Banyak orang berdoa sebagai sebuah kewajiban dan ritual agama karena memang sudah diperintahkan. Ritual doa menjadi sebuah rutinitas belaka. Semua berjalan otomatis seperti seharusnya dan seperti yang diharuskan. Semua serba otomatis bahkan sampai lupa merasa, bertanya, apalagi menghayati apa yang didoakan. Memori tubuh badani bergerak autopilot, otomatis, seperti mesin robot.
Kalau tak percaya, kita bisa melihat hal paling sederhana saat menghadapi makanan. Orang dengan latah mengucapkan doa pada apapun dan seberapapun makanan atau minuman yang akan masuk ke mulut. Mulut selalu komat-kamit pamer kesalehan sebelum makan atau minum. Ucapan doa jadi kehilangan kesakralan karena hanya sekedar ucapan tanpa makna. Saya melihatnya sebagai kelatahan religius. Saya pun kadang tidak beda dengan orang-orang seperti itu. Bedanya, mulut saya tidak komat-kamit, tapi batin saya yang melafalkan.
Ketika terinspirasi seorang biksu Buddha, saya jadi malu dengan kelatahan religius tanpa makna itu. Saya ingin menghayati doa syukur sebelum makan itu dengan pemaknaan yang lebih dalam ketika akan makan sepotong arem-arem atau lontong isi. Saat membuka bungkus daun pisang lalu melihat lontongnya, saya mengucap syukur dalam bahasa doa pendek yang saya sadari. “Terima kasih, Tuhan, atas makanan ini.” Saya berhenti sejenak untuk membayangkan betapa banyak orang yang terlibat sampai lontong itu terbentuk.
Di balik takjil arem-arem yang kita santap, ada rantai pasok makanan hinggga makanan itu siap santap. Ada yang menanam pohon pisang, sehingga daunnya bisa jadi bungkus arem-arem. Ada yang menanam padi sehingga jadi nasinya. Ada yang menanam pohon kelapa, mengunduh buahnya, membawanya ke pasar, memarut dagingnya, memerasnya hingga jadi santan yang membuat rasanya gurih. Ada yang menanam bawang, kentang, memelihara dan memotong ayam hingga jadi suwiran kecil di isinya. Ada yang mengolah semuanya lalu menjualnya di warung. Ada yang mencari uang sehingga arem-arem terbeli hingga tersaji. Betapa banyak proses dan orang yang terlibat dalam pengolahannya hingga layak kita makan. Ini bukan doa lebay, tapi latihan kesadaran agar kata syukur dalam doa itu ada maknanya.
Hanya dengan melihat makanan, kita menyadari bahwa semua hal di dunia ini melewati proses panjang. Menyadari hal ini, apakah kita masih akan tetap jumawa, egois dan sombong karena merasa hebat, kaya, mampu hidup sendiri tanpa orang atau ciptaan lain? Siapakah diri kita tanpa orang atau ciptaan lain? Bukan siapa-siapa. Karena di balik sebutir nasi yang kita makan, ada puluhan bahkan ratusan orang yang terlibat mulai dari petani yang setia menanam dan menjaga padi, yang memanen, yang menggiling, yang menjual, yang membeli, yang membawa dari pasar, yang memasak di rice cooker, sampai semua terhidang di piring yang siap kita gunakan untuk makan.
Itu baru arem-arem, belum lagi kalau rendang, pepes ikan, atau gudeg yang proses masaknya butuh berjam-jam. Ketika menyadari semua itu, apa yang kita makan ternyata tidak selalu sesederhana bentuknya. Ada proses panjang. Ada banyak orang. Kalau disadari semacam ini, doa syukur sependek apa pun akan menemukan makna sesungguhnya dari kata syukur itu. Dengan kesadaran kecil ini kita tidak akan mudah latah untuk mengucapkan doa. Doa bukan lagi hasil otomatisasi mulut karena melihat wujud. Artinya, doa jika dilakukan penuh kesadaran akan menjadi doa yang penuh makna yang mengangkat keterhubungan antara Pencipta, yang dicipta, dan ciptaanNya.
Memahami semua ini akan memberi kedalaman makna dari tiap doa sebelum makan yang selalu terucap otomatis. Akhirnya momen makan atau minum bukan sekedar peristiwa jasmani demi bertahan hidup, tapi ada peristiwa rohani yang membawa kesadaran dan penghargaan atas hidup yang kita alami. Dengan kesadaran semacam ini orang tidak akan seenaknya menyisakan, membuang, atau makan yang melebihi takarannya. Ada rasa hormat dna penghargaan terhadap ciptaan dan yang menciptakan.
Setelah membaca tulisan ini, saya berharap arem-arem bukan lagi sekedar makanan remeh yang masuk mulut tanpa arti. Tanpa kesadaran, aktivitas makan dan minum kita tak ada bedanya dengan kegiatan naluriah binatang atau ciptaan lain selain manusia hanya demi tetap bertahan hidup. Untung kita manusia, yang sayangnya tidak selalu menyadari kehidupannya, makanannya, dan doa yang selalu diucapkannya.***

Leave a comment