TUHAN YANG HUMORIS DAN TIDAK NARSIS
Benarkah Tuhan itu humoris, tidak narsis, tidak suka disembah?
Saya tersenyum melihat sebuah konten yang unik, berani, dan otentik di sebuah medsos beberapa saat lalu. Pasalnya, pemilik akun TikTok, @harjantohalim, itu dengan gayanya yang santai sedang mengisahkan bahwa dirinya punya Tuhan menurut versi dirinya.
Menurut pemilik akun tersebut, Tuhan itu adalah sosok orang yang baik, yang humoris, tidak narsis, tidak suka disembah. Tuhan itu sosok yang santai sekalipun kita tidak menyembah, tidak berdoa, tidak pergi ke rumah ibadah. “Yang penting hidupmu bahagia, bermanfaat bagi orang lain, sering berbuat kebaikan, menjunjung tinggi kemanusiaan. Aku tidak perlu diingat-ingat atau disembah,” kira-kira gambaran jawaban Tuhan demikian.
Tuhan yang humoris, tidak narsis, santai, tidak baperan, tidak suka kecewa menurut versi orang itu sah-sah saja. Setiap orang punya Tuhan versinya sendiri. Toh gambaran Tuhan sebenarnya abstrak untuk menggambarkan sosok perkasa dan maha segalanya. Ia mengibaratkan kalau setiap orang punya Bapak sendiri yang berbeda. Jadi sah-sah saja kalau ia menafsir versi Tuhan yang berbeda-beda yang membuatnya nyaman. Saya justru menakar kedewasaan spiritual pemilik akun itu sudah matang. Artinya ia sudah berada di luar identitas agama tertentu.
Semua punya versi Tuhan sendiri. Tafsir dan pemahaman Tuhan versi pribadi menurut saya sah-sah saja sejauh itu memang membuat orang menjadi baik, berbuat baik, menghargai dan menghormati orang lain, membuat hidup lebih bahagia dan penuh cinta. Sejatinya agama itu untuk mengontrol nafsu pribadi, bukan untuk mengritik dan menghakimi orang lain. Dalai Lama pernah mengatakan bahwa kita bisa saja hidup tanpa agama. Tapi kita tidak bisa hidup tanpa kasih sayang antarumat manusia. Agama yang sejati adalah tuntunan bagi orang untuk memiliki hati yang baik dan penuh cinta pada semua makhluk dan ciptaan.
Pemaksaan dan penghakiman atas klaim Tuhan tertentu sesuai agama tertentu justru merusak dan menghancurkan nilai ketuhanan dan sifat-sifat Tuhan yang diyakininya. Pemaksaan versi pemahaman Tuhan atas nama dogma agama menjadi sumber perpecahan. Bahkan boleh dibilang agama yang berisi tuntunan tentang keutamaan dan kemanusiaan telah berubah menjadi mesin pembunuh manusia yang paling efektif. Semua bisa dijustifikasi, dibenarkan, dan dikukuhkan oleh ajaran agama yang sejatinya hanya membungkus nafsu pribadi untuk menguasai dan menundukkan.
Agama yang memiliki rentetan dogma menjadi senjata berdaya ledak tinggi yang siap digunakan sewaktu-waktu. Amunisinya adalah pemaksaan, sikap intoleran, fanatisme sempit, keyakinan buta dan radikal tanpa akal sehat. Buktinya nyata ketika kita disuguhi arogansi dan kekerasan atas nama agama di berbagai belahan dunia, tidak hanya di Indonesia saja. Kesalehan dan keimanan religius hanya menjadi selubung suci di balik pedang dan peluru untuk membinasakan dan menyingkirkan orang lain dan makhluk lain yang tidak sejalan dengan keyakinannya.
Coba kalau semua orang hidup damai dengan Tuhan versinya sendiri yang membuat hidup bahagia, tetap berbuat baik, tetap punya rasa welas asih pada kemanusiaan. Coba kalau setiap orang sadar bahwa ada roh dan sifat-sifat ketuhanan yang selalu ada dalam diri manusia, manusia tidak akan saling membunuh atas nama agama. Sayang nafsu manusia mengalahkan dan mengingkari roh dan sifat Tuhan dalam dirinya. Kejahatan manusia itu, menurut saya, terjadi karena salah pencitraan tentang Tuhannya.
Kata-kata pemimpin spiritual dari Tibet, Dalai Lama, akhirnya menemukan kebenarannya. Agama itu sederhana. Tidak perlu rumah ibadah. Tidak perlu filsafat dan teologi yang rumit. “Karena sesungguhnya hati dan pikiranku adalah tempat ibadah. Filsafatku adalah kebaikan,” katanya. ***
Foto dari https://www.christianity.com/wiki/god/does-god-have-a-sense-of-humor.html

Yaah seperti inilah Tuhan yang saya bayangkan . Tulisan ini sangat inspiratif bagi saya atau siapapun yg berpikiran terbuka.👍
LikeLiked by 1 person
Sederhana, yang dikisahkan berarti memproyeksikan tuhan sperti objek pembahasan. Menarik, hanya saja pendekatan yang digunakan agak kaku
LikeLike