MENCARI HIKMAH, JANGAN MARAH
Belakangan ini ada beberapa sahabat yang berkeluh kesah dengan persoalan hidup yang sedang mereka hadapi. Saya tahu mereka orang-orang baik, minimal kalau dilihat dari gaya dan kualitas hidup yang telah dilakoninya selama puluhan tahun. Tapi kehidupan baik ternyata tak menjamin bahwa hidup yang dijalaninya tanpa halangan. Selalu saja ada persoalan pelik yang harus dihadapinya.
Ada yang saking baik hatinya ia rela membantu sahabatnya sendiri tanpa berpikir telah ditipu sampai milyaran rupiah. Uang hasil keringat dan darah yang ditabungnya selama beberapa tahun amblas digunakan orang yang sudah dianggap saudaranya sendiri. Ketika dikejar selalu menghindar. Ketika diancam dengan jalur hukum, barulah oknum itu mengiba-iba dan akan menunjukkan itikad baiknya. Tapi dasar penjahat, semua itu hanya omong kosong. Sahabat saya akhirnya merasa frustrasi mengejar apa yang menjadi haknya.
“Dengan duit dua milyar itu aku seharusnya bisa berbuat baik, menolong banyak orang yang memerlukan. Aku rela kalau duitku hilang untuk berbuat kebaikan. Tapi aku tidak rela kalau hanya dimakan oleh penipu seperti orang itu,” kata sahabat saya berapi-api penuh penyesalan dan amarah.
Sahabat yang lain juga berkeluh kesah karena pekerjaannya yang membuatnya tersiksa. Sebagai pengajar dan dosen di sebuah universitas ternama, itu tidak membuatnya bahagia. Segala kemampuan dan gelarnya ternyata tidak dihargai secara maksimal oleh lembaganya tersebut. Belum lagi ia harus menempuh perjalanan jauh menuju tempat kerjanya. Hal ini terasa karena ia habis terkena sakit yang agak parah yang membuat kemampuan fisiknya sedikit menurun. Uang bukan segalanya kalau ternyata hal itu tidak membuatnya bahagia dengan pekerjaannya.
Masih ada lagi orang yang berkeluh kesah tentang bagaimana ia merasa dizalimi oleh penguasa, padahal selama ini yang dilakukannya hampir tidak pernah melanggar aturan. Ia meratapi mengapa selalu ada orang-orang jahat yang dibiarkan untuk menyengsarakan orang lain yang relatif lebih baik.
Tentu kita masing-masing pun punya persoalan hidup sendiri yang mungkin sedang dihadapi. Rasanya hidup tidak adil, tidak sebanding. Kita merasa telah melakukan segala hal yang baik yang sesuai norma, tapi tetap disusahkan oleh halangan yang dibuat oleh orang lain. Orang lain itu bahkan tidak jauh, tapi dari lingkaran dekat. Bisa dari keluarga, saudara, sahabat, atasan, dan sebagainya.
Dalam situasi semacam itu memang sangat manusiawi kalau akhirnya kita kadang mengeluh tentang ketidakadilan yang kita alami. Tapi perlu kita renungkan lebih dalam dari hukum alam semesta. Alam selalu menyediakan terangnya mentari siang sekaligus gelapnya malam yang akan menghapus siang. Alam tidak akan terus menerus meliputi awan gelap karena akan ada angin yang menggantinya dengan awan biru cerah. Selalu ada dualitas dalam setiap realitas yang kita alami. Demikian pun kebaikan tidak akan selalu berjalan sendirian selamanya. Selalu di sampingnya ada kejahatan yang siap menggantikannya. Orang atau apa pun ciptaan tidak akan selalu sehat dan dalam kondisi prima. Selalu akan ada saat sakit yang akan memberi jeda pada yang sehat.
Menurut saya, biarkan dualitas kehidupan itu berjalan beriringan. Justru permasalahan sering muncul karena kita sering mempertanyakan mengapa itu terjadi pada kita. Bertanya mengapa atau mencari penyebab kadang malah memperkeruh suasana. Mungkin lebih baik kita mempertanyakan pada diri sendiri, apa yang akan diajarkan oleh peristiwa ini dalam hidup kita. Apa hikmah di balik ini semua? Mengubah mindset kita rasanya lebih bijak, meskipun tidak mudah, daripada selalu mempertanyakan mengapa itu terjadi.
Kita bisa belajar dari laut. Laut yang selalu tenang tidak akan membuat para pelaut menjadi pelaut yang mahir dan andal. Kehidupan pun tidak selalu berarti berlayar dengan mulus. Selalu akan ada ombak dan badai yang harus dihadapi. Yang penting jangan terlalu lama meratapi masalah, ombak dan badai yang menimpa kita. Terlalu lama meratapi dan mempertanyakan akan membuat kita tenggelam. Kita harus segera mencari solusi dan hikmah, agar kita menjadi pelaut yang andal di tengah lautan kehidupan.***

Leave a comment