Banyak orang merindukan surga. Konsep surga diyakini sebagai tempat yang indah, semua terjamin, hidup nyaman, tak ada penderitaan, semua serba mapan, sempurna, dan berkelimpahan. Banyak yang terobsesi sampai membabi buta dan menghalalkan segala cara untuk mengejar surga. Kita sering kali merindukan kehidupan yang mulus, bagaikan jalan tol tanpa hambatan. Kita membayangkan bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika semua keinginan terpenuhi tanpa harus ada perjuangan.
Pertanyaannya, apakah kehidupan di surga akan terus berwarna atau justru menjadi mandek? Kalau melihat eksperimen Universe 25 yang dilakukan John B. Calhoun pada 1968. Ia membuat percobaan dengan tikus yang dibuatkan lingkungan yang sempurna. Makanan, air, semua tersedia berlimpah. Tidak ada bahaya yang mengancam para tikus. Mereka berkembang biak dengan cepat. Para tikus awalnya hidup dengan bahagia dan berkelimpahan di surga buatan itu. Mereka hanya makan, minum dan tidur. Namun lama kelamaan, para tikus itu menunjukkan perubahan perilaku. Mereka menjadi buas dan beringas, saling serang dan saling bunuh ketika surga buatan itu makin banyak penghuninya. Surga buatan itu pun menjadi kacau balau dan populasinya pun akhirnya makin berkurang.
Kita juga sering membaca atau melihat peristiwa ketika orang super kaya yang hidup dalam kelimpahan, kemewahan, dan kemapanan, mereka lama-lama menunjukkan perilaku yang menyimpang. Kelakuannya aneh-aneh, dan bahkan melanggar hukum dan norma. Banyak yang akhirnya selesai dalam keputusasaan, terjerat masalah hukum, bahkan bunuh diri. Kejadiannya mirip dengan surga buatan untuk para tikus percobaan tadi. Ketika setiap kebutuhan terpenuhi instan dan tantangan ditiadakan, mereka justru berhenti tumbuh. Mereka menjadi indah namun hampa. Mereka kehilangan api untuk berjuang dan akhirnya punah dalam kenyamanan. Kegagalan “surga” tikus itu mengajarkan kita bahwa kenyamanan absolut adalah lingkungan yang mandul bagi pertumbuhan. Zona nyaman itu adalah tempat idaman yang indah, tapi tidak ada yang pernah bertumbuh dari tempat itu.
Ada baiknya kita belajar dari sebuah kepompong yang tergantung di balik selembar daun. Tampaknya begitu tenang, pasif, dan tanpa daya. Namun, jika kita bisa melihat, di dalam kepompong itu sedang terjadi sebuah keajaiban yang menyakitkan sekaligus menakjubkan. Di dalam kegelapan dan kesempitan itu, tubuh ulat sedang dihancurkan, dicairkan, dan dibangun kembali menjadi struktur yang sama sekali baru. Ulat itu bermetamorfosis menjadi kepompong sebelum menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu sebagai simbol kehidupan baru. Ia tidak muncul dari kemudahan, melainkan dari proses “penghancuran” diri yang dipaksakan oleh alam.
Siklus kepompong memberikan pelajaran tentang proses perjuangan untuk berubah ke dalam kehidupan baru. Kupu-kupu tidak akan pernah bisa terbang jika ia tidak pernah merasakan sesaknya dinding kepompong. Gesekan dan perjuangan saat berusaha keluar dari cangkang yang sempit itulah yang memompa cairan dari tubuhnya masuk ke dalam sayap-sayapnya yang masih rapuh. Perjuangan itu bukanlah hukuman. Zona yang tidak nyaman itu adalah persiapan. Tanpa proses penderitaan yang dipaksakan oleh cangkang kepompong, sayap itu tidak akan pernah cukup kuat untuk membawa kupu-kupu melambung tinggi.
Kita sering kali menganggap masalah, kegagalan, atau gesekan sosial sebagai gangguan yang tidak diinginkan. Kita ingin melompat langsung menjadi kupu-kupu yang indah tanpa harus melewati fase kepompong yang menyesakkan. Lewat tekanan hidup yang terasa mengimpit, karakter kita sedang dibentuk. Tantangan adalah cara semesta memaksa kita untuk menguatkan sayap mental dan spiritual kita. Rasa sesak itu bukanlah akhir, melainkan proses penguatan. Sayap kita sedang dipersiapkan agar bisa terbang bebas sebagai pribadi yang lebih kuat dan bermakna.
Jika hidup selalu nyaman seperti surga ideal, kita mungkin akan tetap menjadi “ulat” yang hanya bisa merayap, tak pernah tumbuh. Kita tak akan pernah tahu rasanya terbang di angkasa seperti kupu-kupu. Surga kita justru terwujud ketika zona nyaman itu berakhir. Karena dari sanalah kehidupan baru dengan versi diri kita yang baru sedang dimulai. ***

Leave a comment