BELAJAR MENEMUKAN KEBENARAN ALA SEMUT
Kasus penipuan pengelola pernikahan (wedding organizer/WO) oleh Ayu Puspita Dewi sungguh membuat miris. Saya menonton kisah para pengantin yang harus menanggung malu di hari istimewa ketika tidak ada makanan pada saat resepsi. Padahal para pengantin sudah membayar biaya pernikahan yang bernilai puluhan hingga ratusan juta.
Kerugian material hingga miliaran rupiah sudah pasti. Puluhan pasang pengantin harus menanggung malu terhadap para tamu undangan. Para vendor gedung, catering, dekorasi pun tertipu. Yang tak terlupakan adalah trauma, rasa malu, kecewa, dan sakit hati yang takkan terlupakan. Saya menyaksikannya pun tak tega ketika para pengantin itu mengutarakan kepedihan hatinya justru di hari yang seharusnya membahagiakan.
Mereka rata-rata tergiur oleh kredibilitas WO yang menawarkan harga promo dan tawaran menarik lainnya. Beberapa pengantin mengakui hal itu. Promo bulan madu gratis, tambahan paket makan gratis, dan bonus-bonus lain telah menjadi magnet bagi para calon pengantin. Padahal itu modus yang dipakai Ayu Puspita untuk menjaring korbannya. Jahat sekali orang ini. Kini polisi sudah menerima lebih dari 200 aduan, meskipun ini tak akan mengembalikan kerugian immaterial yang ditanggung para korban.
Melihat peristiwa ini kita perlu belajar dari semut, binatang kecil yang sering kita anggap mengganggu, menjijikkan, menyebalkan. Padahal kalau diamati, semut punya karakter yang unik selain sebagai binatang pekerja yang ulet. Kita pernah melihat semut yang sedang mencari makanan atau merubung gula sekalipun dibungkus rapat dengan bungkus yang jelek dan tidak menarik. Mereka tidak pernah tertipu oleh tampilan, karena mereka memiliki indera penciuman yang kuat dan feromon yang membantu mereka menemukan gula atau sumber makanan.
Tapi, bagaimana dengan kita? Kita sering kali tertipu oleh tampilan, rasa, atau nama. Kita membuat penilaian dan penghakiman berdasarkan apa yang kita lihat, tanpa pernah mencoba untuk memahami kebenaran sesungguhnya. Ketika kita melihat semut seekor di atas makanan atau minuman kita, apa reaksi kita? Kita langsung jijik dan tidak jadi makan atau minum, karena kita tertipu oleh tampilan semut yang tidak sedap dipandang. Kita langsung hilang selera, tanpa pernah mau mencicipi makanan atau minuman itu. Toh satu ekor semut tak akan membuat kita mati.
Semut adalah contoh yang baik bagi kita untuk belajar dari mereka. Sekalipun kita menyimpan gula di sebuah stoples, lalu kita tulisi “Garam” dan kita bungkus dengan kertas jelek, semut tetap berhasil mengendusnya. Mereka tidak pernah tertipu oleh tampilan, karena mereka memiliki indera penciuman yang kuat dan feromon yang membantu mereka menemukan gula. Gula itulah kebenaran. Mereka tidak membuat penilaian dan penghakiman berdasarkan apa yang mereka lihat, tapi mereka mencoba untuk memahami kebenaran sesungguhnya.
Tak heran kalau dalam dunia teknologi, logika semut memberi inspirasi pada para ilmuwan. Mereka meniru cara semut menemukan jalur terbaik dengan feromon dan kerja tim. Koloni semut selalu menemukan solusi optimal. Ilmuwan komputer mengadopsi logika semut untuk membuat algoritma Optimasi Koloni Semut (Ant Colony Optimization) untuk urusan jaringan, logistik, rute, dan robotika.
Sementara dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat belajar dari semut untuk tidak mudah tertipu oleh tampilan. Kita dapat mencoba untuk memahami kebenaran sesungguhnya, bukan hanya berdasarkan apa yang kita lihat. Kita harus bisa mengendus dengan mata hati, logika, pikiran yang jernih untuk menemukan kebenaran. Kita manusia yang jauh lebih pintar dari semut. Tapi inilah saatnya untuk menunduk dan mau belajar dari semut yang tak pernah salah dalam mencari gula. ***

Sangat inspiratif
LikeLike