap, anak dan istrinyalah yang bisa berubah hatinya sebelum bisa mengubah orang lain.

Betapa sering kita menginginkan perubahan atas diri orang lain. Kita melakukan segala upaya untuk mengubahna. Kalau tidak kesampaian, justru kita yang berubah menjadi pemarah, pencemburu, dengki dan benci. Lalu apa bedanya dengan orang yang ingin kita ubah. Lebih baik kita yang berubah sebelum mengubah orang lain. Siapa tahu orang itu justru berubah setelah kita sendiri yang berubah.  (Leo Wahyudi S)

Gambar diambil dari bali.tribunnews.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: