Beberapa waktu lalu seorang tukang soto langganan mengeluh bahwa omsetnya turun seiring dengan suhu politik yang mulai meningkat di tahun politik. Kesimpulannya tidak asal, karena ia sudah berdagang soto lama dan mengalami beberapa kali pemilu. Trennya selalu mirip, omset turun ketika masa menjelang pemilu.
Pedagang lain juga mengeluh karena harga bahan pokok merangkak naik. Harga cabai yang tak masuk akal juga jadi bagian dari keluhannya. Banyak orang di sektor informal mengeluhkan turunnya pendapatan dan beratnya kehidupan jaman sekarang. Memang kita paham bahwa berat atau tidaknya hidup tergantung dari cara kita memandang dan menjalani. Tapi kondisi itu kadang membuat orang menjadi pesimis yang kalau dibiarkan akan menjadi kehilangan harapan untuk bertahan hidup.
Berbicara soal harapan, saya tertarik pada percobaan Curt Richter, profesor dari Universitas John Hopkins Amerika Serikat, yang melakukan percobaan psikologi dengan tikus pada 1950. Ia menggunakan beberapa tikus dan ember air. Dalam percobaan pertama, ia melepaskan beberapa tikus di air dan membiarkannya untuk berenang. Ternyata, tikus-tikus itu hanya bertahan 15 menit untuk mengapung, dan selanjutnya tenggelam.
Tikus-tikus yang kelelahan dan tenggelam itu lalu diambil, diselamatkan, dan diistirahatkan selama beberapa saat. Setelah kelihatan bugar kembali, Curt melakukan percobaan keduanya. Ia kembali menaruh tikus-tikus yang berhasil diselamatkan tadi ke air. Apa yang terjadi? Apakah tikus-tikus tadi tenggelam, ataukah berusaha berenang? Berapa lama mereka bertahan, 5 menit atau 10 menit?
Hasilnya sungguh mengejutkan. Tikus-tikus pada percobaan kedua itu mampu bertahan untuk tetap mengapung selama 60 jam. Ya, selama 60 jam, atau 2,5 hari mereka berusaha untuk bertahan hidup. Dari percobaan itu Curt menyimpulkan bahwa tikus-tikus pada percobaan pertama tenggelam dalam 15 menit karena mereka putus asa dan merasa tidak ada yang menolong. Tapi, pada percobaan kedua, tikus-tikus itu bisa bertahan begitu lama karena mereka punya harapan untuk ditolong dan diselamatkan agar tidak tenggelam.
Pesan moral dari percobaan tersebut adalah bahwa harapan ternyata dapat membangkitkan semangat untuk berjuang dan bertahan hidup. Pengalaman sebelumnya bahwa tikus itu pernah diselamatkan memberi harapan untuk diselamatkan. Akibatnya, tikus-tikus itu berjuang keras agar tetap hidup dan tidak tenggelam. Ketahanannya jauh melampaui kemampuan mereka.
Membaca percobaan pada tahun 1950 ini membuat saya malu. Di jaman modern ini, atau 73 tahun kemudian, ternyata kita manusia banyak yang kalah dari tikus-tikus di jaman itu dalam hal perjuangan untuk bertahan hidup. Betapa banyak manusia di jaman sekarang mudah sekali patah arang, putus asa, kehilangan harapan. Akibatnya, banyak yang membiarkan diri tenggelam, mati, atau bahkan bunuh diri, karena kehilangan harapan.
Kalau kita jujur, kita pasti pernah mengalami situasi di mana kita hampir atau bahkan kehilangan harapan. Semua jalan rasanya buntu. Rasanya semua orang membuang muka saat kita memerlukan pertolongan. Rasanya kita sudah berteriak-teriak minta tolong, tapi tak ada yang menggubris. Kita dibiarkan menderita. Hidup terasa makin berat, dan akhirnya kita membiarkan diri tenggelam dalam keputusasaan.
Samuel Smiles, seorang pengarang Inggris, punya kata-kata yang indah soal harapan ini. “Harapan itu berkawan dengan kekuatan, dan merupakan ibu dari keberhasilan. Maka, barangsiapa punya harapan kuat, maka orang akan punya mujizat dalam dirinya,” begitu kira-kira. Persis seperti tikus dalam percobaan Curt tadi. Harapan memberikan kekuatan untuk tetap bertahan hidup.
Harapan, apapun wujud dan keyakinannya, ternyata punya kekuatan dahsyat, bahkan bisa menciptakan mujizat dan keajaiban hidup. Harapan dan kekuatan menjadi ibu dari keberhasilan. Pertanyaannya, maukah kita belajar untuk punya harapan seperti tikus tadi?***(Leo Wahyudi S)
Foto dari https://penmancy.com/a-drowning-rat/

trus bgmn kita bisa mengetahui bhwa kita ounya harapan nDul? Apakah dg self brain washing??
karna kadang kita bertanya, apakah kita ini sedang punya harapan atau tidak?
salam Mr.Be
LikeLike
kita sendiri tahu kok apakah sedang berharap atau tidak. self brainwashing bahasa positifnya adalah subconscious mind programming.. memogram ulang alam bawah sadar, Mase
LikeLike