MENULIS DENGAN TINTA KEHENINGAN
Bulan puasa tahun ini kebetulan bersamaan antara Ramadhan untuk umat Islam dan masa prapaskah untuk umat Katolik. Bulan ini membawa aura yang berbeda. Suasananya berubah menjadi lebih tenang dan sakral dibanding bulan-bulan lain. Banyak kajian, diskusi, dialog, digelar sekedar untuk membedah nilai keagamaan. Orang yang merasa punya keimanan tinggi beramai-ramai unjuk ilmu agama. Kadar religiusitas mendapatkan panggung untuk uji kelayakan. Yang merasa berilmu tinggi sibuk menilai. Yang merasa rendah keimanannya hanya tunduk tepekur seolah merasa rendah dan dosa.
Para pakar iman, teologi, doktrin, dogma saling berebut panggung untuk pamer keahlian. Ketuhanan dibicarakan, dikorek, digali, diperdebatkan di mana-mana. Praktik dan ritual ibadah dikalibrasi untuk mendapatkan label kesalehan. Ayat-ayat kitab suci bermunculan di segala tempat, dari layar ponsel, status medsos, televisi, stiker, hingga baliho raksasa. Pesannya jelas, yaitu ajakan untuk bertobat dan beriman demi mencari Tuhannya. Seolah tak ada waktu atau bulan lain untuk menjadi orang baik kecuali bulan puasa.
Dalam urusan pencarian hakikat Sang Pemilik Semesta, saya membayangkan sebuah danau yang permukaannya begitu jernih, hingga kita bisa melihat kerikil di dasarnya dan pantulan awan di atasnya tanpa sekat. Namun, apa yang terjadi jika kita terus-menerus melemparkan benda ke dalamnya, atau mengaduk airnya agar kita bisa menjelaskan isi danau tersebut kepada orang lain? Air yang tadinya bening akan menjadi keruh. Kejernihan itu hilang saat kita terlalu sibuk mendefinisikannya. Diskusi dan kajian riuh tentang ketuhanan itu bagi saya ibarat mengaduk-aduk air danau yang semula jernih menjadi keruh. Dasarnya yang tadi kelihatan menjadi tidak kelihatan karena keriuhan yang kita pamerkan.
Dalam perjalanan spiritual, kita sering kali terjebak dalam keriuhan yang sama. Kita menuliskan ribuan baris kalimat tentang Tuhan, memperdebatkan doktrin, dogma, ayat-ayat suci, tafsir-tafsirnya hingga udara terasa berat oleh istilah-istilah teologis yang rumit. Tafsir-tafsir canggih itu ibarat tulisan yang menghitamkan kertas dengan teori-teori tentang kesucian dan ketuhanan. Lalu seolah-olah kita merasa telah mendekat dan berhasil mengenalnya lebih dekat hanya karena kita fasih membicarakanNya. Melihat kehebohan para penyembah yang mengaku berilmu tinggi dan beriman tebal itu, Sang Guru memberikan teguran yang lembut namun menghunjam, Tuhan tidak ditemukan dalam hitamnya tulisan tinta, melainkan dalam putihnya hati yang ditulis melalui keheningan.
Faktanya, alih-alih mencari keheningan, kita lebih sering berisik karena merasa berilmu dan beriman. Sering kali, kebisingan religius kita, baik itu tulisan yang berapi-api maupun diskusi yang intelektual, hanyalah cara ego kita untuk merasa diakui dan memiliki kendali. Kita mengira dengan menguasai teks dan ayat kitab suci, kita sudah merasa menguasai esensi. Namun, keilahian sering kali hadir justru saat kita berhenti bicara dan mulai mendengar. Tuhan hadir dalam keheningan. Seperti akar pohon yang tumbuh dalam kegelapan tanah yang sunyi, pertumbuhan jiwa yang paling dalam terjadi tanpa suara.
Seperti pesan Sang Guru, menulis di kertas putih lewat keheningan bisa menyucikan hati. Memutihkan hati berarti mengosongkan diri dari kebisingan prasangka, ambisi untuk terlihat saleh dan beriman. Mengosongkan diri berarti membebaskan dari kerumitan logika ketuhanan yang melelahkan. Di saat hening dan kosong itulah kita memberi ruang bagi Tuhan untuk hadir. Kita beralih dari sekadar mengetahui tentang Tuhan menjadi mengenal kehadiranNya lewat kejernihan dan keheningan.
Kehidupan nyata bukanlah sebuah esai yang harus kita selesaikan dengan argumen yang kuat. Kehidupan adalah rangkaian momen yang perlu kita rasakan dengan hati yang bersih. Ketika kita terlalu sibuk memformulasikan agama atau konsep ketuhanan menjadi sebuah komposisi yang rumit, kita sering kali kehilangan momen sederhana untuk mencintai sesama atau sekadar mensyukuri napas yang kita hirup selagi hidup.
Keheningan bukan berarti pelarian dari realitas, melainkan cara kita menyelaraskan detak jantung kita dengan irama semesta yang agung. Di dalam keheningan yang tulus, tidak ada lagi kertas hitam atau udara yang sesak oleh kajian yang penuh perdebatan. Yang ada hanyalah kedamaian yang luas dan pemahaman yang mendalam.
Puasa adalah momen untuk diam dan menyingkir dari hiruk pikuk pikiran dan hati. Kita cukup duduk dalam diam tanpa gawai, tanpa buku, dan tanpa menyusun kalimat doa atau tata cara ritual yang rumit. Kita cukup merasakan napas dan membiarkan pikiran dan hati kita beristirahat dalam keheningan yang jujur. Kita hanya perlu merasakan bahwa dalam diam itu, kita sedang bertemu, berbicara dengan Sang Guru Kehidupan melalui cara yang paling murni. Kita sedang menulis tentang Tuhan dengan tinta keheningan. ***

Leave a comment