Inspiration

BEKERJA DENGAN BAHAGIA

Sebagian besar orang akan mengamini bahwa bekerja itu tidak selamanya menyenangkan. Apalagi kalau apa yang dikerjakan itu tidak sesuai dengan minat atau keahliannya. Tapi, rasa senang dan bahagia itu kadang juga bisa dipaksakan untuk tumbuh dengan alasan dan sudut pandang selain minat. 

Saya terinspirasi perjuangan Helen Keller, seorang penyandang disabilitas yang memperjuangkan hak kaum disabilitas untuk mendapatkan pendidikan layak dan pengakuan publik. Meski dia buta dan tuli dia menghasilkan 14 buku dan berhasil memengaruhi pengambil kebijakan untuk memberikan pendidikan, hak pekerja, hak suara pada perempuan. Ia punya motto dalam hidupnya, “Berbahagialah dengan apa yang Anda punyai sambil mengerjakan apa yang Anda inginkan.”

Beberapa waktu lalu, saya kebetulan bertemu sahabat lama yang telah menjadi seorang camat di sebuah wilayah pinggiran di Yogyakarta. Bekerja di wilayah kering dan terpinggir bukan berarti membuat pemikiran dan gagasannya tersingkir. Bekerja bersama orang-orang terbuang tidak membuat dirinya tersisih. ia justru mendorong anak buahnya untuk bekerja dengan bahagia. Persis seperti Helen Keller, kekurangan tidak boleh menghalangi orang untuk bahagia dalam pekerjaannya. 

“Kalau dituruti, pekerjaan di kantor tidak akan ada habisnya. Tapi ada waktu ketika saya harus mengajak anak buah untuk tetap bahagia dalam bekerja,” kata sahabat saya. Maka, setiap hari, ketika anak buahnya mulai suntuk bekerja, ia mengajak mereka untuk beristirahat dan bermain pingpong bersama meski di siang bolong. Alhasil, anak buahnya bahagia. Dalam suasana santai, segala ketegangan bisa dilepaskan. Dan terbukti, setelah kebiasaan yang membuat bahagia itu diterapkan, anak buahnya pun semakin produktif. Pola pikirnya pun semakin konstruktif. Hasilnya, ia pelan-pelan dapat mengubah daerah minus dan tandus menjadi daerah plus yang bisa maju. Pola pikir masyarakat pun lambat laun bisa berubah dan mau diajak maju. 

Sayangnya, di banyak tempat fakta menunjukkan kebalikan dari prinsip Helen Keller. Para pemimpin tidak bahagia dengan yang mereka punya, sehingga mereka terus mencari dan bahkan mencuri demi apa yang mereka inginkan. Bukan untuk rakyatnya, tapi untuk keuntungan dirinya sendiri. Inilah awal sebuah kepemimpinan yang tragis. 

Saya selalu ingat kata-kata Steve Jobs, sang aktor di balik kesuksesan nama besar Apple. “Satu-satunya cara untuk menghasilkan pekerjaan yang hebat adalah dengan mencintai apa yang Anda kerjakan,” katanya. Kerjakan apa yang Anda cintai, dan cintailah apa yang Anda kerjakan. Ini yang selalu ditekankan. 

Camat sahabat saya tadi sudah membuktikannya, meskipun belum selevel Steve Jobs. Hasil kerjanya sudah dirasakan banyak orang. Semua berawal dari pola pikir bahagia dengan apa yang harus ia kerjakan. Ia mencintai amanahnya sebagai seorang pemimpin. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk rakyatnya. Dia tidak butuh validasi dan pengakuan. Melihat rakyatnya sudah bisa beternak lele atau bertanam padi organik di lahan tandus sudah cukup membuatnya bahagia sebagai seorang pemimpin. 

Saya meyakini bahwa kebahagiaan itu bukan mendadak tercipta. Kebahagiaan dalam pekerjaan itu tercipta dari aksi atau tindakan yang kita lakukan. Kebahagiaan hanya datang kalau apa yang kita pikirkan, kita katakan, dan kita lakukan sudah selaras. Masalahnya, kita kadang tidak bahagia dalam bekerja karena memang ada yang tidak selaras dengan pikiran, perkataan, dan perbuatan. 

Kisah kepemimpinan sahabat saya sangat menginspirasi saya agar tetap bahagia dalam bekerja, sepahit dan sesakit apa pun pekerjaannya. Kebahagiaan bukan ditentukan oleh wujud pekerjaan atau tanggung jawab yang kita pikul. Yang membuat kita bahagia atau menderita adalah pilihan hati kita sendiri untuk mencintai dan mengerjakan pekerjaan kita dengan cinta. Hanya itu. 

Saya masih punya harapan bahwa Indonesia akan bisa maju ketika para pemimpin kita bahagia dan mencintai pekerjaan serta tanggung jawabnya. Sayangnya, rakyat tidak bahagia karena pemimpinnya sibuk mencintai jabatannya, tapi lupa pekerjaannya. Mereka tidak mencintai apa yang dipunya karena tidak tahu apa yang harus dikerjakannya. Seandainya saja seorang camat  model sahabat saya itu boleh memimpin negeri ini, rakyat Indonesia pasti bahagia. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑