Inspiration

FAKTA GENERASI ZOMBIE ITU NYATA

Beberapa hari lalu seorang teman dosen dari perguruan tinggi swasta ternama mengobrol santai. Ia berkisah tentang tugas pengabdian masyarakat yang pernah dilakukannya di sebuah sekolah swasta terkenal di daerah Tangerang. Ia bersama timnya mengajar di kelas 11 SMA. 

Ada momen mengejutkan yang ia temui dan membuatnya tak bisa lupa dengan pengalamannya tersebut. “Saya menyuruh anak-anak kelas dua SMA itu untuk membuat sebuah tulisan pendek bergaya narasi. Gagasannya saya suruh ambil dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Saya pun menunggu dengan harapan bahwa suasana kelas akan hidup dengan diskusi segar yang nyata,” kata teman saya.

Setelah menunggu beberapa belas menit, tak satu pun anak di kelas itu yang selesai membuat tugasnya. Bahkan, kata teman saya, banyak anak yang bingung dan tidak tahu apa yang harus dituliskan. Gayung tak bersambut. Para dosen pun kecewa karena tugas sederhana itu tak berjalan sesuai harapan. Ia tak habis pikir anak-anak remaja itu tidak bisa menyebutkan dan mengisahkan aktivitas kesehariannya sendiri.

Diskusi kami pun berlanjut. Saya pun kaget mendengar kisah tersebut. Kami lalu menilai bahwa generasi anak sekarang seperti mati segan, hidup pun tak hendak. Persis seperti pepatah yang dulu kita kenal. 

Apa penyebabnya? Hidup dirasakan bukan lagi sebuah kehidupan yang perlu dijalani, disyukuri, dan dinikmati. Semua berjalan otomatis. Ibaratnya seperti pilot pesawat yang biasa menggunakan sistem autopilot pada ketinggian tertentu sehingga pesawat bisa terbang sendiri tanpa dikendalikan manual. 

Zona nyaman, rutinitas yang itu-itu saja, aktivitas rutin dan monoton membuat orang seperti berada di ketinggian sehingga serasa berjalan secara autopilot. Toh hidup tetap berjalan seperti biasanya. Bangun pagi, mandi, sarapan, berangkat ke kantor, bekerja, sekolah, berkegiatan. Siang istirahat, makan siang, ngobrol dengan kolega. Sore pulang. Sampai rumah buka hape, nonton tivi, capek lalu tidur. Demikian ritme dan rutinitas itu berulang sepanjang hayat dikandung badan.

Bahkan sapaan, “Selamat pagi, siang, sore, malam” pun sudah otomatis keluar tanpa perintah. Sapaan dengan orang-orang tercinta pun lama kelamaan terasa monoton dan otomatis. Membalas sapaan atau ucapan pun berjalan otomatis. Yang dikendarai pun juga serbaotomatis. Yang di-scroll di hape pun serba otomatis. 

Anak-anak SMA yang jadi target pengabdian masyarakat kawan dosen tadi bisa menjadi contoh. Artinya, mereka hidup sekedar hidup, menjalani rutinitas berangkat, belajar, dan pulang dari sekolah. Mereka lupa atau tidak tahu bagaimana memaknai hidup yang mereka jalani. 

Hidup tanpa kesadaran menjadi sebuah tragedi yang tragis. Hidup yang sejatinya jadi anugerah menjadi sesuatu yang lumrah tanpa perlu pemaknaan. Padahal, kesadaran itu bisa dilatih dan dimulai dari hal-hal sepele. Sadar saat air mengguyur tubuh ketika kita mandi. Sadar saat air masuk mulut, membasahi tenggorokan, ketika kita minum. Sadar saat makanan di lidah terasa pedas, manis, pahit, ketika kita makan. Sadar saat kita menarik dan membuang nafas. Sadar saat kita melangkahkan kaki ketika berjalan. 

Ada banyak latihan kesadaran agar hidup tidak sekedar hidup tanpa tujuan. Kita manusia, bukan zombie yang mati tapi tetap ‘hidup’ tanpa arah dan kesadaran. Bukankah perjalanan kita terbesar dalam hidup adalah evolusi kesadaran. Kita bisa mengembangkan jiwa, memberi kebebasan jiwa, dan mencerahkan pikiran. 

Ketika kita menyatukan emosi, rasa, pikiran, tubuh, dalam kesadaran, maka kita punya energi untuk hidup. Ketika kita punya energi hidup, hidup pun akan penuh dengan kesadaran menuju sebuah tujuan hidup. Agar tidak menjadi zombie, pesan saya pada generasi muda, belajarlah menyadari setiap hal-hal kecil sehari-hari. Beranilah untuk optimis. Kesadaran dan optimisme tidak usah bayar. Semua gratis dan bisa membuat hidup lebih bermakna, lebih percaya diri, dan lebih enerjik. Buka mata dan lihatlah dengan sadar. Buka mulut, dan sapalah orang di sekelilingmu dengan sadar. Buka telinga dengan sadar, dengarlah orang yang bercerita dan berbicara denganmu.*** 

Foto dari https://www.istockphoto.com/id/search/2/image-film?phrase=zombie+run

4 thoughts on “Inspiration

Add yours

Leave a reply to Leo Wahyudi S Cancel reply

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑