Sering kita mendengar perumpamaan tentang pohon di tengah badai. Pohon yang tampak perkasa, menantang angin dengan dahan-dahannya yang keras, toh bisa kalah oleh badai. Ketika angin menderu terlalu kencang, dahan-dahannya yang kaku justru patah. Sementara, pohon yang lebih kecil, atau bahkan ilalang, atau rerumputan, meskipun pendek dan tak berarti, ia lebih kuat menahan angin dan badai. Ia tidak melawan, ia merunduk, dan ketika badai usai, ia tetap berdiri utuh, bahkan tampak lebih segar.
Banyak orang kadang bersikap seperti perumpamaan pohon itu. Ada yang kelihatannya hebat, mentereng, jabatan tinggi, dihormati, dengan pengaruh yang kuat, nyatanya bisa terjungkal dan kehilangan kuasa dan hartanya. Sebaliknya, orang yang biasa-biasa saja, tak punya kuasa dan jabatan, justru lebih kuat menghadapi cobaan hidup yang datang silih berganti. Inilah kenyataan hidup.
Sering kali, ambisi dan optimisme yang kita miliki bekerja seperti dahan pohon besar tersebut. Kita merasa begitu tinggi, begitu yakin dengan rencana kita, hingga tanpa sadar kita membangun dahan keras yang penuh kecongkakan. Kecongkakan adalah awal dari langkah yang goyah. Sikap tinggi hati bisa membutakan kita dari angin dan badai atau lubang di depan jalan yang akhirnya membawa pada kejatuhan.
Kalau kita sombong, kita tidak akan memiliki ruang untuk menjadi bijaksana. Bahkan orang bijak mengatakan bahwa kesombongan itu seperti kerajaan tanpa ada mahkota. Tidak ada yang benar-benar dibanggakan dari sikap sombong dan congkak.
Lebih baik bersikap rendah hati dalam kehidupan. Rendah hati bukan berarti rendah diri. Rendah hati adalah sikap untuk berani meletakkan kesombongan sambil tetap menjaga martabat kita sendiri. Dalam kitab suci selalu dikatakan, barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan yang merendahkan diri akan ditinggikan.
Kita sering salah mengartikan kerendahan hati sebagai sebuah kelemahan atau kepasrahan yang tak berdaya. Padahal, ada pepatah yang mengatakan, “Kerendahan hati menuntun pada kekuatan, bukan kelemahan. Mengakui kesalahan dan melakukan perubahan atas kesalahan adalah bentuk penghormatan tertinggi pada diri sendiri.”
Saat kita berani mengakui bahwa kita salah, kita sebenarnya sedang melepaskan beban berat yang selama ini kita panggul untuk menjaga gengsi atau merasa tinggi. Mengakui kesalahan bukanlah tanda bahwa kita kecil; itu adalah bukti bahwa kita memiliki jiwa yang besar untuk terus bertumbuh. Itulah penghormatan tertinggi bagi diri kita sendiri. Kita telah memberikan kesempatan bagi diri untuk menjadi versi yang lebih baik, bukan versi yang selalu benar dan selalu tinggi
Dunia yang penuh gengsi dan kepalsuan di tengah maraknya media sosial hari ini telah menjadi lahan subur untuk menjadi congkak, sombong, dan tinggi hati. Tetapi, di dunia yang menuntut kita untuk selalu tampak sempurna, memilih untuk rendah hati adalah sebuah tindakan revolusioner. Kalau dalam dunia intelijen, peran yang sederhana itu sering menjadi peran paling aman. Tapi peran kecil itu justru sering memiliki pandangan terbesar. Boleh dikata, rendah hati butuh nyali. Ibarat pohon, kerendahan hati seperti akar yang masuk ke dalam tanah, tidak terlihat, namun dialah yang memastikan pohon itu tidak roboh saat badai datang.
Optimisme tanpa kerendahan hati adalah kesombongan yang tertunda. Namun, optimisme yang dibalut dengan kesadaran dan kerendahan hati akan melahirkan ketangguhan yang sejati. Kita menjadi lebih peka terhadap masukan, lebih terbuka pada perubahan, dan lebih selaras dengan lingkungan di sekitar kita.
Mari kita terus melangkah, bukan dengan kepala yang mendongak terlalu tinggi hingga lupa berpijak, melainkan dengan kerendahan hati untuk menerima setiap pembelajaran hidup. “Kalau Anda rendah hati, tak satu pun yang akan menyentuh Anda. Pujian atau cacian pun tak akan mempengaruhi Anda, karena Anda tahu siapa Anda sebenarnya,” kata Ibu Teresa. ***

Leave a comment