Seekor ikan berenang gelisah di kedalaman samudra. Ia kelihatan bingung. Lalu ia berhenti sejenak untuk bertanya pada karang, “Di mana gerangan letak samudra yang agung itu?” Karang hanya diam membatu. Ikan bingung itu pun berenang lagi untuk melanjutkan pencariannya.
Mungkin kita akan tertawa melihatnya, menganggap si ikan sedang melucu atau mungkin otaknya sedikit konslet karena tekanan air. Namun, jika kita menilik cermin hari ini, bukankah wajah ikan yang linglung itu adalah wajah kita sendiri? Kita sering galau ketika menghadapi persoalan hidup. Kita sering merasa seperti ditinggalkan Tuhan. Bedanya, kita adalah ikan yang mengaku punya agama sehingga selalu sibuk berenang ke sana ke mari untuk mencari jawaban atas persoalan hidup.
Kita sering kali menjadi pengembara yang sibuk mengetuk pintu langit, membawa proposal doa yang panjang, dan mengenakan atribut kesalehan yang mentereng hanya untuk mencari sosok yang kita sebut Tuhan. Kita merasa sudah paling dekat dengan Tuhan hanya karena dahi yang menghitam atau jubah yang menyapu debu jalanan. Lalu dengan baju yang menutup rapat aurat dan dagu terangkat, kita memandang rendah mereka yang dianggap “tak bertuhan”. Kita mudah menghakimi hanya karena tidak sealiran, tidak seragam bajunya, tidak menjalankan ritualnya, atau dianggap “salah” menjalani ibadahnya. Lucunya, kita merasa sedang memegang senter kebenaran padahal kita sedang berdiri di tengah siang bolong. Jalan seterang itu tetap dianggap gelap karena mata kita sendiri tertutup rapat oleh kabut kesombongan rohani.
Bagaimana mungkin seseorang bisa membantu kita menemukan Tuhan dan surgaNya, jika kita sendiri bertingkah seperti ikan yang mencari air di tengah samudra? Masalahnya bukan pada ketiadaan Tuhan, melainkan pada ego yang terlalu besar sehingga menutupi dan membutakan mata kita. Kita terjebak dalam ritual yang kering, memuja tata cara tapi melupakan esensi. Menghapalkan tapi lupa mengamalkan ajaran. Kita merasa telah menemukan Dia di dalam rumah ibadah yang megah, namun gagal melihatNya pada mata anak jalanan yang kelaparan atau pada guratan daun yang gugur ditiup angin. Kita buta untuk orang yang menangis karena terganggu suara doa kita. Kita tak punya hati saat melihat tetangga yang kesusahan. Kita tak rela tangan kita najis karena memegang jemari orang miskin dan hina. Hati dijaga agar kelihatan suci, tapi mulut memaki.
Menemukan Tuhan seringkali bukanlah perjalanan menuju tempat baru, melainkan cara pandang yang baru. Menemukan Tuhan bukan berarti berpindah dari satu petak tanah ke petak tanah yang lebih “suci”. Ini adalah tentang menyadari bahwa kita tidak pernah sedetik pun terpisah dariNya. Mereka yang merasa paling suci sering kali justru menjadi yang paling buta. Mereka terlalu sibuk memoles topeng religiusitasnya hingga lupa bahwa Tuhan tidak butuh panggung dan pujian nyaring. Dia adalah napas yang kita hirup, detak yang kita abaikan. Dialah samudera yang memeluk kita tanpa henti.
Dia tak pernah bersembunyi. Dia hadir dalam berbagai bentuk ciptaan, manusia, hewan, tumbuhan. Dia menunggu disapa, bukan lewat kata, tapi lewat rasa yang dipenuhi segala sifatNya yang agung dan penuh lebaikan. Tuhan hadir dalam setiap cinta, pengampunan, perhatian tulus.
Mulai sekarang, mari kita berhenti menjadi ikan linglung. Mari kita berhenti mencari-Tuhan seolah Dia sedang bersembunyi di balik awan. Dia ada di sini, di kedalaman keheningan. Dia setia menunggu sampai ego dan rasa sok suci kita luruh. Hanya dalam rasa yang hening kita bisa melihat bahwa selama ini kita tidak pernah tenggelam karena kita sedang berenang di dalam cinta dan keagunganNya. Mari kita jadi ikan sederhana yang sadar bahwa kita sedang berenang dalam lautan cintaNya.***

Leave a comment