BELAJAR HIDUP DARI GOWES
Sebagai alat transportasi sederhana, sepeda pertama kali ditemukan oleh Karl Drais di Jerman pada 1817. Penemuan itu pun berkembang dan disempurnakan hingga Gottlieb Daimler menemukan mesin sepeda motor dengan sistem pembakaran pada 1885 di Jerman pula. Seiring perkembangan jaman, alat transportasi roda dua bertenaga manusia dan mesin itu semakin disempurnakan hingga kini menjadi bagian utama bagi mobilitas milyaran umat manusia di bumi.
Tak terkecuali di Indonesia. Kedua alat transportasi itu juga mengalami dinamika yang cukup menarik. Dulu di era kolonial, sepeda menjadi simbol status sosial sebelum kemudian menjadi alat transportasi masal yang merakyat. Namun kini, sejak era pandemi Covid-19, orang mulai teringat sepeda, bukan lagi sekedar alat transportasi, tetapi simbol gaya hidup sehat. Bahkan, ketika tren itu makin menjamur, sepeda kembali menjadi lambang status sosial kaum urban, karena harganya yang kian fantastis.
Komunitas pesepeda, atau gowes, kian banyak bermunculan. Kata gowes konon berasal dari akronim Bahasa Jawa, “genjot ora genjot wis teles ( genjot atau tidak sudah basah)”, meskipun arti bakunya adalah bersepeda atau menggowes. Mungkin pula kata gowe terinspirasi dari lagu anak-anak “Kring Kring Gowes Gowes” pada 1988 yang sempat populer kala itu. Terlepas dari akar sejarahnya, kini gowes selalu diasosiasikan dengan komunitas pesepeda untuk gaya hidup sehat dan prestise.
Dari sepeda dan sepeda motor itu ada falsafah hidup sederhana yang saya alami. Kedua alat transportasi itu adalah alat bagi kita untuk bisa bergerak untuk tujuan tertentu. Mobilitas kita sangat terbantu oleh kedua alat transportasi tersebut. Dibandingkan kendaraan beroda empat, kendaraan roda dua itu jauh lebih fleksibel untuk segala medan. Apalagi untuk menembus belantara kemacetan di kota besar, sepeda dan sepeda motor sangat lincah. Saking lincahnya, bahkan cenderung pesepeda dan pemotor cenderung ngawur dan ugal-ugalan yang membahayakan pengendara lain. Fakta ini tidak terbantahkan di kota besar.
Dengan kedua alat tersebut kita bisa bebas bergerak kemanapun. Ketika terjadi pergerakan, maka ada keseimbangan yang membuat kita tidak jatuh. Artinya, ketika bergerak, tercipta keseimbangan antara tubuh dan sepeda atau sepeda motor. Tapi sehebat-hebatnya alat transportasi roda dua itu, kalau kita tidak menggowes atau menarik gas, keduanya tidak akan bergerak. Ketika melambat, keseimbangan kita akan goyah. Ketika berhenti, maka tubuh kita akan condong dan kaki harus turun untuk menjaga keseimbangannya agar tidak jatuh.
Saya yakin hidup kita diciptakan oleh Sang Pencipta pada hakikatnya adalah untuk terus bergerak. Kalau ingin hidup kita seimbang, maka kita harus bergerak. Persis seperti saat kita menggowes. Kalau kita hanya diam, tidak akan tercipta keseimbangan, dan kita akan jatuh, minimal kaki kita terlebih dulu untuk menahan seluruh badan agar tidak jatuh tersungkur. Hidup butuh aksi dan pergerakan untuk bisa mencapai tujuan. Tanpa pergerakan, hidup akan mandek dan ambruk terpuruk. Ini menjadi pengingat bagi saya yang masih sering malas untuk bergerak, menunda-nunda. Refleksi ini juga cocok bagi generasi rebahan produk pandemi.
Saat bergerak, kita juga harus menatap ke depan. Bergerak bukan soal melupakan, tetapi tetap bergerak maju dan tidak pernah menoleh ke belakang. Entah mau jadi pecundang atau pahlawan, hidup harus terus bergerak. Tapi, pergerakan itu tidak terjadi otomatis, seperti mesin sepeda motor sekarang. Pergerakan hidup hanya butuh keputusan, entah seberat apapun upaya yang harus dilakukan. Apapun yang terjadi, hidup harus terus bergerak. ***
Foto diambil dari https://explorehumanity.id/explore-gowes-sehat/

Well said.
LikeLike