Inspiration

MENCINTAI ITU UTUH, BUKAN SEPARUH

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang pakar kehutanan. Beliau mengajarkan saya bahwa setiap guratan dalam sebuah pohon itu menyimpan data penting. Orang awam melihatnya sebagai sebuah alur pohon yang menambah estetika ketika kayu itu dijadikan meja atau kursi. Tapi sebenarnya di balik alur yang indah itu ada cerita masa lalu yang bisa menentukan berapa usia pohon itu. Dari alur itu terbaca pula bahwa pada tahun sekian pertumbuhannya kurang karena musim kering. Di kali lain, alur yang cerah dan melebar menandakan pertumbuhan yang subur karena kadar air dari musim penghujan cukup banyak. 

Dari ilmu itu saya merasa bersyukur bisa melihat pohon tidak hanya sekedar pohon. Tapi ia adalah ciptaan yang punya cerita dan sejarah panjang hingga ia bisa berdiri kokoh dan menjadi perindang. Dari yang tampak saja, kita akan melihat guratan-guratan kasar pada kulit batangnya, lubang-lubang kecil bekas serangga, hingga dahan yang mungkin pernah patah diterjang badai tahun lalu. Pohon itu tidak menyembunyikan bekas lukanya. Ia justru tumbuh dari segala peristiwa alam yang membentuknya. Akar-akarnya tertanam di tanah yang barangkali pernah gersang, namun ia tetap mampu menopang batangnya karena ia menerima setiap inci dari sejarah pertumbuhannya sendiri.

Begitu pulalah seharusnya kita memandang pasangan hidup atau calong pasangan yang kini duduk di hadapan kita. Ketika kita memutuskan untuk menjalin cinta atau membangun biduk rumah tangga, kita sebenarnya tidak hanya sedang mengundang seseorang masuk ke dalam hidup kita hari ini dan masa depan kita. Kita sedang membuka pintu bagi seluruh perpustakaan hidupnya. Kita seolah sedang memegang buku yang menuliskan bab-bab usang yang mungkin berdebu, penuh coretan, atau bahkan halaman yang ingin mereka robek karena kisahnya yang tragis dan menyakitkan.

Masalahnya, banyak dari kita yang jatuh cinta hanya pada sampul buku yang indah. Sampulnya yang menarik, cantik, indah rasanya sudah cukup meruntuhkan rasa ke dalam cinta. Namun di perjalanan selanjutnya kita enggan membaca bab-bab kelam di tengahnya. Kita sering kali gagal karena ketidakmampuan menerima masa lalu pasangan. Padahal, menerima seseorang secara utuh berarti merangkul sejarahnya, menghargai statusnya saat ini, dan mendukung niatnya di masa depan. Kita tidak bisa memilih untuk hanya mencintai versi terbaik dari mereka tanpa memaklumi versi tersulit yang pernah mereka lalui. Kita hanya mau membaca bab yang penuh kisah indah, dan melewatkan bab yang bertutur tentang kepahitan hidup. 

Membangun cinta bersama pasangan perlu sebuah kejujuran yang berakar pada kebenaran. Jujur berarti berani tampil apa adanya di hadapan pasangan, tanpa harus ada yang ditutup-tutupi. Sayangnya, kejujuran tentang masa lalu terkadang terasa seperti sembilu yang menyayat. Kebenaran seringkali pahit dan tidak nyaman. Namun, bukankah lebih baik kita membangun rumah di atas fondasi batu yang keras meski kasar, daripada di atas pasir kebohongan yang halus namun rapuh? Kejujuran dan kebenaran adalah dua pilar utama yang menyangga kematangan sebuah relasi. Tanpa keduanya, cinta hanyalah sebuah dekorasi yang akan runtuh saat badai prasangka datang menerpa.

Seperti yang sering kita renungkan, sahabat paling baik dari kebenaran adalah waktu. Biarkan waktu membuktikan perubahan dan niat baik pasangan kita. Musuh yang paling besar adalah prasangka yang berakar dari suara-suara kecil di kepala kita yang menghakimi masa lalu mereka sebelum kita benar-benar mengerti. Dan pengiringnya yang paling setia adalah kerendahan hati. Kerendahan hati menjadi keutamaan dalam menjalin hubungan, karena ia merupakan sebuah sikap yang membuat kita sadar bahwa kita pun adalah manusia yang tidak luput dari noda hitam di masa silam.

Mari kita belajar untuk melihat pasangan kita sebagai sebuah keutuhan. Saat kita menerima masa lalunya, kita sebenarnya sedang memberi ruang bagi cintanya untuk mekar dengan lebih berani di masa depan. Hubungan yang matang bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna tanpa cela, melainkan tentang dua orang yang saling berkata, “Aku tahu sejarahmu, dan aku tetap memilihmu.”

Bagi siapa pun yang memiliki pasangan hidup atau calonnya, coba luangkan waktu untuk berdua. Cobalah duduk bersama pasangan dalam suasana tenang tanpa gawai, tanpa gangguan. Katakanlah kalimat ini dengan tulus: “Terima kasih sudah jujur dengan setiap perjalananmu hingga sampai di titik ini. Aku tidak menghakimi masa lalumu, karena itu yang membentukmu menjadi orang yang kucintai hari ini.” Selamat mencintai pasangan secara utuh, bukan separuh. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑