IRONI KEDATANGAN PAUS PEMBAWA DAMAI
Saya kebetulan ikut menonton kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia yang disiarkan melalui saluran YouTube secara live pada 3 September 2024. Dari tayangan itu saya hanya terpana melihat kedatangan Paus. Ia menjadi Kepala Negara sekaligus pemimpin tertinggi umat Katolik Roma sedunia yang memiliki hubungan diplomatik dengan 180 negara di dunia. Indonesia termasuk istimewa lantaran kunjungan istimewa ini. Argentina yang menjadi negara asal Paus Fransiskus pun belum pernah dikunjungi secara resmi oleh beliau. Tapi beliau rela berkunjung ke Indonesia.
Paus Fransiskus harus menempuh jarak 11.354 kilometer dari Bandara Internasional Leonardo da Vinci di Roma menuju Bandara Soekarno-Hatta di Indonesia selama 13,15 jam yang melewati 11 negara. Ia tidak minta fasilitas khusus dengan pesawat kenegaraan, atau jet pribadi,tetapi dengan pesawat komersil. Bahkan di setiap wilayah negara yang dilewati pesawatnya, Paus Fransiskus masih sempat mengirimkan telegram pribadi ke setiap kepala negara yang dilewatinya di udara.
Saat menempuh perjalanan dari Bandara menuju Kedutaan Besar Vatikan untuk Indonesia di Jakarta, Paus Fransiskus menolak naik mobil mewah. Beliau justru naik Toyota Inova putih yang terlalu jauh dari standar kendaraan kenegaraan di tengah konvoi dan pengamanan super ketat protokol kenegaraan. Kesederhanaan, ketulusan, dan kewibawaan seorang Paus itu tak lekang oleh kendaraan biasa dengan kaca terbuka sambil melambaikan tangan dan senyumnya. Tidak berlebihan kalau Paus yang murah senyum ini menjadi sosok teladan pemimpin yang rendah hati. Hal ini diakui terus terang oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dalam sambutannya.
Meskipun secara virtual, kedatangan Paus ke Indonesia memberikan aura dan energi perdamaian yang kuat. Minimal ini yang tampak dalam komentar-komentar live streaming yang ditayangkan Kompas TV melalui saluran YouTube. Komentar para penonton didominasi oleh sambutan hangat, rasa bangga, rasa syukur, rasa terberkati, dan rasa nasionalisme. Banyak yang mengatakan “100 persen Katolik, 100 persen Indonesia”, “Viva il Papa”, dan sebagainya. Sepertinya komentar positif itu datang dari beragam lintas agama. Bukan dari orang Katolik saja.
Justru yang mengherankan banyak warganet yang berkomentar tapi tidak relevan atau keluar dari konteks tayangan itu. Ada yang sengaja mengait-kaitkan dengan isu politik yang masih hangat. Ada yang berusaha memprovokasi dengan komentar tak pantas terkait Paus. “..jesus gay”, “Paus abal2”, “haluloya”, “Save Palestina uraaaa”, “Indonesia mayoritas muslim”, “Hammas 2045”, dan masih banyak lagi komentar di luar konteks. Sontak ada banyak warganet yang merasa Katolik yang terprovokasi dan panas dengan saling lempar hujatan. Banyak yang minta admin Kompas-TV untuk memblokir akun warganet yang menjadi provokator itu. Namun tak sedikit pula warganet yang tetap dingin dan minta tidak menanggapi hasutan pemecah belah itu.
Saya sebagai pengamat, karena tidak turut berkomentar, melihat adu komentar para warganet itu sebuah tontonan yang agak lucu dan konyol. Menurut saya, kedatangan Paus Fransiskus adalah sebuah kehormatan dan mungkin berkah tersendiri bagi bangsa Indonesia. Paus yang satu ini adalah simbol pembawa perdamaian sehingga kedatangannya pun membawa energi damai, cinta antarsesama, serta penghormatan antaragama. Dari kedatangannya, ia menjadi seorang pemimpin yang membawa pesan kesederhanaan dan kerendahan hati.
Mengapa kita sebagai tuan rumah tidak melihat itu semua? Mengapa justru kita terhasut oleh provokasi orang-orang yang berpikir sempit dan bernalar pendek? Mengapa kita harus marah dan tersinggung ketika simbol keagamaan dilecehkan? Toh Paus sendiri, atau bahkan Tuhan sendiri pun tidak akan tersinggung dan merasa dilecehkan. Saya yakin Paus bukan tipe orang yang baper dan mudah sakit hati dan harus dibela. Ia sudah selesai dengan egonya. Ia tidak butuh dipuji, atau disambut dengan mewah. Paus hanyalah seorang pelayan dari pelayan Tuhan.
Saya justru terharu ketika membaca sebuah tulisan dari seorang Muslimah, Afi Nihaya Faradisa, yang saya dapat dari media sosial. Ia membagikan kesan mendalam tentang Paus Fransiskus. Tulisnya, “Kesederhanaan beliau membuat saya yang bukan umat Katolik pun terkagum-kagum. Saya tidak tahu apa-apa tentang teologi Katolik… namun saya merasa beliau tidak perlu sampai berkhotbah ayat-ayat, karena lakunya sehari-hari sudah jadi representasi terbaik dari Bible itu sendiri. Sehat-sehat ya Paus.”
Bukankah lebih indah membaca impresi, penghargaan, dan apresiasi yang tulus semacam itu, daripada harus saling balas dengan komentar-komentar kebencian yang jauh dari pesan perdamaian yang dibawa Paus Fransiskus hari ini dan beberapa hari mendatang di Indonesia. Selamat datang, Paus Fransiskus. Kedatanganmu menjadi pengingat akan nilai cinta dan perdamaian antarmanusia di Indonesia. ***
Foto dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kunjungan_Paus_Fransiskus_ke_Indonesia_tahun_2024

apik dan tepat sasaran
LikeLike
Mantab Mas! Keren sungguh!
LikeLike
Tulisan ini memberikan pencerahan. Seperti kata Gus Dur, yg intinya” orang tidak melihat agamamu apa saat kau berbuat kebaikan”.
LikeLike
Tulisan yg bagus n menginspirasi
LikeLike