Inspiration

MENYALIBKAN EGO DEMI CINTA DAN KEBENARAN

Menyuarakan kebenaran sendirian itu tidak selalu mudah. Banyak risiko yang harus ditanggung sendirian. Jangankan berteriak, berbisik-bisik tentang suatu kebenaran pun kadang kita tidak berani. Apalagi kalau kita berada dalam sebuah relasi kuasa antara bawahan dan atasan, majikan dan pembantu, suara kebenaran biasanya akan kita telan sendiri. “Biarkan waktu yang akan membuktikan kebenaran itu,” sebuah jawaban klise untuk menutupi rasa jeri karen kehilangan nyali. 

Tapi di hari raya Jumat Agung ini kita boleh belajar dari seorang sosok pemberani dengan nyali yang besar. Dia adalah Yesus, Nabi Isa. Ia tetap teguh bertahan dengan suara kebenaran yang selalu Ia ajarkan. Bahkan tanpa takut sekalipun harus disiksa dan kehilangan nyawa. 

Banyak orang yang mengaku pengikutNya yang ingin meneladan keberanian dan keteguhanNya. Tapi hanya di gereja. Sepulang dari gereja, suara kebenaran yang akan diteriakkan akan hilang bersama lunturnya nyali ketika harus berhadapan dengan penguasa, atasan, pejabat, majikan, bos, kakak, saudara tua. Banyak yang lebih memilih jadi kaum munafik, kaum farisi, ahli kitab, atau bahkan Pontius Pilatus yang lebih senang cuci tangan karena takut mengambil risiko. 

Kita hidup di dunia yang sangat pandai menghitung. Kita mencatat siapa yang belum membalas kebaikan kita, siapa yang masih berutang maaf, siapa yang mengkhianati kepercayaan yang pernah kita ulurkan. Setiap luka disimpan rapi seperti arsip. Semua tertata rapi, berlabel, mudah dicari kembali saat kita membutuhkan alasan untuk tidak mengampuni atau mencintai. Kita menjadi akuntan dari perasaan kita sendiri, dan neraca itu jarang sekali seimbang.

Jumat Agung bukan hanya kisah tentang satu hari yang kelam dua ribu tahun lalu. Ia adalah cermin yang ditawarkan kepada kita hari ini. Sejauh mana kita mau memberi dan mencintai tanpa buku besar berisi catatan? Sejauh mana kita mau mengampuni tanpa papan skor? Sejauh mana kita berani lantang membela kebenaran?

​Kita diajak untuk menepi sejenak dari keriuhan dunia dan memandang pada sebuah pengorbanan yang paripurna. Pengorbanan itu adalah konsekuensi dari keberanian memperjuangkan kebenaran dan cintaNya pada apa yang dilakukanNya. Cinta yang total yang diberikan demi ajaran kebenaran yang disampaikanNya. 

Kita tidak usah berbicara lebih lanjut soal kebenaran, keberanian, dan pengorbanan. Berat konsekuensinya. Kita bahas saja soal totalitas cinta dalam relasi kita pada sesama. Kita sering kali terjebak dalam hitung-hitungan matematis dalam mencintai. Kita mencintai kalau ada balasan dicintai. Kita memberi jika ada sisa. Kita memaafkan hanya jika pihak lain telah membayar kesalahannya. 

Namun, cinta yang diajarkan kepada kita adalah kasih yang melampaui logika transaksi. Mencintai tanpa menghitung biaya dan memaafkan tanpa menyimpan buku catatan. Di sinilah wujud pengorbanan diri dan penyaliban ego. Kalau kita bisa melakukannya, pengorbanan ini tidak hanya mengubah hidup orang di sekitar kita, tetapi juga mengubah sesuatu yang luar biasa di dalam batin kita sendiri. Cinta, pengampunan, dan pengorbanan itu bisa melunakkan kekerasan hati dan ego. Mencintai dan memaafkan tanpa berhitung untung rugi akan memperluas ruang dalam jiwa demi sebuah kedamaian. 

​Ketika kita melepaskan tuntutan agar dunia membalas kebaikan kita, membalas cinta kita, membalas maaf kita, di saat itulah kita benar-benar merdeka. Kita menjadi seperti lilin yang tak pernah mengeluh karena tubuhnya memendek oleh api pengorbanan. Kita akan menyadari bahwa dalam proses pengorbanan diri itu ada cahaya yang justru semakin terang benderang di dalam roh kita. Kita tidak menjadi kurang karena memberi. Kita justru menjadi utuh karena berani melepaskan. Kita tidak menjadi rendah karena memaafkan. Pengorbanan bukanlah tentang kehilangan, melainkan tentang transformasi. Ia mengubah rasa sakit menjadi kekuatan, dan dendam menjadi pembebasan.

​Jumat Agung menjadi sumber untuk belajar tentang keberanian, kebenaran, cinta dan pengampunan tanpa transaksi. Marilah kita membawa semangat pengorbanan, keberanian membela kebenaran, mencintai tanpa pamrih, memaafkan tanpa syarat dalam setiap langkah hidup kita. Sebab pada akhirnya, cinta yang paling sejati adalah cinta yang bersedia menjadi habis seperti lilin yang terbakar demi menghidupkan harapan di hati orang lain. Seperti Yesus yang tersalib, kita bisa menyalibkan ego demi perjuangan cinta dan kebenaran. ***

One thought on “Inspiration

Add yours

Leave a reply to Anonymous Cancel reply

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑