Keutamaan hidup diperoleh melalui ujian-ujian kecil keseharian kita. Kesetiaan, kejujuran, pun dibentuk oleh kebiasaan sederhana. Tapi betapa sering kita meremehkan dan mengabaikan hal-hal sepele dan sederhana. Pernyataan “Ah, gampang itu. Mudah. Soal kecil itu. Soal sepele itu” jadi bukti betapa kita sering meremehkan hal-hal kecil yang sesungguhnya tidak sekecil yang kita pikirkan.
Sudah banyak contoh akibat dari sikap orang yang meremehkan hal yang awalnya dianggap sepele. Saya banyak bertemu dengan orang atau situasi yang sering menganggap mudah atau sepele segala hal di awal. Faktanya, hal yang awalnya dikira sepele itu ternyata berdampak besar pada akhirnya. Tidak lagi sesederhana yang dipikirkan di awal. Sejak itu saya berhati-hati dengan tipe orang yang selalu menggampangkan atau menganggap enteng suatu perkara. Karena biasanya tidak akan berakhir segampang yang ia pikirkan sebelumnya.
Tulisan ini tidak juga menginspirasi orang untuk makin memperumit persoalan, atau mempersulit yang mudah. Tidak. Tapi kadang kita perlu memikirkan hal sepele dengan serius, karena dampaknya yang belum tentu sepele seperti yang kita pikirkan. Hati nurani yang masih sehat tentu tidak bisa bohong untuk memilahkan, mana persoalan yang benar sepele dan mana yang dampaknya serius ke depannya. Saya juga tidak mengajak orang untuk selalu overthinking. Tapi saya ingin mengajak agar orang untuk tidak selalu menggampangkan persoalan.
Ketika berbicara tentang kebenaran dan kejujuran, Albert Einstein pernah menulis bahwa siapa pun yang ceroboh dengan kebenaran dalam urusan-urusan kecil, tidak akan bisa dipercaya dalam urusan yang besar. Kita kerap membayangkan integritas sebagai panggung megah tempat kita mengambil keputusan-keputusan hidup yang menentukan. Padahal, panggung itu sebenarnya dibangun dari tumpukan keputusan kecil yang tak kasatmata setiap harinya.
Kejujuran dan kesetiaan tidak mendadak tumbuh saat ujian berat datang menghampiri kita. Semuanya diasah melalui peristiwa dan kejadian kecil dalam keseharian kita. Mungkin kita sering melakukan kebohongan kecil agar tidak menyakiti hati orang atau menghindari rasa canggung. Mungkin kita sering gagal menepati janji sederhana yang pernah kita ucapkan tanpa berpikir panjang. Mungkin masih banyak pula hal-hal kecil yang sebenarnya mengajari kita tentang kejujuran dan kebenaran, tapi kita abaikan. Ketika kita terbiasa melonggarkan kebenaran pada hal-hal kecil hanya karena merasa tidak ada yang melihat, kita perlahan membuat fondasi kepercayaan dalam diri kita sendiri retak, dan lama kelamaan rusak.
Integritas, kejujuran, kesetiaan, kebenaran bukanlah saklar yang bisa kita nyalakan hanya saat situasi terasa penting. Mereka adalah sebuah kebiasaan yang kita rawat dalam keheningan dan kesadaran. Setiap kali kita memilih untuk jujur dan setia pada hal kecil, kita sedang memperkuat kebiasaan hidup yang selaras. Pijakan diri kita menjadi lebih kokoh, dan jiwa kita menemukan kedamaian karena tidak perlu menanggung beban dari kepura-puraan.
Mulai sekarang mari kita mencoba untuk menghargai semua hal yang kelihatannya remeh, kecil dan sepele. Kadang dari hal-hal kecil itu, kita sebenarnya sedang dilatih untuk memiliki keutamaan hidup yang jauh lebih besar. Sebab dari kesetiaan pada hal-hal kecil inilah, karakter kita yang sejati sedang tumbuh dan siap berdiri teguh saat menghadapi hal-hal besar di masa depan. ***

Leave a comment