Inspirasi

KEBEBASAN BUKAN LISENSI UNTUK BERBUAT SALAH 

Pernahkah kita merasa terbebani oleh kesalahan di masa lalu? Seolah-olah setiap langkah yang salah itu adalah rantai yang mengikat, mencegah kita bergerak maju. Dulu, mungkin kita berpikir, “Kalau saja aku tidak melakukan kesalahan itu, hidupku pasti lebih baik.” Atau, mungkin ada suara kecil di kepala yang berbisik, “Aku bebas melakukan apa saja, jadi wajar kalau aku salah. Namanya juga manusia.” Tapi, apakah benar demikian?

Seringkali, kita menyalahartikan makna kebebasan. Kita berpikir kebebasan itu berarti punya lisensi untuk bertindak semau kita. Seolah-olah, kebebasan itu seperti kartu bebas dari penjara. Padahal yang lepas dan bebas dari penjara banyak yang tidak sembuh, tapi malah merayakan kebebasannya dengan tindakan kriminal lagi. Kebebasan seolah bisa dipakai untuk menghindari konsekuensi atau bahkan membuat kesalahan lagi tanpa perlu khawatir. Namun, cara pandang ini justru bisa menjerumuskan kita.

Kebebasan itu ibarat kompas. Bayangkan sebuah kapal yang berlayar di samudra luas. Kapten kapal punya kebebasan penuh untuk menentukan arah, memilih rute demi menghindari badai. Kebebasan itu bukan berarti sang kapten boleh menabrakkan kapalnya ke karang atau membiarkannya hanyut tanpa tujuan. Sebaliknya, kebebasan sang kapten adalah kesempatan untuk menggunakan pengetahuannya, memperbaiki setiap kesalahan navigasi, dan memastikan kapalnya sampai tujuan dengan selamat.

Begitu pula dengan hidup kita. Kebebasan yang kita miliki bukanlah izin untuk terus-menerus terjerumus dalam lubang yang sama. Kebebasan itu adalah kompas yang memandu kita, memberi kita kekuatan untuk mengubah arah saat kita menyadari telah melangkah salah. Kebebasan menjadi kesempatan emas untuk belajar, tumbuh, dan menjadi versi diri yang lebih baik.

Lihat saja kisah-kisah sukses di sekitar kita. Berapa banyak dari mereka yang mencapai puncak setelah berkali-kali jatuh dan membuat kesalahan? Ambil contoh Elon Musk. Dia bukan hanya sekali dua kali menghadapi kegagalan besar dalam proyek-proyeknya. Ada roket yang meledak, ada mobil listrik yang dihujat. Tapi, apakah dia berhenti dan berkata, “Aku sudah melakukan kesalahan, ini akhir segalanya”? Tentu tidak. Dengan kebebasan yang dia miliki, dia justru menggunakan setiap kegagalan sebagai pelajaran berharga, memperbaikinya, dan meluncurkan inovasi yang mengubah dunia. 

Kebebasan bukan tentang menghindari kesalahan sama sekali, karena itu mustahil. Manusia pasti berbuat salah. Intinya adalah bagaimana kita merespons kesalahan tersebut. Apakah kita membiarkan diri terpuruk dan terpenjara olehnya? Atau, kita menggunakan kebebasan yang kita miliki untuk bangkit, mengevaluasi, memperbaiki, dan melangkah lagi dengan kepala tegak? Nelson Mandela pernah mengatakan bahwa uang tidak akan menciptakan kesuksesan. Tapi, kebebasanlah yang akan membuat orang sukses.

Kebebasan yang sesungguhnya adalah kekuatan untuk mengatakan, “Oke, aku salah. Tapi aku punya kesempatan untuk memperbaikinya.” Ini adalah keberanian untuk mengakui kelemahan, mengambil tanggung jawab, dan kemudian, dengan penuh keyakinan, meniti jalan yang baru, yang lebih baik. Jadi, mari kita gunakan kebebasan kita bukan untuk sekadar “berbuat”, melainkan untuk memperbaiki dan bertumbuh.

Kunci dari kebahagiaan adalah kebebasan, dan kunci dari kebebasan adalah keberanian. Jadi kalau ingin bahagia kita harus berani menggunakan kebebasan itu sebagai kesempatan untuk menjadi lebih baik. Ini yang pernah dikatakan oleh Albert Camus, seorang filsuf dan pengarang Prancis. ***

Foto dari https://businessdoctors.co.uk/the-road-to-personal-freedom/

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑