Inspiration

SAAT WASIT MENGHITUNG SATU SAMPAI SEPULUH

Pernah suatu kali saya menonton pertandingan anak perempuan saya bertanding di arena laga taekwondo. Meskipun sering mendapat medali, tak jarang juga dia harus menelan kekalahan telak. Tapi itulah hakikat sebuah pertandingan. Harus ada yang kalah dan menang. Kalau menang terus atlet akan jadi sombong dan tidak pernah mengalami rasa jatuh dan kalah. Kalau kalah terus, apa gunanya atlet berlatih jika tidak ada kemajuan berarti.

Lengkap sudah pengalaman anak saya. Saya teringat saat di awal-awal ia bertanding di sebuah turnamen terbuka. Ia masuk arena dengan gagah dan percaya diri. Namun fakta berkata lain. Kurangnya latihan, fisik yang tidak prima, dan sikapnya yang meremehkan akhirnya berbuah sebanding. Ia kalah telak. Muka dan kepalanya dihujani tendangan. Bahkan sampai bibirnya berdarah, pipinya pun tergores kuku kaki lawannya.

Ia menangis saat itu. Bukan karena kekalahan telak, tapi karena egonya, harga dirinya, yang terkoyak. Ia harus terkapar beberapa saat. Wasit pertandingan pun segera menghampiri dan menghitung satu sampai sepuluh. Untunglah di angka tujuh ia segera bangkit untuk meneruskan pertandingan. 

Hidup saya bayangkan seperti arena pertandingan tinju, bela diri, atau gulat. Kekalahan bukan karena kita jatuh terjerembap. Kita dianggap kalah ketika kita tidak sanggup bangkit dan melanjutkan pertandingan saat wasit memberi waktu 10 detik dengan hitungan satu sampai sepuluh. 

Saya yakin Anda pun selalu punya pengalaman menang dan kalah. Menang itu ketika Anda mendapatkan apa yang Anda idamkan, entah harta, entah cinta, entah kebahagiaan jiwa, anak, sekolah, karir pekerjaan, dan sebagainya. Ketika Anda berada di puncak atau ketika segala impian Anda terkabul, itulah kemenangan yang patut Anda syukuri. Itulah saat Anda meraih medali, entah perunggu, perak, atau emas. Hidup yang penuh syukur sejatinya adalah saat menghitung raihan medali-medali kehidupan. 

Tapi hidup selalu punya dua sisi. Tak mungkin Anda merasa menang terus. Ada saatnya Anda merasa kalah, terpuruk, dan bahkan terjerembap. Banyak penyebabnya. Bisa saja kekalahan itu bersumber dari diri sendiri karena merasa kehilangan, tersakit, dikecewakan, ditinggalkan, difitnah, yang membuat hidup Anda seolah hancur. Atau bisa juga kekalahan itu disebabkan oleh faktor eksternal yang berada di luar kendali Anda. Misalnya kebijakan lembaga yang membuat karir atau usaha kita ambruk, tekanan atau persekusi dari pihak lain, kelah dalam persaingan, dan sebagainya. 

Kekalahan dan kemenangan adalah dualitas hidup yang harus kita pahami. Persoalannya adalah bagaimana kita menyikapi dua hal tersebut. Kalau menang terus, jangan lantas jumawa dan pongah. Kalau kalah dan terpuruk, jangan pula terus ambruk tak mau bangun.

Bayangkan saja kita berada di arena pertandingan. Tuhan berdiri sebagai wasit. Saat kita jatuh terpukul, itu belum tentu menjadi kekalahan telak bagi kita. Dia selalu memberi kesempatan. Dia akan menghitung dari satu sampai tak terhingga. Masalahnya adalah kita terlena. Kita keenakan dengan hitungan yang banyak itu tanpa pernah mau bangkit, karena kita merasa terus diberi kesempatan. Kita sibuk mengasihani diri saat jatuh. Kita seolah jadi korban, playing victim. Itulah yang membuat kita tak pernah mau bangkit. 

Mari kita belajar dari para petarung di arena tanding. Kalau jatuh, ia belum tentu kalah. Ada kesempatan 10 detik saat Sang Wasit menghitung satu sampai sepuluh. Ada kesempatan untuk bangkit dan mempertahankan harga diri dengan bertarung lagi. Jangan lewat dari hitungan kesepuluh. Kalau tidak, kita akan kalah telak. Lawan dan penonton akan bertepuk tangan melihat kita kalah. Anda mau seperti itu? ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑