Inspiration

KEPITING

Orang yang suka makan seafood biasanya memasukkan menu kepiting dalam agenda kuliner penting. Kepiting saus tiram misalnya. Meski cara memakannya kadang bikin ribet tapi orang tetap menjadikannya menu favorit. Makan tidak memakai sendok, tetapi harus memakai tang ya makan kepiting. Semua gegara cangkangnya yang keras. Tapi keribetan dan kelezatan menu kepiting justru menambah kenikmatan. Meski sesudah itu harus buru-buru meminum suplemen atau obat pengurang kolesterol. Padahal sejatinya kolesterolnya lebih rendah daripada udang.

Dengan tampilan fisik kepiting yang sangar dan kekar, saya membayangkan bagaimana cara menangkap binatang yang galak dengan capitnya yang besar dan kokoh itu. Saya iseng browsing untuk mencari tahu cara memancing kepiting. Ternyata caranya tidak segahar tampilannya yang galak. Cukup dengan alat pancing sederhana orang dapat menangkap seekor kepiting besar.

Ternyata trik efektif untuk memancing kepiting ini terinspirasi dari karakter kepiting sendiri. Kepiting dianggap sebagai jenis binatang yang mudah marah. Mungkin ini bahasa sederhana dari instingnya untuk merespon ancaman dari luar. Ketika marah, maka kepiting akan menggunakan capitnya untuk menjepit benda atau binatang lain yang mengancamnya. Kalau marah, jepitannya tak akan pernah dilepas. Bermodal sebatang dahan, tali, dan umpan, dan kemarahan kepiting, manusia dapat menangkap dan memakannya. Kemarahan seekor kepiting membuatnya jatuh di penggorengan.

Dari cerita kepiting ini, saya jadi merenung, bahwa nafsu amarah akan mencelakakan kita. Sementara orang lain akan mendapat untung atas kemarahan kita. Mungkin dalam kehidupan sehari-hari kita juga bersikap seperti kepiting. Disenggol sedikit, marah. Ditegur sedikit, marah. Diberitahu tentang sesuatu yang benar, marah. Merasa disepelekan, marah. Ada yang memotong jalan kita, marah. Nilai sekolah jelek, marah. Tidak mendapat sesuatu yang diharapkan, marah. Tidak punya duit, marah. Diingatkan seperti ini, marah.

Banyak sekali umpan dalam kehidupan kita sehari-hari yang bisa memicu nafsu amarah. Ada yang sengaja memberi umpan. Ada yang tidak sengaja terumpan. Semua itu merupakan aksi yang membuat kita bereaksi, yaitu dengan kemarahan. Di sini ada hukum kausalitas, sebab akibat, aksi reaksi. Tapi kita tidak perlu menyalahkan aksi. Justru reaksi kitalah yang harus dikelola, dan mungkin dipersalahkan kalau terlanjur muncul.

Ketika terkelola dengan baik, maka reaksi kita akan tetap positif. Kita perlu memiliki manajemen kalbu untuk meredam kemarahan. Minimal, agar membuktikan bahwa kita tetap manusia, bukan kepiting pemarah. Kalau kita membiarkan nafsu amarah menguasai reaksi kita dalam kehidupan, niscaya kita akan jatuh di penggorengan seperti kepiting. Penggorengan bagi manusia diterjemahkan dalam kesulitan hidup, kehilangan berkah, kesempatan, kebahagiaan, dan kesehatan. Penggorengan itu sebuah simbol kegagalan dan keterpurukan kita yang berjuang agar martabat kita sebagai manusia tetap menang. Jangan sampai nafsu amarah kita menurunkan martabat kita menjadi sejajar dengan kepiting.

Seorang doktor dari Universitas Harvard, Jagadeesh Kumar, mengatakan, “Jangan mengajari orang untuk mengendalikan amarah, tetapi ajarilah orang untuk menebarkan cinta dan tidak menebarkan amarah.” Sepertinya kata-kata ini bagus kita renungkan, agar kita tidak menjadi seperti kepiting. Semoga. ***(Leo Wahyudi S)

Photo credit: grid.id

2 thoughts on “Inspiration

Add yours

Leave a Reply to Leo Wahyudi S Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: