TERIMA KASIH, SELAMAT JALAN
Apa yang saya tulis Ini adalah masalah etika terkait ungkapan terima kasih yang saya rasakan secara pribadi. Dulu kita selalu diajari untuk mengucapkan atau membalas ucapan terima kasih dari sejak kecil agar kita punya adab dan tata krama saat membangun relasi sosial. Ini urusan mudah, karena hubungannya dengan manusia lain. Tapi kalau membalas ucapan terima kasih pada mesin, apakah perlu atau tidak? Ini jadi pilihan pribadi yang kedengarannya konyol.
Dulu saya sering sewot karena harus ikut antrean untuk keluar dari areal parkiran di sebuah pusat perbelanjaan. Antrenya seolah dibuat lambat sehingga butuh waktu lama untuk sampai ke pintu keluarnya. Akibatnya tarif yang seharusnya pas sesuai perhitungan waktu jadi dihitung tambah sesuai kelebihan jam saat antre parkir. Ini pasti dibuat dengan sengaja agar sistemnya seolah lemot sehingga bisa mendongkrak biaya parkir. Makanya kalau mendengar suara mesin, “Terima kasih, selamat jalan”, saya selalu menjawab spontan, “Diem lo, berisik!”
Lama kelamaan, saya berpikir bahwa kewarasan saya mulai terganggu kalau reaksi saya terhadap mesin seperti itu terus. Sekarang saya memutuskan untuk bersikap baik hati pada mesin secure parking itu. Saya sekarang akan menjawab ucapan itu dengan mengatakan, “Sama-sama, terima kasih,” Saya ngeloyor pergi dengan tersenyum sendiri. Agak gila? Sedikit. Tapi rasanya lega bisa senyum-senyum sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, betapa sering kita mengucapkan kata ‘terima kasih’ itu seperti mesin secure parking yang otomatis ketika ada orang menempelkan atau tapping tiket. Kata itu kita ucapkan secara spontan tanpa ada rasa lagi. Semua serba otomatis. Kalau diberi sesuatu atau pertolongan dari pihak lain, kita spontan dan otomatis akan mengucapkan kata terima kasih.
Padahal, kata “terima kasih” sebenarnya punya kekuatan dahsyat dalam hukum semesta. Ketika diucapkan secara asal, “terima kasih” hanyalah dua kata pemanis bibir agar kita tidak dicap sebagai orang tak tahu terima kasih. Tidak ada rasa yang tulus yang menyertai dua kata itu saat terucap. Kalaupun ada, rasa tulusnya hanya beberapa detik saja.
Kita tahu apa yang kita rasakan ketika mengucapkan “Terima kasih” tanpa perasaan. Kita pasti tidak merasakan apa pun. Dan kita juga tahu seperti apa rasanya ketika seseorang mengucapkan “Terima kasih” dengan sepenuh hati atau sekedar basa-basi. Kata-katanya tetap sama, tetapi ketika ditambahkan perasaan syukur, kita dapat segera merasakan efek energi itu.
Terima kasih! Terima kasih! Terima kasih! Kata orang bijak, kedua kata ini bila diembusi perasaan yang kuat, bisa meningkatkan hidup kita menjadi lebih dari apa yang bisa kita bayangkan. Tetapi syaratnya kita harus mengisi penuh kata-kata itu dengan perasaan syukur dalam hati.
Rasa itu memperkuat getaran energi. Energi yang dikumandangkan oleh perasaan memiliki getaran sangat kuat. Getaran perasaan inilah yang terkirim ke semesta dan akan dipantulkan kembali kepada kita sama persis. Pakar spiritual mengatakan kalau rasa adalah pembuka gerbang semesta. Doa yang benar adalah menggetarkan energi melalui perasaan, bukan menggetarkan bibir untuk mengucapkan doa. Karena itu, tidak heran kalau rasa penuh syukur juga bisa menjadi pembuka harta karun semesta yang akan memberi kita kelimpahan demi kelimpahan.
Mulai sekarang cobalah memraktikkan ucapan terima kasih dengan perasaan tulus. Anda boleh melatihnya dengan mesin secure parking yang otomatis, atau dengan orang lain, dengan binatang, tumbuhan, atau ciptaan lainnya. Yakinkah bahwa saat kita menyisipkan perasaan ke dalam kata “Terima kasih”, kita sedang memberi sayap kepada kata-kata itu untuk terbang dan pada saatnya ia akan kembali membawa keberkahan dan kelimpahan kepada kita. ***

Leave a comment