Literature

Gorengan Sore

Raja siang mengangkangi belantara beton dengan ratusan bangunan jangkung. Aku menyelinap di antara bayangan-bayangan teduh demi menyembunyikan diri dari tatapan sang raja siang yang garang. Di sebuah ujung bayangan teduh aku tiba-tiba terhenti. Getar telepon genggamku yang mengajakku berhenti. Kulihat layar gawaiku. Rupanya sahabatku igin bersilaturahim karena sudah lama tak berkontak.

Dulu kami biasa  berkabar meski terpisah jarak ribuan kilometer. Dulu tulisan di kertas menjadi saksi ketulusan hati kami untuk saling berbagi cerita dan canda. Kini setelah semua maju, gawai canggih mampu menipiskan jarak noktah-noktah di bumi nyaris bukan dihitung lagi dengan kilometer, tapi satuan detik sebagai hitungan jarak. Ironisnya, kami malah masih merasa di ribuan kilometer jauhnya.

“Hahaha… sama aku juga kangen nih. Kapan ya kita bisa ketemu kayak dulu lagi…Martin baik, anak-anak juga sehat semua,” katanya di seberang telepon. Kami selalu saling berkabar tentang keluarga kami. Selalu kami hiasi dengan canda dan tawa seperti 25 tahun silam. Selalu pula kami saling memberi inspirasi tentang cinta dan kehidupan.

Suara Piya sembuat membuatku tercenung sejenak. “Iya bisnis yang baru dirintis Martin ternyata bangkrut. Ratusan juta melayang. Ya, Martin agak stres juga sekarang, haha….” kata Piya. Dia selalu khas dan unik di mataku. Kami selalu bisa berbagi canda dan tawa, sekalipun saat susah. Aku tak bisa membayangkan Martin, suami Piya yang sangat dermawan dan baik hati itu kini terpuruk. Padahal secara ekonomi sudah sangat mapan sebelumnya. Tak bisa kubayangkan pula kalau itu terjadi padaku.

“Tugasku sekarang simpel, kok. Tiap sore membuatkan dia minum, menghidangkan gorengan kesukaannya, lalu kami duduk berdua. Melihat dia tersenyum dan puas menikmati gorengan bikinanku sudah membuatku lega. Berarti Martin masih waras, tidak depresi. Itu saja yang kulakukan agar suamiku tidak merasa jatuh…hahaha…” lanjut Piya masih sambil terkekeh di ujung telepon. Aku sontak merasa sangat malu. Aku baru tahu bahwa ada cara untuk tetap bahagia dengan sederhana dalam keluarga. Aku belum berani tertawa seperti itu. Padahal sebenarnya akupun sedang terpuruk seperti Martin. “Halooow…halooo…kok malah diem, sih…haloo, Mas…” suara Piya membuyarkan kegalauan dan rasa maluku. *** (Leo Wahyudi S)

(Sudah diterbitkan dalam antologi 100 cerita pendek Komunitas Penulis Katolik, Deo Gratias, “Burger Terakhir yang Kubuang”, SatuKata Book@rt Publisher: Malang, 2017:120)

Photo credit: popbela.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: