Inspiration

TIGA HAL SEPELE AGAR HATI DAMAI

Dunia saat ini boleh dikata sedang tidak baik-baik saja. Negeri kita pun sedang diliputi suasana yang tidak mengenakkan sampai muncul tagar #indonesiagelap. Rumah dan keluarga kita pun mungkin sedang ditera kegelapan. Hidup serasa menyesakkan dan menyusahkan.

Benarkah demikian? Jangan-jangan kitalah yang sedang suram dan gelap. Kita sendirilah yang tidak bisa mengelola hati dan pikiran. Manajemen kalbu kita ada yang salah sehingga kehidupan menjadi tidak mengenakkan. Tapi saya percaya kata para sufi bahwa penderitaan itu sesungguhnya berasal dari pikiran. Pikiran kita terlalu banyak bereaksi dengan menghakimi dan menilai kenyataan, kejadian, dan situasi yang ada di luar diri kita.

Sebaliknya, kedamaian pun berasal dari pikiran yang turun ke hati. Kita bisa memilih untuk damai dan bahagia asalkan kita tidak sibuk menghakimi dan bereaksi terhadap segala hal yang berada di luar kendali diri kita. Kalau kita sadari, betapa kita selalu sibuk dengan penilaian-penilaian baik dan buruk, menyenangkan dan menyebalkan, baik dan jahat, suci dan dosa, haram dan halal, benar dan salah, dan segala paradoks lain. 

Terlepas dari semua itu, saya pun sedang mencoba melakukan tiga hal karena terinspirasi seorang ulama moderat Syaiful Karim. Saya yakin hal ini mudah dikatakan tapi sulit dilakukan. Agar hidup kita tidak mudah dikendalikan faktor-faktor dari luar diri kita, pada saat sedang menghadapi anak-anak yang menyebalkan, pasangan yang cerewet, atasan yang menjengkelkan, atau situasi yang bisa memancing emosi kita, ada baiknya kita mencoba tiga hal berikut. 

Diam
Pada saat kita mengalami hal-hal atau bertemu dengan orang lain, entah keluarga, kolega, atau orang di jalan, yang memancing emosi dan kemarahan, kita pasti spontan akan langsung bereaksi dengan marah-marah atau mengumpat. Di saat seperti itu, cobalah diam sebagai reaksi pertama. Tutuplah mulut agar tidak membuka dan mengucap sepatah kata pun. Sadarilah agar kita tidak terpancing untuk emosi. Kesadaran itu dapat mengendalikan perasaan dan emosi agar tidak meluap-luap. Cukup dengan diam, lalu menyingkir. Diam dapat menjadi sebuah respons yang paling bermartabat.

Tarik nafas
Langkah berikutnya saat menghadapi situasi semacam itu adalah menarik nafas dalam-dalam, lalu keluarkan. Ulangi sampai tiga kali dan rasakan setiap nafas yang masuk dan keluar. Mengapa demikian? Karena ternyata tidak ada cara lain kecuali hanya nafas yang sesungguhnya dapat mengendalikan amarah. Kalau tidak percaya, silakan buktikan sendiri. Menarik dan membuang nafas dalam diam ini akan membuat kita terhindar dari reaksi dan amarah yang merugikan kesehatan kita, sekalipun sesungguhnya beralasan untuk marah. Nafas itulah yang akan mengendalikan adrenalin agar tidak naik. Kelebihan hormon adrenalin dapat merusak pembuluh darah, meningkatkan tekanan darah, dan meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke. 

Memaafkan
Langkah ketiga setelah diam dan menarik nafas, cobalah untuk memaafkan. Memaafkan ini bermakna bahwa kita memberi maaf pada diri sendiri yang hampir marah, sekaligus memaafkan orang atau situasi di luar diri kita yang sedang khilaf. Orang yang mendalami ajaran agama dengan benar dan ingin mendekati kualitas dan sifat Ilahi adalah dengan memaafkan. Maka, belajarlah untuk memaafkan. Itu pesan seorang pemuka agama Ortodoks. Memaafkan memang tidak mengubah masa lalu, tetapi justru akan memperlebar masa depan yang lebih damai. Memaafkan juga tidak akan mengubah bos atau kolega yang menyebalkan, tapi akan memperbesar kemuliaan diri dan kesehatan mental kita sendiri. Memaafkan adalah salah satu pemberian terindah untuk diri kita sendiri. 

Saya selalu berusaha memraktikkan ketiga hal tersebut dengan sadar. Tidak mudah memang. Tapi saya bisa tersenyum kalau istri saya sedang marah-marah atau cerewet. Saya tetap bisa tersenyum meskipun tiba-tiba ada emak-emak yang main selonong dan main potong di jalan raya. Saya belajar untuk tidak langsung bereaksi, menghakimi, lalu emosi. Mulut saya kunci, bernafas dalam-dalam, lalu berkata, “Ya Tuhan, ampuni dia karena dia tidak tahu apa yang sedang ia perbuat.” Saya pun bisa tersenyum damai.***

Foto dari https://www.joeloveiw.com/blog/the-art-of-living-a-peaceful-life/

4 thoughts on “Inspiration

Add yours

  1. Cara bernafas pun ada kiat tersendiri. Yg aku praktekkan begini: tarik/ ambil nafas lewat hidung, buang nafas lewat mulut sepelan mungkin.. semoga bermanfaat

    Liked by 2 people

Leave a reply to Caleb Cheruiyot Cancel reply

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑